Di Paroki St. Fidelis a Sigmarinda Payakumbuh terdapat sejumlah umat yang rela dan bersedia sebagai petugas liturgi. Sebagai Seksi Liturgi Dewan Pastoral Paroki (DPP), saya merancang pertemuan rutin tiga bulanan bagi para petugas liturgi. Pada setiap pertemuan tersebut, tidak bosan-bosannya saya selalu mengingatkan bahwa sebelum bertugas, kita mesti menyiapkan diri lahir batin sesuai bidang tugas masing-masing.

Untuk lektor misalnya, petugasnya sudah mengetahui kutipan bacaan yang akan dibawakan satu minggu sebelum bertugas serta meresapkannya dalam hati, sehingga bersungguh-sungguh saat membawakan firman Tuhan. Jadi, tidak hanya sebatas membaca, tetapi juga mewartakan firman. Hal yang sama, saya minta pada petugas yang membawakan mazmur (pemazmur) serta petugas liturgi lainnya. Meski berstatus petugas liturgi, tetap mesti berlatih!

Di Paroki Payakumbuh, para petugas liturgi berasal dari inisiatif/kemauan sendiri bukan berdasarkan penunjukkan. Biasanya, saya meminta daftar nama calon petugas liturgi dari rayon-rayon. Setelah masuk inventarisasi nama petugas, selanjutnya dibina dan dilatih. Singkat kata, sukarelawan petugas liturgi tidak dibiarkan begitu saja melainkan dibekali. Ada pertemuan-pertemuan tertentu. Pertemuan tiga bulanan untuk pembekalan maupun penyegaran. Di sini, Payakumbuh, para petugas liturgi bersifat sukarela dan tidak ditentukan masa baktinya bagi mereka yang bersedia dan mampu. Hanya saja, saat pelatihan berlangsung, tidak semua petugas liturgi bisa mengikutinya, sehingga mereka tidak dapat menerima bahan/materi pembekalan – yang pasti berguna bagi petugas saat melaksanakan tugasnya. Bahkan, bisa berdampak saat mereka bertugas, terutama bila ada hal-hal baru dalam tugasnya.

Terkait dengan respon umat saat Perayaan Ekaristi, beragam. Ada di antara umat yang khusuk dan khidmat, namun terkadang ada yang berbeda, terutama pada bagian balkon gereja. Pada bagian ini, kerap terdengar ramai suara dan agak berisik. Di balkon, biasanya diduduki atau diisi oleh anak remaja. Saya sudah pernah ‘menegur’ dan mendapat tanggapan tentang alasannya: tidak mendengar apa-apa meskipun pengeras suara (speaker).

Masukan itu tentu berguna. DPP pun segera bertindak dengan memperbaiki tata sound-system dalam gereja dengan speaker yang lebih baik. Sudah ada kemajuan. Suara berisik pun semakin berkurang.
Idealnya, kalau umat sungguh-sungguh mengikuti seluruh rangkaian Perayaan Ekaristi, mulai dari awal hingga akhir, saya yakin ada yang ‘didapat’ dan dibawa pulang ke rumah. Hanya saja, terkadang muncul keluhan, “Saya tidak dengar apa-apa”. Masih berkaitan dengan sound-system dalam gereja dan dari sumber suara. Atau, terkadang, ada kekeliruan yang dilakukan petugas liturgi berpengaruh pada umat. Setelah ada perbaikan sound-system, kini jadi lebih baik. Namun, kini, pada umumnya, umat sudah bisa khusuk dan khidmat.

Hingga kini, saya belum mendengar secara langsung ‘keluhan’ dari umat terkait liturgi dalam Perayaan Ekaristi di Paroki Payakumbuh ini; misalnya ada umat yang mengantuk dan merasa jemu atau bosan dengan liturgi yang dijalani, bahkan membandingkan dengan ibadah di tempat lain yang terkesan lebih hidup, hingar-bingar. Saya pernah bertanya pada beberapa umat yang sudah lama tidak datang ke gereja, bahkan ada pula yang berpindah ke agama lain (sebelum saya datang ke Payakumbuh). Saya pernah bertanya, “Apa sebab pindah agama?” Muncul aneka jawaban, antara lain karena pernikahan beda agama, bahkan ada yang menjawab karena khotbah pastor yang tidak menarik/monoton.
Terhadap hal demikian, saya pergunakan kesempatan untuk menjelaskan bahwa sebenarnya Perayaan Ekaristi bukan semata-mata fokus pada khotbah pastor; melainkan merupakan satu kesatuan. Kehadiran Tuhan tidak hanya saat khotbah atau homili, melainkan dari seluruh rangkaian pembuka hingga penutup sebagai satu kesatuan. Saya mendapati, terkadang ada kesalahpahaman di kalangan umat, seakan yang paling penting adalah khotbah atau homili. Hal ini menyiratkan bahwa perlu adanya katekese umat berliturgi dalam Perayaan Ekaristi.

Penting Memahami Tugas
Selama lima tahun berada di Payakumbuh, saya mendapat kesan bahwa umat sungguh menaruh perhatian besar pada bagian homili. Sehingga kalau ada ‘masalah’ selalu masih seputaran tentang homili/khotbah pastor. Utamanya soal volume suara pastor, model/bentuk khotbah yang menarik perhatian umat. Kepada saya, beberapa umat menyampaikan bahwa khotbah tidak usah lama-lama, umat bakal mengantuk bila homili tidak menarik perhatian dan minat umat. Singkat kata, bagian homili mendapat perhatian dan sorotan umat.

Sebagai salah satu tenaga pastoral di Paroki Payakumbuh, saya menganggap penting petugas liturgi yang semakin memahami tugas dan tanggung jawabnya. Untuk para petugas liturgi berlangsung pelatihan tiga bulanan. November 2023 mendatang diselenggarakan rekoleksi bagi petugas liturgi (lektor, pemazmur, dirigen, organis). Di setiap pelatihan maupun pembekalan, saya menekankan petugas liturgi sebagai pewarta sabda, tidak hanya membacakan sabda. Kalau dibawakan dengan baik, sekaligus dapat membantu umat. Begitupun kepada pemazmur, lektor, dan sebagainya punya dan mengemban tugas mulia untuk membawa umat semakin dekat dengan Tuhan. Kalau dibawakan dengan baik, orang akan terbantu mengerti sabda Tuhan. Begitu juga kalau bernyanyi dan bermazmur dengan baik. Tentu saja, kalau asal-asalan akan menimbulkan ketidaknyamanan di gereja saat beribadah.

Tentulah, saya dan Anda berharap ada sesuatu yang dapat dibawa pulang setelah beribadah, tidak sebatas datang, duduk, dengar, diam, dan setelah itu tidak mendapatkan apa-apa usai peribadatan. Saya senang bila ada kesempatan pastor berkatekese sejenak sebelum Misa Kudus dimulai. Saya pun ikut berkatekese sejenak sebelum pertemuan rayon dimulai: bagaimana kita sebagai orang Katolik sungguh memaknai Perayaan Ekaristi? Memang, untuk hal ini, Tim Pastoral Paroki mesti bekerja keras. Selama ini, katekese liturgi memang masih kurang dilakukan. Sungguh memprihatinkan bila muncul kesan di kalangan umat yang memaknai Perayaan Ekaristi sebatas kulit, bahkan menganggapnya layaknya upacara atau pesta semata, bukan sebagai perayaan iman.

 (Sr. Luciani Montolalu, OSF – Petugas Pastoral
Paroki St. Fidelis A Sigmarinda Payakumbuh
dan Kepala SD Pius Payakumbuh)/olahan wawancara/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *