Jujur saja, saya tidak ingat persis: kapan waktu secara intens atau serius menekuni bacaan kutipan Kitab Suci (Alkitab)?! Hanya saja, yang jelas, dari waktu ke waktu, saya memang semakin intens membaca isi Alkitab, terutama sejak dipercaya sebagai Pelayan Komuni/Prodiakon Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru. Terus terang, saya merasa ‘haus’ firman Tuhan.
Selain membaca Kitab Suci, saya juga mendapat (kiriman) renungan harian dari berbagai buku rohani; misalnya Ziarah Batin. Juga, ikut dalam komunitas atau kelompok Kitab Suci (KKS) – saat itu dibimbing Pastor Florianus Sarno, Pr. Kala itu, Pastor Sarno juga adalah Pastor Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru.

Akses terhadap isi Kitab Suci juga terasa semakin mudah, apalagi di zaman now. Lewat gadget saya, hampir bisa kapan pun, setiap saat membuka dan membaca Renungan Harian. Begitupun dari berbagai grup WhatsApp (WAG), Facebook, dan sebagainya – sumber terpercaya; misalnya kalangan pastor, biarawan/biarawati. Membaca kutipan Kitab Suci setiap hari dan renungannya. Jujur, hal ini menambah pengetahuan dan keteguhan rohani diri saya.

Apa yang didapat dengan menggunakan, membahas, mengupas Kitab Suci dalam keluarga? Saya ingin menjawab, bahwa pembacaan Kitab Suci dimulai dari proses pembiasaan dalam keluarga. Bangun pagi, berdoa pagi, mendengarkan lagu rohani, saya membacakan kutipan Kitab Suci pada hari yang bersangkutan – beserta renungannya. Yang saya dapat dan kemudian dipilih dari berbagai grup media sosial (medsos). Lantas, yang didapat tersebut, saya bagi (share) juga ke WAG keluarga saya. Karena ada juga anak saya yang kuliah di luar Kota Pekanbaru. Selain itu, saya share juga kepada para sahabat.

Saya selalu mengatakan kepada anggota keluarga bahwa Kitab Suci menjadi ‘tuntunan’ kehidupan keluarga, sekaligus bukti cinta Allah kepada kami, menuntun langkah kami pada kehidupan yang dijanjikan Allah. Saya sangat bersyukur karena kami punya kesempatan untuk selalu membaca kutipan Kitab Suci dan renungannya, selalu berdoa. Anak pun sudah biasa berdevosi penuh pada Bunda Maria, terkhusus di bulan Mei dan Oktober. Anak-anak juga menjadi misdinar, terlibat Orang Muda Katolik (OMK) lingkungan, organis gereja. Semoga Tuhan menyertai kehidupan keluarga kami.

(Fransiskus Xaverius Danang Wisnu Darmono
Umat Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru
Pernah dua periode sebagai ketua lingkungan, wakil ketua Dewan Pastoral Paroki
Mantan Penasihat DPP. Sejak 2008,sebagai Pelayan Komuni/Prodiakon Paroki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *