Stasi Santa Maria Diangkat ke Surga Libo Jaya merupakan salah satu stasi yang ada di Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Kandis. Kini, terdapat 21 keluarga Katolik (atau berjumlah 75 orang). Kunjungan pastoral pastor ke stasi ini berlangsung satu hingga dua kali dalam sebulan.

Setiap minggu, kami mengadakan doa lingkungan dari rumah ke rumah umat. Pada malam Jumat. Saat itu, belum ada bangunan gereja seperti terlihat sekarang dan diresmikan Bapa Uskup Padang pada hari ini, 19 Agustus 2023. Sebenarnya, pada tahun 1999, di Desa Libo Jaya ini telah ada bangunan gereja dari denominasi Protestan. Namun, bagi umat Katolik setempat tidak mau beribadah di gereja Protestan. Saat itu, umat Katolik yang militan mengadakan pertemuan untuk berdoa bersama dari rumah ke rumah.

Pada tahun 2004, umat Katolik yang ada pada waktu itu mengadakan doa bersama di rumah salah satu rumah umat, yakni rumah Oppung N. Gultom. Tahun 2007, umat Katolik semakin bertambah di Libo Jaya. Tidak hanya berasal dari etnis Batak, saudara kita yang beragama Katolik dari Nusa Tenggara Timur (NTT) pun juga merantau dan hadir di sini. Akibat pertambahan jumlah umat, rumah Oppung N. Gultom yang biasa digunakan tidak sanggup lagi menampung umat Katolik untuk beribadah. Kala itu, Libo Jaya merupakan salah satu stasi dari Paroki Santo Yosef Duri. ‘Status’ yang sama juga daerah Kandis.

Dengan kondisi seperti ini, pengurus stasi membawa aspirasi dan suara umat kepada Pastor Paroki Duri. Lewat Pengurus Stasi Libo Jaya, umat Katolik menginginkan adanya tempat yang dapat digunakan untuk beribadah yang lebih layak dan mampu menampung pertambahan umat dari waktu ke waktu. Saat itu, P. Martinus Suparjiya, Pr sebagai Pastor Paroki St. Yosef Duri. Pengurus stasi menjadi ‘jembatan komunikasi’ umat dengan pastor paroki.

Aspirasi umat mendapat tanggapan positif dari parokus kala itu. Karena keterbatasan dana, kala itu, umat meminjam dana sebesar dua puluh juta Rupiah untuk membeli lahan – yang kini menjadi tempat gereja didirikan. Lahan berukuran 500 meter persegi (10 meter kali 50 meter). Pada tahun 2007, saat ada kunjungan Pastor Emilius Sakoikoi, Pr ke Stasi Libo Jaya, berlangsung peletakan batu pertama menandai mulainya pembangunan. Kala itu, paroki menyumbangkan 120 lembar atap seng. Singkat kata, bangunan gereja yang terbangun masih dalam bentuk sederhana dan kerap terkena genangan air banjir, karena posisi tanahnya lebih rendah daripada jalan di depan gereja.

Umat pun bahu-membahu untuk mencari cara agar dapat ‘menaikkan’ tanah gereja. Karena posisinya lebih rendah daripada tempat lainnya, sehingga sempat muncul gurauan dari pastor paroki kala itu (sudah terbentuk Paroki Kandis di tahun 2018), gereja Stasi Libo Jaya mirip ‘gereja katakombe’. Karena letak gereja, umat mesti ‘turun’ ke bawah. Dari kondisi tersebut, kami mengusulkan renovasi bangunan gereja. Ternyata, usulan kami mendapat tanggapan positif Pastor Paroki Kandis, P. Nikolaus Manurung, OFMCap.

Pada September 2021, dimulai penggalangan dana untuk pembangunan gereja Stasi Libo Jaya ini. Saat itu, berlangsung peletakan batu pertama oleh P. Nikolaus Manurung, OFMCap bersama dengan Dewan Pastoral Paroki (DPP), Pengurus Wilayah. Syukur kepada Tuhan, bahwa pada hari Sabtu, 19 Agustus 2023, Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin meresmikan dan memberkati bangunan gereja stasi ini. Saya bersukacita dengan momen istimewa ini. Kini, umat Stasi Libo Jaya telah memiliki bangunan gereja yang lebih layak. 

Umat pun bisa beribadah lebih khusuk. Saya berharap umat semakin kompak, rajin hidup menggerejanya, dan menjadi umat yang semakin beriman Katolik sejati. (diolah dari wawancara GEMA dengan H. Petrus Nainggolan, Ketua Stasi St. Maria Diangkat ke Surga Libo Jaya, Paroki St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus – Kandis, Provinsi Riau)/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *