Paroki St. Paulus Pekanbaru berusaha menerapkan tata liturgi yang baru dengan cara melatih dan memberi katekese liturgi kepada umat yang ada di Kring, Stasi dan Paroki. Untuk pelatihan, kami melatih umat dalam gereja sebelum Perayaan Ekaristi dimulai. Kadangkala, petugas dan umat masih terbawa dengan tata liturgi yang lama. Padahal, banyak perubahan tentang pola lagu, dialog umat dengan imam, dan juga antusiasme umat di dalam tata gerak lagu-lagu, dari Ritus Pembuka hingga selesai.

Pengalaman suka duka saya lalui selama dua tahun di paroki ini. Hambatannya, saat melatih umat, ternyata tidak semua petugas liturgi (lektor, pemazmur, dirigen, organis), pengurus stasi maupun pelatih paham tentang tata liturgi, karena masih mengikuti pola tata liturgi lama. Tetapi, secara pribadi, saya tidak bosan berkatekese; misalnya pada saat perayaan ada yang keliru atau salah dalam perayaan. Selesai ibadah, sebelum bubar, kita bersama mengevaluasi bagian-bagian yang keliru atau salah. Maka, dari evaluasi tersebut, kita melatih dan memberi dukungan hingga bisa. Bisa terjadi, ada dirigen paham lagu tetapi tidak tahu nada lagunya. Tidak semua umat paham notasi not. Akibatnya, kita terpaksa langsung melatih lirik atau kata-kata lagu.

Sementara itu, untuk stasi-stasi, dalam setiap ada kunjungan, saya bersama pastor berkatekese tentang tata liturgi yang baru. Juga, sebelum Perayaan Ekaristi berlangsung, saya mau memastikan umat memahami tata lagu dan gerak. Sebab itu, tatkala ada kunjungan ke stasi dan kring, kami berkatekese praktis sekitar pembahasan iman Katolik, tata ibadah, pola nada lagu, dialog bersama dan pemimpin ibadah; terutama sikap dalam Perayaan Ekaristi. Pada kesempatan ini, umat mendapat penjelasan tentang tata gerak; contohnya mengapa harus berdiri, duduk? Atau, simbol-simbol yang ada: tanda salib dan patung. Mengapa pada prosesi, umat menghadap salib. Dijelaskan tentang ‘keberadaan’ patung dalam gereja. Katekese semacam ini penting karena tidak semua umat memahaminya.

Begitupun dengan warna liturgi dalam Gereja Katolik. Punya makna simbolik dan ada penjelasan tertentu. Warna Putih melambangkan kemurnian, sukacita, dan kemuliaan, serta mengingatkan umat Katolik akan kebangkitan Kristus dan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian. Warna putih digunakan pada hari-hari raya besar, misalnya Natal dan Paskah, dan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus. Warna merah melambangkan Roh Kudus, darah Kristus yang dicurahkan untuk penebusan dosa umat manusia, dan pengorbanan-Nya yang sempurna. Warna merah digunakan pada hari-hari raya yang berkaitan dengan peristiwa penderitaan dan pengorbanan; contohnya Paskah Kudus, Pentakosta, dan Jumat Agung. Warna hijau melambangkan harapan, pertumbuhan, dan kehidupan baru dalam iman yang digunakan saat misa biasa atau masa pertumbuhan iman dan juga pemurnian yang diberikan melalui Sakramen Tobat dan Rekonsiliasi. Warna ungu melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesiapan untuk bertobat serta menghadapi kedatangan Kristus yang akan datang. Warna ini digunakan pada masa-masa penyesalan, persiapan, atau pengharapan; yakni Masa Prapaskah dan Masa Adven.

Dalam tata liturgi ini, konsentrasi umat bisa terganggu bahkan hilang ketika melihat ada kekeliruan/kesalahan saat Misa Kudus berlangsung. Maka, umat dan para petugas harus dibina dan dilatih agar benar-benar bisa, baik di lingkungan kring, stasi, maupun paroki. Hal yang dilakukan pertama, dimulai dari penanggungjawab liturgi. Personil seksi ini harus belajar dan paham liturgi. Apa yang mau diajarkan kalau yang bersangkutan belum paham Liturgi. Selain itu, perlu komunikasi kepada semua pihak yang terlibat dalam tata ibadah.

Terakhir, saya bahagia dapat terlibat dalam bidang liturgi saat Misa Tahbisan Imam Xaverian yang berlangsung di Gereja Paroki Santo Paulus Pekanbaru, 30 Agustus 2023. Oleh panitia tahbisan, saya dipercaya sebagai Koordinator Liturgi. Tentu saja butuh persiapan untuk perayaan tersebut. Persiapan yang dilakukan mengikuti Tata Perayaan dari Keuskupan Padang. Kemudian, membentuk tim paduan suara dari berbagai stasi dan kring serta Wilayah Pusat paroki. Umat lumayan antusias terlibat dalam paduan suara, sekitar 50 orang, dilatih Joni Marpaung.

Kelompok lain juga dilibatkan sebagai seksi tamu, Orang Muda Katolik (OMK) bertanggung jawab mengurus parkir dan kebersihan gereja. Untuk keperluan dekorasi gereja ‘diurus’ Stasi St. Lusia Rumbai. Begitupun dengan peralatan misa serta banyak hal yang mesti dipersiapkan. Sebelum momen tahbisan, di bulan Agustus 2023, kita laksanakan latihan dua kali seminggu. Selain itu, kita siapkan semua pakaian liturgi untuk para petugas, misalnya untuk lektor, pemazmur, misdinar, maupun para imam. Lima puluhan imam ikut serta pada momen sacral ini. Kita upayakan para pastor menggunakan kasula yang rapi dan bersih.

(Sr.Evarista Lase, FCJM
Koordinator Liturgi Paroki St.Paulus Pekanbaru)/olahan wawancara/ben.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *