PADANG – Sukacita terlihat ketika para pendamping Sekami mengikuti kegiatan Formasi Pendamping Sekami Keuskupan Padang (11–13/8), Lantai Dua Gedung Aula Seminari Menengah Maria Nirmala Keuskupan Padang. Kegiatan bertemakan “Bersahabat, Terlibat, dan Menjadi Berkat” ini diikuti 160 pendamping serta dihadiri Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia (Dirnas KKI), P. Markus Nur Widipranoto, Pr., dan pemateri Antonius Turmudi Hartono.

Kegiatan terdiri dari beberapa sesi materi, dinamika kelompok, gerak dan lagu, ibadat, dan misa bersama. Kegiatan diawali dengan Materi School of Missionary Animators (SOMA). Sesi lainnya terkait kreativitas dalam Bina Iman Sekami, menyusun bahan Sekami, praktik bahan ajar Sekami, serta pengenalan T-SOM (Teen School of Mission) bagi para pendamping. Lewat sesi dan materi yang diberikan, pendamping bisa membuat persiapan dalam setiap pertemuan mingguan dengan anak-anak Sekami, gerak dan lagu dengan kreativitas, memperkenalkan Injil dan tokoh-tokoh di dalam Kitab Suci, serta orang kudus (santo-santa).

Keakraban peserta sesama pendamping semakin terjalin lewat kegiatan ini. Peserta juga saling berbagi pengalaman yang bisa menguatkan pendamping lainnya. Saat mendapat pembekalan materi, secara tidak langsung, hal tersebut akan menguatkan rekan pendamping tatkala menghadapi berbagai tantangan di wilayahnya. Panitia menggelar malam kebersamaan (12/8) malam. Seluruh peserta menampilkan kebolehan atraksinya sekitar lima.

Peserta kegiatan berasal dari Kevikepan Riau (15 orang), Kevikepan Mentawai (6), dan Kevikepan Sumbarinci sebanyak 139 orang. Koordinator Tim Pelaksana, Theresia Endang mengatakan, “Awalnya, kegiatan hanya mencakup Kevikepan Sumbarinci, namun karena turut hadir Dirnas KKI, maka cakupannya diperluas menjadi tingkat keuskupan. Selain itu, kegiatan pembekalan untuk pendamping diprioritaskan pada pendamping baru, sehingga umur peserta pun dibatasi antara 19-45 tahun.”

Dihubungi terpisah, kepada GEMA, Dirdios KKI Keuskupan Padang, P. Alfonsus Widhiwiryawan, SX mengatakan, “Kegiatan ini berawal karena situasi anak-anak yang terbiasa dengan gadget, akibat Pandemi Covid yang telah berlalu. Anak-anak ini harus dibawa keluar dari kamarnya, berani berkumpul bersama, dan berpikir memberi serta membagi karunia Tuhan yang dimilikinya pada sesama anak dan remaja. Mereka membutuhkan pendampingan! Oleh karena itu, para pendamping dibekali dengan School of Missionary Animators (SOMA) agar menjadi animator-animator untuk bermisi. Anak dan remaja berani bermisi, keluar dari dirinya sendiri, tidak berpikir tentang diri sendiri namun juga orang lain serta Gereja, melihat dan merengkuh situasi yang dimiliki, serta berbagi dengan orang lain.”

Terkait kedatangannya dalam kegiatan ini, P. Nur mengatakan bahwa salah satu karya Biro Nasional KKI adalah pengembangan Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (Sekami). “Kegiatan Formasi Misioner untuk para pendamping iman anak ini adalah kesempatan untuk saling belajar mengelola diri, mengembangkan diri menjadi pendamping iman anak atau pendamping Sekami secara lebih optimal. Untuk pelayanan yang lebih baik di masing-masing paroki maupun stasi. Semoga, para pendamping semakin kreatif dan mencintai anak-anak, tulus dalam mendampingi, semakin bergairah, semakin baik di dalam pelayanan, pengembangan Sekami di setiap paroki maupun stasi di Keuskupan Padang ini,” kata P. Nur.
Terkait pendampingan Sekami ini, P. Nur menyampaikan bahwa menjadi pendamping adalah pilihan dan panggilan Tuhan.

“Pendamping bergerak berdasakan cinta kasih. Orang bergerak berdasarkan cinta dan kasih maka dia akan bisa lebih kreatif. Tantangan yang dirasakan adalah minimnya pendamping laki-laki. Di mana pun tempatnya, minimnya pendamping laki-laki menjadi keprihatinan. Saya tidak tahu persisnya kenapa laki-laki itu minim. Selain itu kadangkala unsur senioritas masih ada dalam pendampingan, sehingga tidak cukup terbuka menerima pendamping muda atau pemula terlibat. Pendamping senior merasa “bisa” dan “lebih baik”. Tantangan lainnya yakni adanya pendamping yang memanfaatkan wewenang kekuasaannya, misalnya ada pemaksaan terhadap anak dengan cara mengharuskan anak ikut kegiatan-kegiatan yang diadakan. Bila tidak ikut, nilainya akan dikurangi,” jelasnya.

Pendamping Butuh Pembekalan
Saat berkomunikasi dengan para pendamping Sekami dan berbagi cerita, P. Alfons mengungkapkan bahwa salah satu tantangan yang didapatnya adalah kebutuhan untuk pembekalan pendamping. “Mereka (para pendamping) ingin menjadi pendamping, tetapi tidak tahu caranya, banyak membutuhkan sarana dan prasarana; misalnya sound-system, dan regenerasi pendamping yang tidak berlangsung mulus,” ungkap P. Alfons.
Kegiatan ini mendapat tanggapan positif peserta. Pendamping Sekami Paroki St. Damian Saibi, Siberut Tengah, Sr. Natalia Munthe, KSFL bersyukur dan senang bisa mengikutinya. Sebagai suster yang baru sebulan pelayanan di Mentawai, ia menilai kegiatan ini sangat mendukung iman para pendamping Sekami. “Sebab, materi-materi yang disampaikan sangat bagus dan berkualitas. Bukan hanya dalam gerak dan lagu, tetapi penyampaian pastor dan pemateri lainnya sangat bagus, yakni cara agar anak-anak dapat berkembang imannya, bukan hanya dalam kesenangan, tetapi juga juga imannya pun semakin berkembang,” ujar Sr. Natalia.

Sementara itu, pendamping Sekami Paroki St. Ignatius Pasirpengaraian, Lanti Valentina menilai positif kegiatan ini. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat diadakan setiap tahunnya. “Tidak harus sekeuskupan, bisa juga sekevikepan atau separoki. karena menurutnya banyak pendamping-pendamping di stasi-stasi yang tidak mendapatkan kesempatan seperti ini. Kesempatan mengikut kegiatan ini adalah kesempatan yang luar biasa. Lewat kegiatan ini, saya mendapat teman-teman baru dari paroki lain. Pembekalan ini sangat bermanfaat untuk dibawa ke paroki. Semula, saya tidak tahu menyusun program materi pembelajaran atau pengajaran Sekolah Minggu. Lewat kegiatan ini, kami diajarkan dari awal langkah-langkahnya. Peserta juga diperkenalkan dengan lagu-lagu yang begitu kreatif, sehingga para pendamping memiliki gambaran kegiatan Sekolah Minggu yang akan dibuat dengan kreatif dan bahagia,” ucap Lanti. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *