PADANG – “Kanonik ibarat sebuah pintu masuk untuk membentuk rumah tangga. Bapa Uskup minta para pastor menggunakan kesempatan dalam Kanonik dengan teliti dan berani. Kita, para imam, diajak untuk mencari kebenaran, karena jawabannya bukan hanya ‘ya’ atau ‘tidak’. Para pastor diajak berani dan jeli mendalami pertanyaan kanonik dalam kapasitasnya, sekaligus ‘mengorek’ dari para calon keluarga tersebut,” ucap Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Padang, RD. Florianus Sarno, Kamis (7/9).

Hal tersebut disampaikan Vikjen dalam homili Misa Perutusan bagi para peserta Pertemuan Asosiasi Kanonis Regio Sumatera (4-7/9) di Kapel Puri Dharma Katedral Padang. Pastor Sarno menambahkan, “Banyak anak muda zaman sekarang pandai bergaul, tetapi kesulitan memilih dan menentukan. Dalam kondisi tersebut, terkadang orangtua mengambil alih sehingga memunculkan banyak persoalan. Sebab itu, ketelitian dan menuliskannya di Kanonik untuk para pastor menjadi sangat penting.”

Dalam homili, Vikjen menyampaikan beberapa butir pesan Bapa Uskup kepada para peserta pertemuan. “Para pastor diminta dapat merapikan administrasi pengurusan kanonik, tentu saja dengan penyediaan sarana penyimpanan dokumen/arsip yang memadai, karena hal ini berlaku untuk seumur hidup. 

Selain itu, kerapian administrasi turut membantu kelancaran tugas Vikaris Yudisial Keuskupan. Bapa Uskup melihat hukum disempurnakan dengan Pastoral Belas Kasih. Kalau dilihat dari kakunya hukum, seringkali tidak menolong (pemecahan) masalah keluarga, terutama pada keluarga perkawinan campur. Maka, kepada kita, para imam, diingatkan bahwa hukum adalah penting namun juga menggunakan hati nurani, memperhatikan aspek budaya, sosial, dan sebagainya secara mendalam. Agar, keputusan-keputusan kita, sebagai imam, sungguh mempunyai aspek ‘belas kasih’. Sehingga umat kita tidak lari, apalagi ada umat yang mempunyai pandangan bahwa di Katolik itu tidak boleh cerai dan akhirnya bersikap kaku sehingga tidak mau bertanya kepada pastornya. Dengan Pastoral Belas Kasih bagi keluarga bermasalah agar keluarga-keluarga kembali ke pangkuan Gereja,” ujar P. Sarno.

Pada bagian lain homilinya, P. Sarno menyampaikan ajakan Bapa Uskup kepada para imam. “Untuk lebih memperdalam keimamatan kita, sekaligus belas kasih yang ditanamkan Yesus dalam diri kita sebagai seorang imam. Rekomendasi/kesimpulan/catatan dari pertemuan dapat menjadi bahan refleksi di tiap keuskupan dan inspirasi untuk membangun keluarga-keluarga Katolik yang lebih baik,” tukas P. Sarno di akhir homili Misa Perutusan.

Pertemuan diikuti para imam utusan dari enam keuskupan Regio Sumatera (Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkalpinang, Keuskupan Tanjungkarang).
Dua topik utama dibahas pada pertemuan ini: (1) Laporan Penelitian Baptis non Katolik dari peserta tiap keuskupan maupun keuskupan agung, (2) Laporan Libellus atau surat permohonan (gugat) kebatalan perkawinan yang diajukan oleh salah satu pasangan. Yang paling baik apabila disetujui pasangannya – kebijakan Paus Fransiskus; dan caput nullitatis atau penyebab kebatalan yang sering muncul di tribunal.

Beberapa kesimpulan dibahas dalam dua kelompok diskusi (Kelompok Propinsi Keuskupan Agung Medan/KAM dan Kelompok Propinsi Keuskupan Agung Palembang/KaPal). Masing-masing kelompok membicarakan rancangan/draft ‘beberapa kesimpulan’ terutama menyangkut pengakuan baptisan non Katolik menyangkut materi dan forma pembaptisan. Dalam draft beberapa catatan rekomendasi tersebut juga muncul kategori baptis yang diterima oleh Gereja Katolik (pada sejumlah denominasi gereja lain) dan kategori baptis yang tidak diterima oleh Gereja Katolik (pada sejumlah denominasi gereja lain).

Saat menyampaikan sambutannya, Koordinator Asosiasi Kanonis Regio Sumatera, P. Benyamin AC Purba, OFMCap menyampaikan, “Pertemuan berproses. Kami mengetahui posisi sebagai pengusul. Hasil rekomendasi akan disampaikan kepada para uskup Regio Sumatera. Semoga, untuk selanjutnya, para uskup dapat mengambil kebijakan. Semoga pertemuan ini bermanfaat bagi pelayanan umat Allah.”
Tatkala dihubungi GEMA usai Misa Perutusan, salah satu peserta yang juga Notarius Tribunal Keuskupan Agung Palembang, P. Markus Edi Sucipto, Pr mengatakan, “Memang banyak tantangan yang dialami tenaga pastoral saat berpastoral, termasuk terdapatnya berbagai macam ragam jenis baptisan. Maka, dari kesimpulan, ditentukan mana saja denominasi gereja lain yang sesuai dengan rumus baptisan Katolik, itulah yang diterima. Yang tidak sesuai, itulah yang tidak diterima! Kita tegaskan bahwa dari baptisan yang tidak diterima Gereja Katolik mesti baptis ulang. Perkawinan yang berlangsung dalam lingkup denominasi gereja yang tidak diterima Gereja Katolik, pernikahan dengan umat Katolik harus mendapat dispensasi disparitas cultus atau perkawinan beda agama. Rekomendasi Pertemuan tahunan seperti ini, setelah mendapat persetujuan para uskup, sangat bermanfaat bagi semua imam Katolik di mana pun berada dan memperlancar proses kegiatan berpastoral.”
Informasi yang diperoleh dari Koordinator Asosiasi Kanonis, pertemuan di Padang (2023) merupakan pertemuan ketiga, setelah di Balige (2021) dan Sibolga (2022). Di akhir pertemuan, peserta menyepakati pertemuan 2024 diselenggarakan di Keuskupan Pangkalpinang. Sejumlah usulan topik disampaikan, misalnya fokus pada caput nullitatis tertentu, Pastoral Belas Kasih, dokumen baru dari Vatikan berkaitan dengan tugas Vikaris Yudisial Keuskupan. “Pertemuan diisi bagi pengalaman peserta tatkala berpastoral untuk saling menguatkan. Bisa pula mendatangkan narasumber yang cocok berkaitan suatu tema terpilih,” ungkap P. Benyamin. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *