Bila kita membaca dan mendalami sastra-sastra kebijaksanaan Israel yang terdapat dalam Kitab Suci, kita akan menemukan bahwa orang Israel itu sungguh peduli pada pengajaran kebijaksanaan dalam keluarga. Isi pengajarannya berupa etika tradisional, kemampuan teknis, dan keterampilan praktis.

Dalam keluarga, orangtua mendidik anak-anaknya dengan berbagai nasihat praktis (perintah dan larangan) agar mampu hidup dengan bijaksana dalam pergaulan sehari-hari. Selain itu, orangtua juga berkewajiban untuk mengajarkan berbagai keterampilan hidup pada anaknya supaya dapat mencari nafkah bagi keluarga dan juga dapat menjadi bekal untuk masa depan sang anak itu sendiri (Gerhard von Rad, 1972).

Dalam Kitab Suci, terdapat beberapa amsal yang memperlihatkan adanya pengajaran kebijaksanaan dalam lingkup keluarga, seperti nasihat dari seorang ayah kepada anaknya (Ams. 1:8; 2:1; 10:1), atau dari seorang ibu kepada anak (Ams. 31:1-2). Selain itu, terdapat juga beberapa ajaran yang menekankan hubungan antara orangtua dan anak-anak, instruksi moral terhadap anak muda serta tata cara hidup dalam keluarga.

Bertitik tolak dari pengajaran tentang pengetahuan praktis, pengajaran kebijaksanaan keluarga ini berkembang menjadi ajaran hidup yang bermoral dan beragama. Kebijaksanaan langsung dihubungkan dengan relasi yang tepat dengan Allah. “Permulaan hikmat adalah takut akan Allah” (Ams. 9:10) dan “Puncak kebijaksanaan adalah ketakutan akan Tuhan” (Sir. 1:18).

Bagi orang Israel, Taurat hadir sebagai sumber spiritualitas yang utama dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang Israel diwajibkan untuk belajar Taurat. Setiap keluarga Israel mempersiapkan anak-anaknya agar mampu menyadari betapa besarnya kasih Allah yang telah dikerjakan-Nya pada masa lampau dalam kehidupan mereka (YM. Seto Marsunu, 2013).

Kisah Kasih Allah
Pada zaman ini, keluarga-keluarga Katolik pun senantiasa dipanggil untuk menghidupi dan mewariskan ajaran tentang ajaran kebijaksanaan mulai dari keluarga. Dengan berpedoman pada Kitab Suci, orangtua bertanggungjawab untuk mendidik anak tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang beriman; bagaimana mengasihi Allah dan sesama. Sebagai buku iman, Kitab Suci harus menjadi sarana utama dalam pembinaan iman dalam keluarga.

Upaya menghidupi dan mewariskan kebijaksanaan dalam keluarga dapat dilakukan dengan menyediakan waktu untuk berkumpul dan mendengarkan kisah kasih Allah yang ada dalam Kitab Suci. Ada ungkapan yang mengatakan “Bila ingin melihat Allah, lihatlah Yesus! Bila ingin mengenal Yesus, bacalah Kitab Suci”. Keluarga adalah tempat yang ideal untuk mewariskan iman; keluarga adalah tempat yang tepat untuk memperkenalkan Yesus yang diimani kepada anak-anak; keluarga adalah tempat yang sesuai untuk mewariskan nilai-nilai kebijaksanaan kepada anak-anak.

Dalam pengalaman berpastoral selama ini, terlihat bahwa ternyata keluarga-keluarga kita masih kurang akrab dengan Kitab Suci. Kitab Suci seolah-oleh menjadi buku antik, sehingga jarang dibuka dan dibaca. Kitab Suci yang sesungguhnya memuat kisah kasih Allah menjadi jauh dari jangkauan anggota keluarga.
Dalam pertemuan doa di lingkungan pun demikian. Umat yang hadir sering sekali merasa sulit untuk ber-sharing (berbagi) pengalaman seturut terang Kitab Suci. Kita kadang lupa bahwa berbicara tentang Kitab Suci berarti kita sedang menceritakan pengalaman kita tentang betapa besarnya kasih Allah dalam kehidupan kita.
Bertepatan dengan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) ini, kita sebagai orangtua dipanggil untuk memaknai bulan ini dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci bersama dengan anggota keluarga kita; bersama komunitas; dan dalam lingkungan Gereja kita. Kisah kasih Allah yang sungguh besar itu harus mampu menjadi spirit dan semangat bagi kita dalam setiap karya dan pelayanan yang senantiasa kita perjuangkan. Belajar dari pengalaman keluarga-keluarga Israel, marilah kita jadikan Kitab Suci menjadi inspirasi akan kebijaksanaan Allah dalam kehidupan kita.

 

(Paskalis Riswanto Halawa, S.Fil.
Penyuluh Agama Katolik Ahli Pertama pada Kantor Kementerian Agama Kab. Kepulauan Mentawai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *