KEWAJIBAN YANG LEBIH UTAMA

HARI MINGGU BIASA XXIX (22 Oktober 2023)
Yes. 45:1, 4-6; Mzm. 96:1, 3,4-5, 7-8, 9-10ac;
1 Tes, 1:1-5b; Mat. 22:15-21

BACAAN PERTAMA hari Minggu ini berbicara tentang kedaulatan Allah. Sangatlah mengejutkan dan serasa tidak masuk di akal. Koresh, yang adalah raja dari bangsa penyembah berhala, yang tidak mengenal Allah Israel dipakai Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya.Tuhan sendiri yang memanggil, mengurapi, dan memimpin Koresh untuk menaklukkan raja-raja dunia. Bahkan Tuhan sendiri yang memastikan keberhasilan Koresh.
Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat dan berkuasa untuk memakai siapa saja. Kekuasaan-Nya tak terbatas; atas terang dan gelap, atas kemujuran dan malapetaka, atas seluruh alam semesta ini, demikian pula kekuasaan-Nya atas Koresh. Allah melalui Yesaya memberitahu umat Israel, dan bangsa-bangsa bahwa Koresh adalah alat di tangan-Nya, yang dipakai untuk kebesaran dan kemuliaan-Nya

Seringkali manusia membatasi kehendak Tuhan sebatas logika. Apa yang bagi kita tidak masuk akal, Allah sanggup melakukannya. Jika melihat yang Tuhan nyatakan seperti pada bacaan pertama hari ini, kita akan belajar bahwa Tuhan bisa menggunakan siapa saja walaupun itu orang yang tidak seiman, bahkan mungkin musuh kita untuk menjadi alat di tangan-Nya. Percayalah Allah berdaulat dan berkuasa.

Bacaan Injil hari ini memberikan pengajaran tentang keadilan, yaitu dengan memberikan yang menjadi hak kaisar atau orang lain sesuai dengan haknya, maupun memberikan kepada Tuhan yang menjadi hak Tuhan. Prinsip ini memberikan gambaran bahwa tidak ada pertentangan antara ketaatan kepada otoritas pemerintah atau negara dan ketaatan kepada Tuhan. Prinsipnya ketaatan kepada Tuhan adalah lebih utama dibandingkan dengan segalanya. Allah menciptakan manusia sebagai citra-Nya, maka peraturan yang baik – yang dibuat sesuai dengan akal budi – tidak bertentangan dengan peraturan yang diberikan oleh Allah sendiri. Maka, hukum ilahi tidaklah bertentangan dengan hukum kodrati, sebaliknya yang ilahi menyempurnakan yang kodrati.

Yesus tahu akal bulus orang Farisi yang menjebak-Nya dengan pertanyaan. Sebelum menjawab pertanyaan mereka, Yesus menunjukkan kedegilan dan kemunafikan hati mereka. Orang Farisi mungkin sungguh tidak menduga dengan jawaban Yesus. Mereka berharap, Yesus masuk dalam perangkap mereka untuk mempersalahkan-Nya. Jawaban Yesus, bukanlah sebatas “ya” atau “tidak”, “boleh” atau “tidak boleh”, namun Yesus menjawab dengan menggunakan argumentasi yang sungguh luar biasa dan jauh di atas perkiraan mereka.

Mereka yang mungkin berharap bahwa Yesus akan menjawab tidak perlu membayar pajak kepada kaisar, akhirnya harus terperangah dengan jawaban Yesus. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Jawaban ini antara mengajarkan prinsip keadilan.

Kita harus memberikan kepada seseorang (termasuk Tuhan) yang menjadi haknya. Kristus mengajarkan agar kita memberikan keadilan kepada penguasa dengan memberikan yang menjadi kewajiban kepada penguasa dan pada saat yang bersamaan memberikan kepada Tuhan, yang menjadi hak Tuhan. Keadilan kepada Tuhan diberikan oleh manusia dalam bentuk kebajikan agama, karena Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara manusia patut mendapatkan pujian dan sembah, yang diwujudkan dalam agama dengan segala ulah kesalehannya.

Kewajiban kepada Tuhan harus lebih utama daripada kewajiban kepada kaisar atau sesuatu yang bersifat sementara. Karena jiwa lebih utama daripada tubuh, maka kepentingan spiritualitas harus ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan tubuh. Ketaatan terhadap pemerintah tidak dapat melebihi ketaatan kepada Allah. Jadi, peraturan-peraturan yang melanggar hukum kodrati dan hukum Allah tidak dapat ditaati. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2242) menuliskan:

KGK, 2242: Warga negara mempunyai kewajiban hati nurani untuk tidak menaati peraturan wewenang negara, kalau peraturan ini bertentangan dengan tata kesusilaan, hak asasi manusia atau nasihat-nasihat Injil. Menolak mematuhi wewenang negara, kalau tuntutannya berlawanan dengan hati nurani yang baik, menemukan pembenarannya di dalam perbedaan antara pelayanan terhadap Allah dan pelayanan terhadap negara. “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis 5:29).” Bila para warga negara mengalami tekanan dari pihak pemerintah yang melampaui batas wewenangnya, hendaknya mereka jangan menolak apa pun, yang secara obyektif memang dituntut demi kesejahteraan umum. Tetapi boleh saja mereka memperjuangkan hak-hak mereka serta sesama warga negara melawan penyalahgunaan kekuasaan itu, dengan tetap mengindahkan batas-batas” yang digariskan oleh hukum kodrati dan Injil” (Gaudium et Spes 74, 5). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *