Formasi Liturgi dan Inkulturasi Liturgi mendapat perhatian pada Rapat Pleno Nasional Komisi Liturgi KWI 2023 (lihat box!). Benar. Saya juga ikut serta pada kesempatan tersebut. Terdapat tiga narasumber pada waktu tersebut. Hanya saja, dalam pertemuan ini, tiga narasumber tidak secara jelas membagi formasi yang seperti apa mau dibuat untuk umat beriman di tiap keuskupan sebagai program atau modul-modul yang ditawarkan kepada umat untuk membina hidup liturgi umat, baik dari aspek pemahaman, penghayatan, praktik, simbol-simbol. Tidak ada satu atau beberapa tema yang disusun mereka. Tetapi, oleh Mgr. Pidyarto, rapat ini juga kesempatan mengenang 60 tahun Konstitusi Sacrosantum Concilium/SC yang merupakan salah satu dari 16 dokumen Konsili Vatikan II

Kita mau mempelajari kembali dokumen terbaru berupa Surat Apostolik Paus Fransiskus I “Desiderio Desideravi” (Aku Rindu) yang berbicara tentang Formasi Liturgi Umat Beriman. Bagaimana liturgi ‘dihidupi’ oleh umat beriman?! Uskup Pidyarto ingin umat beriman di setiap keuskupan, mulai dari paroki, wilayah, stasi, lingkungan/kring/rayon ‘membuka jendela’ (agionarmento). Yang dulunya, terkesan ketat sekali, misa berbahasa Latin, imam menghadap ke altar, pilihan lagu-lagu tertentu (Gregorian-Red.), dan sebagainya. Uskup Pidyarto ingin partisipasi penuh umat, aktif, dan sadar dalam liturgi.

Maka, kalau kita mau umat berpartisipasi, harus membekali mereka dengan formasi dan inkulturasi. Tentu saja, inkulturasi jangan pula melanggar aturan atau norma-norma inkulturasi yang harus ditaati. Contoh, di Papua, dalam perarakan, dengan pakaian atau busana yang terlalu vulgar di situasi setempat mungkin bisa diterima; tetapi ketika menjadi perayaan pontifical yang juga dihadiri umat dari suku lainnya, tentu akan menjadi satu ‘gangguan pemandangan tersendiri’ bila saat perarakan terlihat dalam keadaan berkoteka. Maka, harus pintar membaca inkulturasi itu: saatnya, budayanya, misa apa, tepat tidaknya?! Harus sungguh dipertimbangkan sebaik-baiknya. Contoh lain, di Jawa, imam mengenakan blangkon, sehingga tidak lagi mengenakan kasula, stola, alba, serta banyak lagi praktik inkulturasi yang ‘menyimpang’ menurut Mgr. Pidyarto. Maka, harus hati-hati juga.

Uskup Pidyarto ingin partisipasi penuh umat, aktif, dan sadar dalam inkulturasi yang layak dan wajar, masuk akal, bisa diterima umat beriman, tidak mengganggu orang lain. Selain itu, juga fokus pada formasi internalisasi. Maksudnya, bagaimana perayaan liturgi yang dirayakan dalam konteks budaya (di keuskupan setempat) bisa membawa umat bertemu/berjumpa dengan Allah. Bergembira, berbahagia bisa merayakannya dengan penuh iman.

Berkaitan dengan inkulturasi, tentunya ada semacam filter, saringan, pedoman, batas-batas tatkala masuk dalam lingkungan gereja, terutama dalam Perayaan Ekaristi. Itu juga yang menjadi salah satu butir rekomendasi pertemuan ini kepada Komlit KWI dan Komlit Keuskupan. Jangan terlalu menyimpang serta menghalalkan segala cara (baik dari berpakaian liturgi, ritus-ritus yang ‘dilangkahi’, ditambahi terlalu berlebihan, dan sebagainya. Karena, kita sudah punya aturan dalam misa yang tidak bisa dihilangkan. Bisa diinkulturasikan, tetapi jangan menghilangkan atau menambahkan yang terlalu berlebihan.

Sudah ada aturan yang sudah ‘dipaku mati’, Ordo Misae, misalnya dengan alasan inkulturasi lantas menghilangkan kata dan kalimat institusi. Tak bisa. Begitupun dengan Tata Perayaan Ekaristi (TPE) dan rumusan doa-doa tak bisa diubah sesuka hati, karena ada aturannya. Itulah sebagai contoh batas-batas inkulturasi, selain pertimbangan-pertimbangan pastoral. Tentu juga, kita mesti perhatikan orang mana, budaya apa, kapan misanya, bahasa – termasuk pemilihan kata dan kalimat.

Sebenarnya, kita sudah sangat inkulturatif. Untuk bahasa misalnya, kita menggunakan bahasa daerah. Aturan yang umum, buku panduan inkulturasi secara umum sedang disusun. Maka, rekomendasi untuk inkulturasi, akan dicetak buku panduan umum KWI. Walau demikian, hal itu terpulang kembali ke keuskupan untuk berhati-hati dalam penerapannya. Dengan melihat: sudah benarkah dan sesuaikah dengan ordo-ordo yang sudah terbit?! Dengan anjuran Paus dan buku-buku liturgi?! Bukunya sedang disusun.

Liturgi yang Agung
Di tengah umat muncul komentar atau tanggapan spontan berkaitan dengan pelaksanaan Perayaan Ekaristi, misalnya berlangsung monoton, membuat umat ngantuk, terkesan kaku, dan sebagainya. Ini juga sampai kepada saya. Hal demikian bisa disebabkan faktor dalam diri (internal) umat yang hadir. Namun, ada juga sebab-sebab lainnya. Memang, tidak gampang untuk membuat satu perayaan liturgi, misalnya Misa Kudus hari Minggu yang dihadiri umat beriman menjadi liturgi yang agung, mulia, meriah, menarik, partisipasi aktif, dilaksanakan dengan penuh kesadaran, partisipasi aktif.
Tidak gampang, karena kalau kita mempunyai pemahaman yang kurang mengenai liturgi maka kita tidak bisa masuk ke dalam satu perayaan yang ‘hidup’, yang agung, mulia, dan mendalam. Padahal, sesungguhnya, sejak sebelum hingga akhir perayaan merupakan sebuah perayaan misteri perjamuan yang luar biasa. Namun, karena pemahaman kita yang masih terbatas, jadi tidak tahu apa nilai yang ada dalam tiap ritus mulai dari saat pembukaan hingga penutup. Kita tidak tahu point-point penting di mana saat itu Tuhan hadir, berbicara, memberikan diri, kita sedang memperbarui diri, merayakan pesta besar bersama para malaikat dan Para Kudus. Di situ, umat sepertinya tidak ngeh!

Maka, diperlukan seni Perayaan Ekaristi. Pada umumnya, seni tersebut dimiliki oleh orang-orang yang memahami liturgi Ekaristi; misalnya sejarah, simbol-simbol yang digunakan, busana yang dikenakan, partisipasi aktif umat beriman, imam sebagai apa saja? Itu semua harus dipahami dan dimiliki. Perlu formasi di kalangan umat agar terinternalisasi hingga sampai pada penghayatan yang dibutuhkan. Bukan sekedar datang/hadir, tengok-tengok, tidak aktif, dan sebagainya. Itulah yang terjadi selama ini. Maka, Komisi Liturgi KWI dan Komisi Liturgi keuskupan mengharapkan pembinaan-pembinaan di paroki-paroki, termasuk pembinaan bagi para imam.

Jadi, tidak sebatas pada petugas liturgi dan umat, juga kepada para imam. Perlu pembinaan liturgi kepada para imam! Mengapa? Karena, imamlah tokoh utama, tokoh sentral, pelaku utama yang merayakan liturgi Ekaristi. Bahkan, cara berdiri, cara berpakaian, tata gerak, cara memimpin Ekaristi, sesuai dengan aturan, begitupun bahasa yang digunakan, khotbah, dan sebagainya menjadi “satu paket lengkap” yang memang sangat berpengaruh untuk satu perayaan.

Tetapi, tidak juga menjadi suatu perayaan yang penuh canda-tawa, komedi dan membuat orang atau pendengarnya happy atau terhibur karena yang mau disampaikan adalah Sabda Tuhan. Saat Tuhan berbicara. Bukan Sabda Tuhan yang dikomikkakan. Umat akan menilai seakan main-main, tidak serius. Padahal, seharusnya, sebagai sabda Tuhan yang harus didengarkan umat. Khotbah atau homili boleh saja diawali dengan cerita, perumpamaan, contoh. Tetapi, tidak bisa digantikan dengan bernyanyi hingga akhirnya lupa Sabda Tuhan yang mau disampaikan. Saat homili, seorang pastor sedang berbicara atas nama Tuhan, menyampaikan Firman Tuhan yang harus didengarkan umat. Butuh seni tersendiri dan seorang imam mestilah ahli dalam hal demikian.

Pertengkaran dengan Umat
Kalau tidak, maka yang terjadi adalah suara imam yang tidak jelas, urutan yang kacau, bahkan ada pula yang tidak mau ikut aturan liturgi. Itulah yang membuat umat merasa bosan. Apalagi, ada di antara pastor yang sangat amat ketat, terlalu kaku sehingga menyebabkan ‘pertengkaran’ dengan umat. Hal ini semestinya dihindarkan. Jangan sampai terjadi, umat datang/ikut Misa Kudus dengan kemarahan, kejengkelan. Kalaupun salah, sebaiknya diingatkan! Bukan saat perayaan, tetapi setelah perayaan. Itu pesan Prof. Martasudjita. Karena apa? Karena tidak ada yang salah dengan berdoa, berliturgi pada Tuhan. Tidak ada yang sempurna. Maksudnya, tidak ada di antara kita yang bebas dari kesalahan ataupun sempurna. Pasti ada salah dan kurangnya. Pasti ada cara yang lebih dialogis dan diplomatis, sehingga umat merasa dirangkul, dianggap. Tidak langsung marah-marah atau mengatai umat.

Satu kesempatan, Kardinal Ignasius Suharyo ditanya tentang liturgi di Indonesia. Kardinal menjawab, “Asal tidak bertengkar!” Adakalanya, umat tidak bisa berdiri karena bermasalah dengan kakinya padahal saat itu mesti berdiri, atau di lain kesempatan umat rayon duduk tatkala Doa Syukur Agung padahal semestinya berdiri. Sahkah? Ya! Legal? Ya! Yang penting, jangan marah-marah. Janganlah terjadi, gara-gara liturgi, orang/umat menjadi takut ke gereja! Seharusnya, liturgi membahagiakan, menggembirakan, penuh sukacita karena bertemu dengan Tuhan, selanjutnya menginternalisasikan serta mengimaninya. Itulah arah sebenarnya dari “Desiderio Desideravi” (Aku Rindu) dan Participatio Actuosa. Para narasumber Rapat Nasional 2023 menghendaki peran aktif umat, sadar penuh, dan mengimaninya dalam hidup. Sehingga liturgi menjadi sesuatu yang menarik bagi umat.

Memang, yang baru saja disampaikan ini semacam autokritik bagi para imam/pastor. Mengapa? Karena bagaimana pun juga imam/pastor merupakan tokoh sentral dalam perayaan. Dan, karena ‘bernama’ perayaan, tentunya menjadi sesuatu yang menggembirakan, menyenangkan, membahagiakan. Bukannya konflik, pertengkaran. Bagaimana dengan sisi umat? Siapa yang bisa menggerakkan umat agar bisa mempunyai pemahaman liturgi yang benar dan lebih baik?! Tentu saja, salah satunya adalah para pastor sebagai pemimpin dan penanggungjawab utama di paroki. Para pastor diberi kuasa untuk itu oleh Uskup. Sebab itu, para pastor harus bekerja keras berkatekese, dengan pembinaan, pembekalan, pendidikan dalam hal liturgi kepada umat, utamanya kepada para aktivis paroki dan pengurus wilayah/stasi, kring/lingkungan/rayon, dan akhirnya sampai di tingkat umat, termasuk umat di pelosok nun jauh dari pusat paroki. Butuh kerja bersama yang melibatkan para imam, komisi/lembaga keuskupan.

Komisi Liturgi Keuskupan
Selama ini, kami dari Komisi Liturgi Keuskupan Padang selalu menawarkan kepada paroki (misalnya, pembekalan tentang Tata Perayaan Sabda/TPS) dan berupaya dapat memenuhi permintaan dari pastor paroki. Tidak hanya diminta paroki, melainkan kami tawarkan juga. Respon atau tanggapan pun beragam. Ada yang menyambut hangat namun ada pula yang tidak mau, menolak. Sebenarnya, liturgi tidak hanya sebatas misa. Masih banyak hal lainnya, misalnya kegiatan sakramentali, pelayanan gereja, pemberkatan-pemberkatan, devosi-devosi, sakramen-sakramen, dll.

Apa yang diharapkan dari rekomendasi rapat nasional dan upaya dari komlit keuskupan? Yang bisa kita upayakan atau buat adalah agar pemahaman umat bertambah dan terlibat aktif. Kami (Komlit Keuskupan Padang) mengeluarkan/mencetak buku panduan misdinar dan menyelenggarakan Zoom untuk semua Seksi Misdinar Paroki se-Keuskupan Padang. Selain itu, diterbitkan pula buku panduan Petugas/Pelayan Pembantu Pembagi Komuni (P3K) – yang selama ini lebih dikenal dengan sebutan Prodiakon. Tujuannya: agar ada pemahaman mengenai pelayan luar biasa yang sering kita lihat di gereja. Juga ada sejumlah pembinaan, pembekalan yang bisa diupayakan Komlit Keuskupan Padang, terutama bagi paroki-paroki yang membutuhkan. Kami selalu siap bila ada permintaan dari paroki.

Selain itu, Komlit Keuskupan Padang berupaya melengkapi perlengkapan liturgi yang dibutuhkan, apalagi Gereja kita adalah Gereja yang penuh dengan simbol. Sebisa mungkin, semua simbol diupayakan untuk dimiliki, dirawat, dijaga. Janganlah terjadi di stasi masih ada kasula yang sudah lama, kusam, lapuk, robek-robek yang masih dipakai. Kalau bisa dibarui! Dengan kasula, orang melihat tanda kehadiran Tuhan dalam Perayaan Ekaristi, begitupun melalui piala, patena, sibori, serta buku-buku yang digunakan. Semuanya merupakan simbol yang mau mengungkapkan kehadiran Tuhan. Itulah yang kami upayakan. Maka, kami lengkapi toko rohani dengan peralatan, perlengkapan, piranti/barang liturgi untuk melengkapi sarana dan simbol-simbol yang diperlukan. Milikilah alat terlebih dahulu sehingga tahu arti alat tersebut lewat katekese.

(P. Yakobus Ganda Jaya Nababan, Pr 
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Padang)/olahan wawancara/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *