Karolus Alexander Wasek, ST. (49) mengaku senang melaksanakan pelayanan dalam Gereja apalagi mendapat dukungan dari umat. Dirinya aktif menggereja sejak tahun 2008, dari Pulau Jawa dan menetap di Paroki Baganbatu, Riau. Ia terpilih sebagai Bendahara Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki Santa Maria Ratu Rosario Baganbatu (2008-2011), Sekretaris DPP (2014-2017), Ketua Stasi St. Paulus Baganbatu – bersamaan sebagai Seksi Liturgi DPP (2017-2020).

Ia mengaku beruntung sempat ikut pertemuan Seksi Liturgi Keuskupan se-Regio Sumatera (2019). Alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarata (1999) ini mengaku beroleh banyak hal yang dipelajari dan didapatkan pada pertemuan tersebut, serta menerapkannya di paroki. Sementara itu, di lingkungan masyarakat, dirinya terpilih sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Kepenghuluan (BPKep) “Kepenghuluan Bagan Manunggal” Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir (2023-2029).

Sedari kecil, Karolus telah aktif menggereja dengan melihat keterlibatan orangtua menggereja. Dirinya dan saudara-saudara bersekolah di lingkungan Katolik hingga perguruan tinggi. Ketika kuliah, Karolus ikut kelompok Paduan Suara Vocalista Sonora Yogyakarta. “Di tempat ini, saya belajar banyak teknik vokal dan notasi not. Visi kami adalah ketika keluar dari Vocalista Sonora, di mana pun berada, kita harus bisa membantu pengembangan musik liturgi,” ujarnya bersemangat.

Suami Fransiska Fitriana Sukesi, S.Pd. (46) pernah mengajar di SD dan SMP Swasta Yosef Arnoldi Baganbatu (2000-2002). Namun, dirinya tidak mendapat kepuasan mengajar. Ia memilih untuk mundur. Koordinator Wilayah Sekolah Swasta Yosef Arnoldi kala itu, almarhum Damianus Satu, BA berpesan kepadanya saat mundur, “Anda mau ke mana? Jika pulang ke Flores mau buat apa di sana? Tetap tinggallah di sini! Anda bisa melaksanakan visi dalam mengembangkan Gereja.” Atas ucapan tersebut, saat itu, Karolus merasa terpukul. Namun, apalah daya surat pengunduran diri sudah dilayangkan. Akhirnya, Karolus merantau ke Surabaya, bekerja di salah satu pabrik.

Pada 2008, ia kembali ke Baganbatu untuk membuka usaha serabutan. Ia lebih aktif menggereja, menggerakan dan melatih paduan suara di paroki dan stasi-stasi, maupun koor di luar Gereja Katolik. “Motivasi saya melatih paduan suara adalah membagikan bakat untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Selama menjadi pengurus DPP Baganbatu, saya mesti mampu menyesuaikan diri, karena latar budaya umat yang berbeda. Di sini terdapat berbagai macam suku. Saya punya moto sekali Katolik tetap Katolik! Sebab itu, pada tiap pertemuan, saya ingatkan agar tetap menjaga toleransi. Kepada keluarga Katolik, selalu saya pesankan bahwa Gereja Katolik yang benar harus Satu, Kudus, dan Apostolik! Kepada kaum muda, saya berpesan agar mencari harta yang tidak bisa dimakan ngengat, yaitu Kerajaan Allah! Jangan jual agama hanya karena cinta dan jabatan, ungkapnya mengakhiri. (ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *