Tata Perayaan Ekaristi di Paroki St. Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang mengacu pada aturan umum, berdasarkan Missale Romanum (Misale Romawi) – yang merupakan panduan liturgi resmi Gereja Katolik Roma. Tata Perayaan Ekaristi (TPE) dikeluarkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan menjadi panduan resmi atas seluruh misa Katolik berbahasa Indonesia di seluruh Indonesia. Tata gerak para petugas liturgi (lektor, pemazmur, dirigen, organis) dan lagu-lagu semuanya sudah sesuai dengan anjuran Komisi Liturgi Pusat maupun Keuskupan.

Untuk partisipasi, umat sangat sadar dan aktif sesuai dengan peran masing-masing mengikuti tata tertib dalam Perayaan Ekaristi. Dari segi lagu, tata gerak, imam/pastor memimpin dari Ritus Pembuka hingga Ritus Penutup serta jawaban/tanggapan umat. Ketika ada perubahan tata liturgi dari tahun 2005 ke 2020, untuk pratiknya, umat Paroki Santa Maria Bunda Yesus Padang cepat sekali mengikuti dan memahaminya. Hal itu disebabkan sosialisasi katekese liturgi kepada umat oleh imam, para pengurus rayon, petugas liturgi, dan Dewan Pastoral Paroki (DPP) saling terlibat. Dari umat, ada yang saling bertanya tentang tata liturgi. Imam pun tidak mengalami kesulitan menunjukkan perubahan tata liturgi baru ini kepada umat yang ‘mau belajar’.

Para Petugas Liturgi, sejauh ini cepat sekali tanggap atas perubahan tersebut. Bila ada petugas liturgi tidak datang bertugas, maka ada saja umat yang mau dan bersedia menggantikannya. Saat ini, tidak ada pertemuan atau latihan rutin petugas liturgi. Tetapi, biasanya kami selalu mempersiapkan petugas dari penyaringan kelompok-kelompok kategorial yang ada. Apabila mereka bertugas Minggu mendatang, hari Seninnya, lektor dan pemazmur mendapat kiriman bahan sehingga ada kesempatan berlatih, tata gerak dan notasi not lagunya yang pas. Biasanya, pemazmur berlatih bersama dengan organis di gereja.

Kaderisasi petugas liturgi berlangsung dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada, misalnya Orang Muda Katolik (OMK), Misdinar, Bina Iman Remaja (BIR), Wanita Katolik Republik Indonesia, maupun pengurus rayon, dan  anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP). Dalam setiap kesempatan perjumpaan dengan umat di rayon-rayon, saya selalu mengimbau bersedia menjadi petugas Perayaan Ekaristi. Pun, saat berlangsung rapat DPP, seksi liturgi minta Pastor dapat menunjuk orang muda dipilih sebagai anggota seksi liturgi. Selama ini, ‘rekan kerja’ saya adalah orang yang sudah tua, sehingga tidak ada perkembangan. Tentunya, setelah diseleksi, dilihat kemampuannya, dan bisa dipercaya. Yang paling sering menjadi bakal calon petugas liturgi berasal dari kalangan misdinar, sebab telah terbiasa dan memahami pelaksanaan tugas liturgi.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan saya, tidak selalu lancar di stasi-stasi dalam konteks perayaan liturgi. Di Stasi St. Stefanus Sungaipisang, umat mengalami kesulitan dengan adanya perubahan tata liturgi yang baru, apalagi umatnya dominan berasal dari pelosok Kepulauan Nias. Pelaksanaan liturgi dalam Perayaan Ekaristi maupun Perayaan Sabda belum begitu sempurna dilaksanakan, sebagaimana ditunjukkan pastor dan seksi liturgi. Walau demikian, mereka mau menerima bimbingan pastor sehingga cepat juga berubah. Di Stasi St. Theresia Sago dan Balaiselasa (Pesisir Selatan), bisa mengikuti aturan tata liturgi. Hanya saja, tata gerak  dan lagu dalam Perayaan Sabda misalnya berdiri dan duduk agak susah dilakukan sebab ibadah dilakukan dalam rumah umat.

Untuk mendapatkan ‘wajah baru’ petugas liturgi perlu pengaderan. Paling sulit saat ini, bukanlah petugas lektor melainkan pemazmur dan organis. Dalam keluarga, umat kurang menanamkan dalam ‘mimpi’ anak untuk bermain musik ataupun bernyanyi. Di era milineal, anak dan remaja lebih sering sibuk memainkan handphone dan game. Pengalaman saya, saat melatih lima calon organis, hanya satu orang yang benar paham. Begitupun dengan dirigen. Bisa kacau bila latihan dirigen tanpa organis. Ada juga, dirigen hanya menggerakkan tangan, namun kurang tahu nada dan notasi.

Tata liturgi ini harus sesuai dengan pedoman umum. Siapa yang akan menghormati liturgi kalau umat Katolik itu sendiri tidak melaksanakan liturginya? Sebagai umat Katolik yang sejati, kita mesti menghormati tata liturgi yang ada. Kemudian, para petugas liturgi harus sering memberi petunjuk dan arahan kepada umat. Sesuatu yang salah jika dilakukan berulang-ulang bakal dianggap benar. Seksi liturgi harus siap ditegur oleh umat maupun imam. Kita tidak boleh marah dan kecil hati karena pasti ada kesalahan/kekeliruan praktik tata liturgi.  

Sebagai petugas liturgi, kita juga harus mampu menjadi ‘jembatan’ antara imam dan umat! Jangan sampai terjadi, karena ada masalah pribadi, kita mengorbankan liturgi dalam Perayaan Ekaristi. Saya berharap umat kita makin menghormati liturgi, sehingga saat ke gereja, mengikuti Misa Kudus dengan khidmat dan damai. Saya berharap, ada katekis akademis yang dapat membantu paroki agar umat mampu menjadi petugas liturgi yang benar. 

 (Adrianus Anto Zalukhu 
Koordinator
Seksi Liturgi DPP Santa Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang)/olahan wawancara/ben.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *