Liturgi merupakan sikap beriman dalam melayani dan melaksanakan beberapa karya bakti untuk membantu umat Kristiani supaya tidak sekedar mengikuti perayaan gereja saja. Tetapi, umat juga selalu merasakan syukur dan karya keselamatan Allah dalam dirinya di kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, Perayaan Ekaristi di Wilayah Pusat Paroki St. Fransiskus Assisi Padangbaru sudah lebih baik dikarenakan adanya fasilitas proyektor – yang menggantikan teks misa yang biasanya dibagikan kepada umat – sehingga saat mengikuti tata Perayaan Ekaristi, terutama menggunakan edisi baru, umat lebih mudah memahami dan semakin khidmat saat mengikuti Perayaan Ekaristi sesuai dengan rumusan yang semestinya.

Liturgi terus diperbaharui. Hal ini tentu membutuhkan waktu sosialisasi agar umat mengenal dan terbiasa dengan pembaharuan tersebut. Umat yang terbiasa dengan Tata Perayaan Ekaristi (TPE) edisi lama masih belum terlalu familiar dengan TPE edisi baru ini. Selain itu, saat ini sudah digunakan juga mazmur edisi baru dalam Perayaan Ekaristi setiap Minggu, sehingga umat memang masih merasa asing dengan mazmur ini.

Sementara itu, di Gereja Stasi St. Ambrosius Tabing, umat cenderung masih lambat mengikuti perubahan. Hal itu disebabkan kurangnya prasarana dan sarana dalam hal mengenali dan memahami TPE edisi baru yang sedang dijalani. Faktor lain, yang tidak kalah penting adalah persiapan para petugas liturgi. Terkadang, beberapa petugas liturgi kurang mempersiapkan diri saat bertugas menyebabkan beberapa umat tidak fokus, sehingga tidak lagi berfokus pada kekhusukannya dalam Ekaristi. Umat jadi lebih memerhatikan kesalahan-kesalahan yang selanjutnya dilakukan petugas. Bila petugas siap, diharapkan Perayaan Ekaristi dapat berlangsung lancar dan umat khidmat mengikutinya.

Upaya yang sudah dilakukan berupa pembekalan dan pelatihan pada seluruh petugas liturgi. Tujuannya untuk memberikan makna dan cara menjadi petugas – tidak sekedar bertugas tetapi juga menyampaikan pewartaan Allah – kepada umat yang mendengar atau melihat. Tidak hanya itu, butuh dukungan beberapa fasilitas, misalnya buku-buku TPE, proyektor – yang dapat membantu umat khusuk selama perayaan liturgi berlangsung.

Diakui, ada juga umat yang merasa canggung dan asing dengan liturgi yang berkembang. Alasannya, umat merasa kurang khidmat saat mengikuti Perayaan Ekaristi. Sebagian lagi berpikir lebih terbuka dan setuju-setuju saja mengikuti tata cara liturgi yang baru. Tantangannya, saat banyak umat menyampaikan ‘ketidakterimaan’ terhadap perubahan dalam liturgi. Seksi liturgi berupaya mendapatkan ide untuk solusi dari beberapa keluhan umat sekaligus mengajak umat berpartisipasi terlibat melayani dalam kegiatan menggereja, antara lain menjadi petugas liturgi. Ini pun menjadi tantangan bagi seksi liturgi.

(Raffuncelina Margaretha Sitanggang
Tim Liturgi Paroki St. Fransiskus Assisi Padangbaru.
Koordinator Seksi Liturgi Stasi St. Ambrosius Tabing)/bud

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *