BAGANBATU – “Kami sangat senang disambut meriah dan kita bisa bertumbuh bersama dalam momen ini, karena keluarga paling berharga. Kami berharap OMK sebagai generasi penerus terus bergerak, bangkit dan bergegas. Kegiatan Nonton Bareng (Nobar) ini tidak hanya sampai di sini, teman-teman akan melanjutkan nobar-nobar ini di paroki, stasi, atau kelompok kategorialnya,” ucap Leony, perwakilan Tim Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang setelah nobar, Sabtu (22/7).

Usai kegiatan Misa Kudus yang dipersembahkan Bapa Uskup, tim bersama dengan Panitia Kunjungan Bapa Uskup mengadakan kegiatan Nobar di Stasi St. Paulus Baganbatu. Kegiatan ini merupakan program rutin yang diadakan Komisi Kepemudaan. Umat terlihat antusias ikut nobar. Selain Bapa Uskup, Pastor Paroki Baganbatu P. Klitus da Gomez, Pr. serta Pastor Rekan (P. Ronal Sitanggang, Pr) ikut serta. Peserta Nobar dari Kelompok Kerahiman Ilahi, Orang Muda Katolik (OMK), Bina Iman Remaja (BIR), Punguan Ina Katolik (PIK), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), dan umat lain.

Pastor Rekan, P. Ronal Sitanggang, Pr., berharap lewat kegiatan nobar ini kelompok-kelompok yang ada berdaya guna untuk perkembangan pribadi serta untuk pelayanan kepada sesama dan demi memuliakan Tuhan. “Dengan sapaan, masukan, semangat dari Bapa Uskup dalam kegiatan ini, para anggota kelompok kategorial ini menjadi orang-orang yang siap diutus dalam Gereja maupun di luar gereja,” kata Pastor Ronal.

Film yang diputar berjudul Stand by Me (dengan judul asli Deok-Goo) karya sutradara Bang Soo-In yang rilis pertama kali pada 5 April 2018. Film yang bercerita tentang hari-hari terakhir seorang kakek dengan cucunya. Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun bernama Deok Gu yang ditinggalkan orang tuanya. Sang ayah meninggal karena kecelakaan dan Ibunya meninggalkan dia dan adiknya Deok Hee. Mereka akhirnya tingga bersama sang kakek di sebuah desa. Sang kakek merawat dan menjaga cucunya dengan sepenuh hati.

Leony dari Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang mengungkap, “Komkep telah menjadwalkan setiap sebulan sekali mengadakan nobar di setiap paroki di Keuskupan Padang. Diharapkan, lewat nobar, relasi warga OMK dengan Bapa Uskup semakin erat dan terjalin baik. Selain itu, terjalin erat hubungan sesama orang muda serta semakin erat relasi orang muda dengan kelompok kategorial di paroki.”

Untuk menambah antusias dan keakraban peserta, Tim Komkep mengisi kegiatan ini dengan gerak dan lagu. Juga, dibuka sesi diskusi usai penayangan film. Kesempatan ini tidak dilewatkan begitu saja oleh umat yang antusias memberikan tanggapan dan komentar atas film yang ditayangkan sebelumnya.

Di kesempatan nobar ini, Bapa Uskup Vitus Rubianto menyatakan bahwa situasi yang terjadi dalam film merupakan potret nyata kehidupan. “Sejauh apa pun jarak, tidak bisa memisahkan kerinduan orang-orang yang saling mencintai dan menyayangi untuk tinggal bersama. Pesan yang bisa dipetik adalah supaya kita tidak meninggalkan orangtua yang sudah lanjut usia (kakek-nenek) sendirian meski berat perjuangan menjalani kehidupan. Dalam film, kita melihat situasi sang kakek menghidupi cucu-cucunya. Anak-anak butuh pendampingan dan pembinaan dari orangtuanya,” ucap Uskup Vitus.

Potret kehidupan ini juga dirasakan umat. Salah satu ibu rumah tangga, Yanti, mengaku terharu menyaksikan tayangan tersebut. “Penyampaian pesannya sangat baik. Sebagai orangtua yang telah lanjut usia (Lansia) dan harus berjuang mendampingi sang cucu. Saat itu, situasinya adalah jarak jauh relasi antara anak dan menantu akibat beberapa persoalan. Ternyata, mendampingi anak-anak tidak cukup sekedar mengendong, mengasuh, dan menjemput dari sekolah. Pada film ini, orangtua memiliki kesadaran mendidik anak-anak sesuai dengan perkembangan dan perubahan zaman sehingga sesuatu yang menjadi kebutuhan anak-anak bisa terpenuhi. Sebagai orangtua, kami mengalami kesulitan, sebab tidak semua orangtua mau mengikuti dan memahami sifat anak generasi Z,” kata Yanti.

Lain lagi komentar Sum, salah satu umat Stasi Santo Paulus, terkesan dengan cara sang kakek mendidik cucu-cucunya. “Saya dibesarkan sejak kecil oleh kakek-nenek sehingga bisa merasakan situasi dan perasaan yang ada di dalam film tersebut. Dalam film, terlihat pembawaan kakek terkadang keras dan lembut mendidik cucunya. “Ada saatnya kakek mendidik dengan keras, lain waktu dengan kelembutan. Semua itu dilakukan karena sang kakek sangat sayang kepada kedua cucunya,” kata Sum.

Pendapat lain disampaikan Yesinta Siregar, OMK Paroki St. Maria Ratu Rosario. Menurutnya, OMK dan orangtua terkadang kurang komunikasi. “Ketika anak melakukan kesalahan, anak memiliki alasan tertentu. Hanya saja, banyak orangtua tidak mau tahu dengan alasan anak sehingga melakukan kesalahan. Orangtua cenderung menghakimi atau menghukum anak. Hal lain, saat orangtua melarang anaknya berbuat sesuatu, tentu ada alasannya. Akan tetapi, anak cenderung langsung memberontak dan tidak terima dengan kuputusan orangtuanya tersebut. “Kalau orangtua kita itu melakukan yang terbaik untuk kita. Sebagai seorang anak, harus mengerti maksud sikap dari orangtua. Begitupun sebaliknya, orangtua harus mengerti sikap dari anaknya,” Kata Yesinta. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *