Pada wilayah stasi layanan saya, sering kami lakukan yakni: (1) berkumpul bersama, berdoa dan membaca Kitab Suci, (2) mengambil satu ayat atau kalimat yang sungguh menyentuh hati umat dan sharing bersama, (3) mewajibkan setiap keluarga Katolik membaca satu ayat Kitab Suci saat makan malam bersama atau menjelang istirahat malam, (4) mengadakan lomba cerdas cermat Kitab Suci bagi siswa-siswi Katolik tingkat SD-SMA.

Atas empat upaya tersebut, reaksi umat terlihat cukup antusias untuk membaca Kitab Suci. Pada umumnya, mereka sungguh senang dengan adanya ‘pembacaan’ Kitab Suci. Memang, terkadang harus terus diingatkan untuk membaca. Saya melayani umat di Stasi Sikabau, Stasi AWB, dan Stasi Sungairumbai. Ketiga stasi ini terletak dalam Paroki Santa Barbara Sawahlunto. Jujur, pada tiga daerah layanan ini, tidak ada Kelompok Kitab Suci (KKS).

Saya sampaikan juga bahwa tidak semua bisa dan berkelanjutan/kontinu membaca Kitab Suci, terutama di Stasi AWB, umatnya mayoritas dari etnis Nias yang tidak mengecap pendidikan; sehingga tidak bisa membaca. Di sini, pada tiga stasi, rata-rata setiap umat Katolik hampir mempunyai Alkitab. Tak luput dari upaya tegas saya serta mewajibkan siswa Katolik untuk memiliki Kitab Suci. Selain itu, aktivitas pembacaan Kitab Suci tidak hanya fokus pada Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) – Bulan September. Saya mewajibkan setiap umat Katolik di tiga stasi untuk membaca satu atau dua ayat Alkitab saat makan bersama atau menjelang istirahat malam. Tidak sebatas ada BKSN, namun terus-menerus saya wajibkan umat untuk membaca kutipan Kitab Suci setiap malam.

Memang ada persoalan terkait ‘kepemilikan’ Kitab Suci, terutama dialami umat yang berdomisili di pelosok jauh. Pada umumnya tidak mempunyai Kitab Suci. Selain itu, adakalanya: (1) umat mempunyai Alkitab tetapi tidak membacanya, (2) Kitab Suci bagi sebagian kalangan adalah sesuatu yang hambar dan kadang dianggap tidak berguna, (3) bagi umat yang mempunyai telepon pintar (smartphone) lebih suka menggunakan ‘Kitab Suci elektronik’.
Diakui, sempat terdengar dan terungkap bahwa Alkitab sebagai sesuatu yang ‘hambar’ dan kadang tak berguna! Hal tersebut tak luput dari kesibukan aktivitas harian umat ke ladang kelapa sawit selama satu hingga dua bulan. Selain itu, terkadang, umat semacam itu hanya sebatas mendengar isi Kitab Suci saat Perayaan Sabda maupun Perayaan Ekaristi. Juga, memang benar, saya mewajibkan/mengharuskan pembacaan harian Kitab Suci. Hal tersebut tidak luput dari keyakinan saya bahwa Alkitab wajib untuk dibaca. Makanya, saya mewajibkan umat, termasuk para siswa-siswi, untuk membaca kutipan Kitab Suci. Tentu saja, hal tersebut dapat dikaitkan dengan tuntutan guna memperoleh nilai praktik Kitab Suci bagi pelajar.

Mengapa? Saya menganggap upaya pemilikan dan pembacaan Kitab Suci seharusnya dimulai saat Bina Iman Anak (BIA), Bina Iman Remaja (BIR), dan Orang Muda Katolik (OMK). Di tangan merekalah ‘masa depan’ Gereja! Okelah, mungkin, di kalangan orangtua ‘lalai’ untuk membaca Kitab Suci. Sebab itu, (yang dapat dilakukan/diupayakan) saya mewajibkan anak dalam keluarga Katolik untuk memiliki dan membaca kutipan Kitab Suci.

Sudah memperhitungkan kemungkinan adanya penolakan dari pelajar maupun umat? Boleh dikatakan, hingga kini, tidak ada ‘perlawanan’. Hanya saja, ada kata atau kalimat, “Saya sdh tua! Saya sibuk ke ladang. Saya tidak tahu membaca.” Itulah yang sering saya dengar. Saya mewajibkan pelajar Katolik memiliki dan membaca kutipan Kitab Suci sejak bertugas sebagai Guru Agama Katolik di Kabupaten Dharmasraya. Penugasan saya pada tahun 2009. Pelaksanaannya, kewajiban siswa memiliki dan menggunakan Alkitab, pada tahun 2012. Saya pastikan, setiap anak sekolah pasti mempunyai Alkitab Deutrokanonika! Kitab Suci tidak hanya ‘dimanfaatkan’ dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional/BKSN, namun setiap hari wajib dibaca. Mungkin bagi sebagian kalangan menganggap upaya/langkah mewajibkan ini tergolong keras. Saat peserta didik masuk kelas I, saya sudah mengingatkan orangtuanya untuk membeli Alkitab. Juga, wajib bagi orangtua mendampingi anak untuk membacakan satu atau dua ayat yang penting bagi anak sebelum tidur malam maupun makan malam. *** (diolah dari hasil wawancara dengan Aloysius Gonzales Leu, S.Ag. – Penyuluh Agama Katolik dan Guru Agama Katolik di Kabupaten Dhamasraya Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *