Saya melalui masa kecil dan remaja di Stasi Sungaipisang, Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang. Selepas sekolah menengah atas (SMA), saya mendapat kesempatan kuliah di Sekolah Tinggi Pastoral (STP) “Dian Mandala” Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara. Pada dua tempat ini, saya mendapat kesempatan membandingkan situasi kondisi umat membaca kutipan Kitab Suci, bahkan mungkin juga membahas perikop-perikopnya.

Sesuai pengamatan saya, umat Katolik di Stasi Sungaipisang dan Gunungsitoli memiliki perbedaan dalam ‘mencintai’ atau memposisikan Kitab Suci dalam keluarga. Pertama, umat yang berada di Sungaipisang, boleh dikatakan mereka kurang membaca atau memberi waktu untuk mendengar Sabda Allah pada hari biasa. Kecuali hari Minggu. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan keluarga kita di Sungaipisang kurang dekat dan akrab dengan Kitab Suci. Beberapa umat tidak tahu membaca. Tidak perlu jauh-jauh mengamatinya, karena ada dalam keluarga dan sanak-famili saya sendiri.
Beda dengan di Gunungsitoli (Nias)! Khusus di area perkotaan, tempat saya berada sekarang dan berkuliah, terlihat dan tampak umat sangat mencintai Kitab Suci. Hal ini tampak dalam doa yang dilakukan oleh keluarga setiap pagi dan malam. Dan, dalam kegiatan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) mingguan. Artinya, keluarga di Nias memberikan waktu untuk mendengar Sabda Tuhan, baik lewat ibadat keluarga, KBG, dan misa mingguan.

Dalam kondisi seperti itu, saya sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya faktor penyebabnya tidak luput dari aspek pendidikan juga. Bagaimana umat kita yang ada di Sungaipisang membaca Kitab Suci, sementara kebanyakan dari mereka tidak tahu baca-tulis?! Namun, dalam praktiknya, keluarga-keluarga yang ada di Sungaipisang sangat menaati dan ‘melakukan’/melaksanaan Sabda Allah. Hal ini terlihat/tampak saat mereka selalu mengajak seluruh anggota keluarganya ke gereja setiap Minggu; baik di kalangan orangtua maupun anak-anak. Agak berbeda situasi dengan di Nias. Terlihat, hanya orang tua sajalah yang selalu hadir dalam kegiatan-kegiatan kerohanian; misalnya KBG dan ibadat lainnya.

Apa yang dapat dilakukan agar umat Stasi Sungaipisang dapat semakin ‘dekat’ dengan Kitab Suci? Pertama, dari segi penyadaran pentingnya Sabda Allah dalam hidup berkeluarga. Dalam konteks ‘tugas’ para petugas pastoral/katekis; maka satu solusinya adalah katekese. Dengan memberikan pemahaman kepada umat, memungkinkan umat semakin sadar mengenai pentingnya Sabda Allah.
Ada hal yang menarik dan ingin saya sampaikan, bahwa umat Katolik Sungaipisang selalu mengawali dan mengakhiri aktivitas dengan berdoa, walaupun tidak (bisa) membaca kutipan Kitab Suci. Bukannya umat di Sungaipisang tidak mau membaca, hanya saja kebanyakan orang tua dalam keluarga tersebut tidak bisa dan tidak tahu baca-tulis. Solusi berikutnya, sebaiknya di Sungaipisang dibentuk KBG, sebab bakal sangat membantu umat untuk mendengar dan menghayati Sabda Allah. Memang ada juga di antara keluarga atau umat Sungaipisang yang rutin setiap harinya membaca atau melakukan ibadat sabda dalam keluarga. Pada umumnya mereka tersebut adalah orang tua yang bisa baca-tulis.

(Teorinus Laia – Mahasiswa STP Dian Mandala Gunungsitoli,
Nias, Sumut asal Stasi Sungaipisang
Paroki St Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *