PADANG – “Perayaan liturgi adalah jalan menuju kehidupan ini! Oleh sebab itu formasio liturgi sebagai transformasi ke dalam ‘gambar’ Kristus terjadi, terutama dalam perayaan liturgi itu sendiri. Jika liturgi bersifat formatif dan transformative, maka liturgi harus menjadi tempat di mana umat mengalami perjumpaan dengan Yesus yang formatif dan transformatif, seperti kontemplasi yang tertulis dalam Surat Apostolik Bapa Suci Paus Fransiskus I Desiderio Desideravi Nomor 11,” kata P. Yakobus Ganda Jaya Nababan, Pr., Senin (11/9).

Hal tersebut disampaikan P. Ganda dalam kegiatan “Sosialisasi Petugas Pembantu Pembagi Komuni dan Panduan Pendamping Misdinar Keuskupan Padang”. Kegiatan diselenggarakan Komisi Kateketik, Liturgi, dan Kitab Suci secara daring via Zoom diikuti 90 peserta. Peserta adalah seksi liturgi dan pendamping misdinar paroki se-Keuskupan Padang. Sejumlah pastor, bruder, suster, dan frater ikut serta dalam pertemuan ini.

Salah satu staf Komisi Kateketik, Liturgi, dan Kitab Suci Keuskupan Padang, Mathias Herdiyanto Sujono menjelaskan bahwa pertemuan via Zoom ini merupakan tindak lanjut dari Pertemuan Nasional (Pernas) Rapat Pleno Nasional Komisi Liturgi (Komlit) KWI 2023 di Bali (22–25/8). Dalam Zoom disosialisasikan hasil pertemuan itu, panduan misdinar, serta sosialisasi mengenai Petugas Pembantu Pembagi Komuni yang sebelumnya menggunakan istilah prodiakon.

Terkait hasil Pernas, Ketua Komisi Kateketik, Liturgi, dan Kitab Suci Keuskupan Padang, P. Ganda menerangkan tentang formasi liturgi menurut teolog liturgi asal Jerman, Romano Guardini (1885–1968), “Liturgi bukan hanya pengetahuan, tetapi liturgi terutama adalah sebuah realitas yang mencakup tindakan, tatanan (aturan), dan eksistensi. Tugas utama liturgi bukan hanya meneliti/mempelajari, atau juga memberi pengajaran rohani/spiritual. Tugas utama liturgi yaitu untuk membentuk/mentransformasi. Tujuan yang terutama adalah formasio dan transformasio spiritual ‘Ketika Kristus hidup di dalam diriku (lih. Gal. 2:20)’,” kata P. Ganda.

Sekretaris Keuskupan Padang ini menjelaskan bahwa masa depan pembaruan liturgi, yaitu pembentukan liturgi umat Tuhan. “Tindakan liturgis (liturgical art) merupakan hal yang esensial dalam konteks implementasi semangat Konstitusi Liturgi. Formasio liturgis umat beriman sangatlah penting. Tugas Formasio liturgis adalah memulihkan umat untuk menghayati tindakan liturgis, terutama kemampuan untuk mengalami kekuatan simbol liturgis. Seni merayakan (Ars Celebrandi) merupakan salah satu cara memelihara/menumbuhkan pemahaman tentang simbol-simbol liturgis. Formasio atau pendidikan berliturgi itu sangat penting, karena selain kita menghayati makna berliturgi, kita juga mengimaninya, sehingga terlihat di dalam kehidupan sehari-hari kita seperti Yesus yang hidup,” kata P. Ganda.

Istilah Prodiakon
Dalam pertemuan ini, staf Komisi Kateketik, Liturgi, dan Kitab Suci Keuskupan Padang, Bernardus Karyadi menjelaskan perihal Petugas Pembantu Pembagi Komuni (P3K). “P3K adalah awam yang diangkat uskup melalui Surat Keputusan (SK) untuk tempat, jangka waktu, dan tugas tertentu. Berdasarkan Kanon 230 paragraf 3, nama yang dianjurkan dan selaras dengan Kanon itu adalah Pelayan Luar Biasa Komuni Suci atau Pelayan Tak Lazim Komuni Suci. Di Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan beberapa keuskupan lain, P3K dikenal dengan sebutan Prodiakon,” ungkap Karyadi.
Di Keuskupan Padang, beberapa paroki menggunakan sebutan Prodiakon, sebelum nama P3K. “Namun, sesungguhnya, istilah prodiakon tidak dikenal dalam dokumen Gereja. Oleh karena itu, demi keseragaman, Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin menetapkan nama Petugas Pembantu Pembagi Komuni, sebagai istilah yang baku dan resmi di Keuskupan Padang sejak. Mei 2023. Sebab itu, dianjurkan untuk membiasakan istilah tersebut dan tidak lagi menggunakan nama prodiakon,” ucap Karyadi.

Karyadi menambahkan, “Meskipun namanya Petugas Pembantu Pembagi Komuni, tugasnya tidak hanya sebatas membagi komuni. P3K bertugas melaksanakan tugas-tugas yang tertuang dalam SK atau yang diberikan oleh Pastor Paroki seperti memimpin Perayaan Sabda Hari Minggu, memimpin ibadat atau doa di rayon/lingkungan untuk berbagai keperluan, membacakan Injil, dan berkhotbah (kecuali dalam Perayaan Ekaristi).”

Panduan Misdinar
Sosialisasi panduan misdinar, berlangsung usai sosialisasi P3K, dibawakan Mathias Herdiyanto Sujono. Ia menjelaskan bahwa misdinar bukan sebagai pelengkap tetapi sebagai pelayan di seputar altar yang melayani Imam. “Sebagai pelayan altar, misdinar harus dituntun oleh Roh Kudus dan memiliki semangat melayani dengan penuh kasih-pemberian diri yang tulus (dari persiapan sampai saat tampil melayani) serta sukarela. Dalam Buku Panduan Misdinar Keuskupan Padang, sangat dianjurkan misdinar tidak hanya sekedar melakukan latihan. Misdinar harus diberikan pendampingan-pendampingan terkait spiritualitas mereka, misalnya hidup doa, kesaksian-kesaksian hidup dalam pelayanan kasih,” katanya. 

Buku panduan misdinar bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang patokan-patokan yang bisa dilakukan selama bertugas, apalagi mengingat di beberapa paroki di Keuskupan Padang, tata gerak para petugas liturgi belum ada keseragaman. Komisi Kateketik Keuskupan Padang telah menerbitkan “Buku Panduan Misdinar Keuskupan Padang” dan “Buku Panduan Petugas Pembantu Pembagi Komuni”. Beberapa paroki telah memiliki buku-buku tersebut, namun bagi paroki atau umat yang membutuhkannya bisa mendapatkannya di kantor Komisi Kateketik, Liturgi dan Kitab Suci, di Jl. WR Mongonsidi 4C Padang. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *