Akibat daya tahan tubuh menurun, seseorang bisa terjangkit suatu penyakit dan menjadi sakit. Kurang istirahat, sedikit minum air, asupan gizi makan yang rendah, tidak memerhatikan lingkungan sekitar, dan sebagainya dapat menjadi pemicu seseorang sakit. Selain itu, sakit bisa disebabkan paparan virus maupun bakteri dSaya berpendapat bahwa Kitab Suci adalah pegangan hidup agar tidak mengalami kesesatan hidup. Bahkan, Kitab Suci bisa menjadi ‘senjata ampuh’ dalam segala perkara kehidupan manusia. Maka, umat beragama mestinya membaca kutipan Kitab Suci, apalagi banyak hal pengajaran yang didapat umat bersangkutan. Saya suka mengutip ‘ayat emas’ Kitab Suci agar mudah diingat, termasuk di masa krisis dan cobaan hidup yang berat. Membaca Alkitab bisa memulihkan seseorang.

Hanya saja, dalam praktik hidup, termasuk di pelosok-pelosok Kepulauan Mentawai, saya melihat pemanfaatan Kitab Suci masih sangat minim. Kitab Suci masih belum menjadi dasar hidup atau pegangan hidup. Bahkan, untuk membacanya saja sangat jarang. Tentu saja, pengajaran yang terdapat di dalamnya (Alkitab) tidak dipahami apalagi direnungkan. Mengapa? Karena umat jarang – bahkan tidak pernah – membacanya. Terkhusus di kampung saya, Sagulubek – pantai barat Kecamatan Siberut Barat Daya – umat lebih menyukai Alkitab berbahasa Indonesia ketimbang Bahasa Mentawai.

Hal ini saya dapati tatkala berlangsung acara sermon (semacam pertemuan membahas dan mengupas isi kutipan Kitab Suci, biasanya satu hari sebelum Perayaan Sabda. Di kampung, pada hari Sabtu malam – atau disebut Malam Minggu, saya menemukan kenyataan bahwa sebenarnya umat sangat merindukan adanya pembahasan atau kupasan tentang Kitab Suci. Umat setempat turut serta aktif mengambil bagian dalam sermon. Hanya saja, terlihat bahwa pemahaman tentang Alkitab dan isinya masih belum banyak dipahami umat.

Alkitab pun jarang dibaca dalam keluarga-keluarga. Bahkan, yang sangat memprihatinkan, banyak umat yang masih belum bisa membaca dengan lancar. Ada pula yang tidak bisa membaca sama sekali (iliterasi). Praktis, anak dalam keluarga tersebut juga tidak mengenal Alkitab, karena orangtuanya tidak menekankan penting adanya (buku) Alkitab – sebagai pegangan hidup – di setiap rumah tangga. Harga satu Alkitab dipandang mahal sehingga tidak terjangkau dimiliki, terutama umat yang berdomisili di pelosok jauh. Tidak banyak umat mampu membeli dan memiliki Kitab Suci. Selain tentang permasalahan kepemilikan buku suci tersebut, juga ketidakpahaman isi Alkitab.
Dari pengalaman saya, setidaknya di kampung halaman, banyak umat masih mengalami kesulitan memahami perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam kutipan Kitab Suci, serta praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Memang ada Kitab Suci milik stasi yang berada di tempat ketua stasi (baja’ gereja). Harus diakui, Kitab Suci (Alkitab) hanya digunakan pada waktu tertentu saja, misalnya tatkala persiapan Perayaan Sabda dalam kesempatan sermon; maupun dalam Perayaan Ekaristi yang dipersembahan pastor. Tidak ada pembahasan, kupasan isi kutipan Kitab Suci secara khusus dalam Kelompok Kitab Suci (KKS) misalnya. Di Sagulubek, tidak ada KKS. Di Muara Siberut, akhir-akhirnya digalakkan oleh kelompok perempuan yang tergabung dalam Wanita Katolik RI Cabang Muara Siberut, Siberut Selatan. Pertemuan KKS sebulan sekali berpindah tempat bergiliran.*** (sebagaimana dituturkan Yosia Andesman asal Stasi Sagulubek Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Siberut)/hrdari luar tubuh seseorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *