“Teu pasigelai simakolou!” (artinya, belajarlah yang rajin, supaya kamu jadi seorang imam seperti teman-teman kakek yang menjadi pastor). Itulah pesan sang kakek yang selalu diingat Yohanes Palencius Sabolotok (19). Yohanes, panggilan akrabnya adalah anak ke-3 dari tujuh bersaudara pasangan Goita Sabolotok dan Sikgoebbuk Sapolaga.

OMK Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Siberut – Mentawai ini merupakan calon Tunas Xaverian yang memulai formasi awal di Yogyakarta (2023). Almarhum kakek merupakan sosok yang menguatkan benih panggilan dalam dirinya. Remaja kelahiran Dusun Bolotok (Siberut Barat Daya) 30 Oktober 2003 ini berkisah ketertarikan dirinya menjadi imam Xaverian. Saat kelas IV di SD Negeri 11 Pasakiat Taileleu, tatkala Yohanes sering diminta kakeknya sebagai lektor di Gereja Stasi St. Tarsisius, Bolotok.

Pangilan itu sempat meredup saat masuk SMP. Dirinya ingin menjadi guru Bahasa Inggris. Ia tidak mengingat lagi motivasi menjadi misionaris. Saat itu, kakek mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia (2015). Yohanes tidak lagi tinggal di rumah kakek. Setamat SMP Negeri 1 Siberut Barat Daya, ia masuk SMA Negeri 1 Siberut Barat Daya. Cita-citanya pun berubah: ingin menjadi pimpinan bank yang mahir manajemen keuangan.

Setamat SMA, ia bekerja selama satu tahun di bangunan yang memiliki sarang walet. Saat itu, dirinya tinggal bersama seorang Muslim. Ia ‘digoda’ pindah keyakinan namun diabaikannya. Suatu ketika, P. Anton Wahyudi, SX mengajaknya live-in ke rumah umat mengikuti perjalanan pastor (19 Juli 2022 – April 2023). Ia direncanakan akan dikuliahkan sebagai guru agama (katekis). “Saat live-in ini, panggilan sebagai seorang misionaris semakin kuat. Pada November 2022, saya berbicara serius dan menyampaikan keinginan menjadi misionaris Xaverian kepada Pastor Anton,” ucap Yohanes. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *