KESETIAAN DAN KETEKUNAN

HARI MINGGU BIASA XXVII (8 Oktober 2023)
Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9, 12, 13-14, 15-16, 19-20;
Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43

BACAAN-BACAAN hari Minggu ini berkisar seputar kesetiaan dan ketekunan. Allah yang digambarkan sebagai seorang yang mempunyai kebun anggur dan siap memperkerjakan orang-orang yang menggarapnya. Allah tentu mempunyai harapan ketika musim panen tiba, kebunnya menghasilkan anggur manis yang siap dinikmati. Namun yang terjadi di luar yang dihekendaki, anggur asam yang didapati. Para pekerja tega membunuh utusan-utusannya. Maka, sudah pantas dan layak jika pemilik kebun itu marah dan murka; dibabat habis kebun anggur itu dan para pekerja yang tidak tahu diri dibinasakan.


Bacaan pertama, Nabi Yesaya mengungkapkan hubungan Tuhan dengan umat-Nya juga melalui perumpamaan. Nabi Yesaya menggambar hubungan antara umat manusia dengan Allah seperti kekasih. Hati Nabi Yesaya telah menyatu dengan hati kekasihnya. Kekasihnya itu memiliki sebuah nyanyian berjudul: kebun anggur. Dalam lagunya, kekasih Yesaya itu menyebutkan, bahwa kebun anggur itu ditanami pokok anggur pilihan. Sang kekasih merawat dan menjaga kebunnya. Sang kekasih memenuhi segala keperluan kebunnya untuk menghasilkan buah anggur baik. Kekasih Yesaya juga telah menyiapkan tempat pengolahan anggur.

Nabi Yesaya menyelami dan memahami nyanyian kekasihnya, bahwa kebun anggur itu adalah umat Tuhan. Tuhan begitu mengasihi umat-Nya tetapi um mengasat selalu hidup dalam kedegilan.
Apa yang sesungguhnya Tuhan kehendaki atas hidup manusia? Allah rindu menemukan pekerja di kebun anggur yang setia dan tekun, yang mampu menghasilkan anggur manis. Allah menginginkan manusia menjadi pribadi yang setia dengan perutusan masing-masing. Allah pun sampai sekarang dan selamanya masih percaya kepada kita dan memberikan kesempatan untuk bekerja di kebun anggurnya.

Pertanyaannya: “Apakah kita menggunakan kesempatan itu?” Yang kerap terjadi, kita sering mencari-cari alasan ketika diminta untuk bekerja di kebun anggur itu. Ketika kita menolak untuk kegiatan pelayanan dengan berbagai alasan, saat itulah kita menghasilkan anggur asam bagi Tuhan. Talenta dan segala berkat yang kita terima hendaknya dibagikan kepada sesama melalui aneka bentuk kegiatan dan pelayanan sesuai kesanggupan. Karena dengan cara inilah kita menghasilkan anggur manis bagi Tuhan, meski pelayanan yang diberikan sangat kecil dan sederhana sekali. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *