Perayaan liturgi, terutama Perayaan Ekaristi, merupakan puncak yang dituju oleh seluruh kegiatan dan karya kerasulan Gereja, sekaligus merupakan sumber segala daya kekuatannya sebagaimana tertuang dalam Konstitusi Liturgi atau Sacrosanctum Concilium (SC 19). Hal ini mengandaikan dan menuntut partisipasi sadar, aktif dan sepenuhnya dari kaum beriman yang mengambil bagian dalam perayaan liturgi khususnya di Paroki St. Maria Ratu Rosario Bagan Batu-Riau.

Pada tahun 2020 telah ada Komunitas Liturgi yang dibentuk Pastor Paroki, P. Klitus da Gomez, Pr. Dalam Komunitas Liturgi ini, para petugas liturgi – khususnya yang ada di pusat paroki – berkumpul sekali seminggu. Pada kesempatan ini, para petugas yang akan bertugas setiap hari Minggu berlatih. Saat ini, Komunitas Liturgi ini tidak aktif lagi karena antusiasme umat berlatih menurun. Yang rajin berkumpul, umat yang itu-itu juga. Akhirnya, para petugas liturgi dikembalikan pada lingkungan masing-masing yang ada di paroki untuk bertugas dalam Perayaan Ekaristi.

Saat ini, petugas liturgi di paroki langsung ditangani dan dipilih oleh lingkungan. Saya sebagai seksi tidak secara langsung terlibat di pusat Paroki. Untuk stasi, petugas tata liturgi setiap Perayaan Sabda, juga dipilih oleh pengurus stasi/lingkungan masing-masing. Secara pribadi, saya mendukung tata liturgi di paroki saat ini. Hanya saja, saat ini saya melihat sebagian umat masih sebatas untuk tampil, belum pada kesadaran bahwa mengambil bagian sebagai petugas untuk melayani atau sebagai bagian yang dipakai Tuhan untuk melayani dalam Perayaan Ekaristi atau dalam Perayaan Sabda Hari Minggu.

Saya katakan dan menilai seperti itu, karena ketika umat diajak latihan jarang datang! Pastor Paroki telah membuat kegiatan untuk petugas liturgi, tapi orang yang datang berlatih itu-itu juga dan tidak ada perkembangan. Sementara kalau ditunjuk langsung petugas liturgi, mau bertugas. Tetapi, belum ada persiapan berlatih; misalnya untuk lektor dan pemazmur, petugasnya sudah mengetahui kutipan bacaan yang akan dibawakan atau lagu yang dinyanyikan. Tetapi tanpa latihan bersama tidak mendapatkan hasil yang sempurna. Idealnya, bukan hanya sebatas membaca dan bernyanyi tetapi juga mewartakan firman dan meresapkanya dalam hati.

Di stasi, khususnya Stasi St. Paulus Bagan Batu, awal-awal dulu sebelum bertugas mesti ada latihan. Para petugas liturgi datang untuk berlatih bersama tiap Sabtu sore. Tetapi, perlahan-lahan umat semakin sedikit ikut serta, sehingga umat kurang bersemangat dan partispasi. Akhirnya, kami kembalikan ke lingkungan masing-masing. Latihan bersama tidak ada lagi. Untuk petugas liturgi langsung ditunjuk lingkungan. Pengurus lingkunganlah yang menentukan siapa yang bertugas. Kebijakan ini sudah diketahui Pastor Paroki bersama para pengurus lingkungan dari Wilayah Pusat Paroki. Untuk berikutnya, kita lihat pembahasannya dalam Rapat Dewan Pastoral Paroki (DPP).

Pada momen pembukaan Tahun Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di paroki kami beberapa bulan lalu, Seksi Liturgi menentukan petugas liturginya. Kami anggota seksi bersama dengan Sr. Virgin Rajagukguk, KYM memilih petugasnya. Persiapan petugas liturgi sekitar satu bulan. Paduan suara berlatih selama dua bulan untuk persiapan. Latihan lumayan lama karena ada Penerimaan Krisma, Penutupan Tahun Keluarga dan Pembukaan KBG. Kami bersyukur semuanya berjalan dengan baik, meriah, dan lancar.

Maka, dari pengalaman tersebut, sangat diharapkan adanya katekese berkelanjutan tentang liturgi bagi petugas liturgi dan stasi. Sejauh ini, dari Paroki, kita sebagai Seksi Liturgi harus mengikuti arahan pastor Paroki serta berpatokan pada ketetapan DPP tahunan. Tahun lalu, kita fokus membina dan melatih Pemimpin Ibadah Sabda Tanpa Imam/Pastor. Pembinaan sudah dilakukan dengan mengundang utusan seluruh Stasi. Tahun ini, program kita seharusnya untuk melihat perkembangan atau tindak lanjut atas kegiatan tersebut serta Pelatihan untuk Petugas Pemakaman. Tetapi, program ini belum terlaksana karena bertepatan dengan waktu kunjungan Pastoral Uskup.

Secara pribadi, saya berharap model penggerak utama tetap oleh Pastor Paroki. Walaupun ada Seksi Liturgi, namun kalau tidak digerakkan oleh paroki, maka umat yang ada di stasi akan tetap begitu saja dan tidak mengikuti tata liturgi yang baru. Saat ini, harus diakui bahwa di mana-mana tingkat partisipasi umat beriman dalam Perayaan Ekaristi menunjukkan kemajuan dan meningkat. Namun, tidak sedikit umat masih pasif dan kurang bergairah saat Perayaan Ekaristi. Motivator liturgi bisa terlaksana karena pastorlah sebagai penggerak pertama. Juga, mesti ditumbuhkan kesadaran umat, bahwa berpartisipasi sebagai petugas liturgi merupakan bagian pemberian diri melayani Tuhan! Bukan sekedar ingin tampil supaya dilihat orang. Kendala lain, tentang tata liturgi yang baru, kiranya Keuskupan Padang memberi Katekese Liturgi untuk kami agar bisa belajar, berlatih dan memahaminya

 

(Marudur G. Barasa, S.Ag.
Koordinator Seksi Liturgi DPP Santa Maria Ratu Rosario Bagan Batu)/olahan wawancara/ben.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *