Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, bulan September dalam tradisi Gereja Katolik di Indonesia telah lama dirayakan sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Pada bulan istimewa ini umat Katolik Indonesia diajak untuk lebih giat dalam mendengarkan Sabda Tuhan dan lebih tekun mendalami Kitab Suci. Seluruh lapisan umat, mulai dari yang kecil sampai yang dewasa mau disapa dengan berbagai dinamika kegiatan yang terkait dengan Kitab Suci selama BKSN itu.

Lapar dan Haus akan Sabda Tuhan
Kardinal Yves Congar, seorang teolog besar dari Konsili Vatikan Kedua, pernah mengatakan: “Gereja yang kekeringan sudah kembali ke sumbernya, Sabda Allah. Fenomen yang menjamur dan merebak dimana-mana sekarang, umat beriman sesungguhnya lapar dan haus akan Sabda Allah.” Barangkali memang benar, ada satu bentuk kelaparan dan kehausan sedemikian di zaman modern kita ini, sebagaimana diungkapkan dalam ramalan nabi Amos: “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikian firman Tuhan Allah, Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman Tuhan” (Amos 8,11).
Dengan perayaan BKSN ini umat Katolik setiap kali disadarkan bahwa Kitab Suci adalah surat cinta dari Allah dalam bahasa umat manusia yang hidup sampai sekarang di zaman modern ini. Kitab Suci adalah sebuah undangan bagi manusia dari segala zaman dan segala tempat, untuk mengenali bagaimana Allah menyapa manusia dalam situasi kehidupan masing-masing. Peranan keluarga dalam pembinaan kesadaran ini sangat besar. Anak-anak yang berkembang dalam sikap kritisnya justru semakin mencintai Kitab Suci sebagai Sabda Tuhan, jika orangtua mereka juga tidak alergi pada pertanyaan-pertanyaan yang tujuannya bukan mau mempertanyakan iman saja, tetapi untuk semakin memahami keasliannya bersumber pada Sabda Tuhan.
Dalam Nasehat Apostolik tentang Sukacita Kasih, Para Bapa Sinode tentang Keluarga menegaskan bahwa “Sabda Allah adalah sumber hidup dan spiritualitas bagi keluarga. Seluruh karya pastoral keluarga harus memungkinkan orang-orang dibentuk secara batiniah dan dibina sebagai anggota Gereja keluarga melalui pembacaan Kitab Suci dalam semangat doa dan menggereja. Sabda Allah bukan hanya kabar baik dalam hidup pribadi seseorang, melainkan juga pedoman penilaian dan terang dalam menimbang-nimbang berbagai macam tantangan yang dihadapi suami-istri dan keluarga-keluarga. (Amoris Laetitia no.227).

Hikmat Alkitabiah itu Transformatif
Hikmat alkitabiah itu bukan sekedar pengetahuan, bukan soal intelektual saja. Tradisi orang Yahudi menempatkan hati sebagai tempat orang bijak mengambil keputusan, bukan kepala. Konsep hikmat ini lebih intuitif dan kreatif daripada sekedar pengetahuan informatif, bukan hapalan yang ditekankan tetapi perubahan dalam sikap dan tindakan, atau dalam bahasa kita yang lazim disebut “pertobatan.” Jadi bukan informasi saja, melainkan transformasi.
“Insight” (pencerahan, pemahaman) itulah yang kita cari, bukan hanya informasi (pengetahuan). Insight-nya sendiri baru matang bila diungkapkan dalam sharing, dengan membagikannya pada orang lain. Memang kita sering menghadapi orang dari berbagai macam latar belakang pendidikan, tetapi di hadapan Kitab Suci, semua sama, lebih-lebih kalau bicara tentang pengalaman pribadi, masing-masing adalah ahlinya. Barangkali pengajar Kitab Suci, baik itu pastor maupun guru atau pun pemimpin jemaat menganggap umat yang datang seperti “botol kosong” yang harus diisi saja dengan berbagai teori dan informasi, padahal pesan transformatif Sabda Tuhan itu justru harus mendarat, menyapa pengalaman pribadi pendengar. Umat yang mendengarkan Sabda Tuhan inilah yang harus berkonfrontasi dengan Sabda Tuhan, menghadapkan pengalamannya sendiri dengan Kabar Gembira Yesus Kristus.Pengala

Peran Hikmat Alkitabiah dalam Keluarga
Seperti Paulus, kita membutuhkan kepekaan yang sama untuk menangkap pengalaman perjumpaan umat dengan Sabda Tuhan itu. Kepada Timotius, Paulus mengatakan: “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2Timotius 3:15). Ayat di atas menegaskan bahwa Kitab Suci memberi hikmat dan menuntun orang kepada keselamatan tidak pandang usia. Atau lebih tepat dikatakan seperti ungkapan terkenal St. Paus Gregorius Agung yang kita peringati pada tanggal 3 September (pada bulan Kitab Suci): “Sabda Tuhan berkembang bersama orang yang membacanya!”
Membangun keluarga yang dapat mengekspresikan Allah yang adalah Keluarga Sejati, tidak mungkin terlepas dari peran Kitab Suci. Keluarga yang mengungkapkan kehadiran Allah, tentu berlimpah dalam hikmat serta rahmat keselamatan Kristus. Di sinilah Alkitab mendapatkan perannya yang sangat penting. Peranan Alkitab dalam kehidupan Timotius, sangat efektif. Mengapa demikian? Kita percaya bahwa salah satu sebabnya adalah karena neneknya, Lois dan ibunya, Eunike adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus ikhlas (2Timotius 1:5). Sejak masa kecilnya, Timotius sudah diperkenalkan dengan Kitab Suci. Keluarga Timotius adalah keluarga yang mencintai Alkitab. Keluarga yang mencintai Alkitab adalah keluarga yang bertumbuh didalam hikmat Kristus, dimana pada waktunya keluarga ini dapat mengekspresikan Allah. Tetapi kita lihat disini kuncinya bahwa baik nenek, ibu atau orang tua haruslah seorang yang beriman.

Bagaimana dengan keluarga-keluarga kita? Apakah para orang tua adalah orang-orang yang beriman dan mencintai Alkitab? Sudahkah anak-anak sejak masa kecilnya diperkenalkan dengan Alkitab? Suasana keluarga yang cinta akan Kitab Suci, harus diciptakan oleh para orang tua. Karena bapak keluarga berfungsi sebagai “imam” atau “guru” bagi keluarganya, maka kecintaan keluarga pada Alkitab menjadi tanggung jawabnya. Ini bukan berarti seorang bapak harus menjadi ahli teologi. Kitab Suci sendiri menunjukkan peran orang tua dalam pendidikan hikmat ini dengan seringnya muncul sapaan “anakku” di Kitab Amsal (1:8,10,15; 2:1; 3:1,11,21; 4:10, 20; 5:1,20; 6:1,3,20; 7:1; 19:27; 23:19,26; 24:13,21; 27:11). Memang “anak” dapat juga dipahami dalam arti perlambangan untuk menunjukkan hubungan antara guru dan murid. Seorang bapa harus memiliki sikap sedemikian sehingga ketika ia mendekati Alkitab, maka ia bertemu dengan Firman Yang Hidup itu.
Sikap yang benar dari seorang bapa terhadap Alkitab ini, akan menular pada seluruh anggota keluarga. Dengan demikian keluarga ini dibangun dalam hikmat Kristus, serta bertumbuh dalam keselamatanNya. Semoga dalam Bulan Kitab Suci ini banyak keluarga mendapat kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, dan dengan demikian juga lebih mendekatkan hubungan satu sama lain di dalam keluarga dan di dalam komunitas basis.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *