Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Banyak penyesuaian dialami seseorang dalam masa ini, baik aspek fisik maupun mental; termasuk perkembangan hormonal – yang memicu banyak penyesuaian. Begitupun aspek mental, misalnya ada perasaan-perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Peningkatan adrenalin menyebabkan remaja suka mencoba hal-hal baru yang ekstrim – dalam rangka pencarian jati diri.

Juga, hormon tertentu yang memengaruhi penyiapan diri untuk mencari pasangan hidup atau insting untuk berkembang biak. Sehingga pada masa remaja muncul perilaku untuk menarik lawan jenis. Selain itu, pada masa ini juga ada kemarahan-kemarahan yang tidak bisa dibendung, sehingga menimbulkan agresi. Hal-hal tersebut disebabkan peningkatan hormon pada saat seseorang masuk dan menjalani masa remaja.

Pada masa remaja, praktik bullying pun – dalam aneka bentuk dan kadar – terkadang kerap pula terjadi. Perundungan (bullying) merupakan suatu kegiatan yang mempunyai banyak tujuan; misalnya: (1) memperoleh kesenangan (dengan melukai atau bercanda dengan orang lain, atau teman, yang bersangkutan bisa merasa menghibur dirinya, (2) pembuktian diri, bahwa bisa dirinya ‘lebih’ dari pada teman yang lain yang di-bully. Bahkan, bullying bertujuan untuk menarik lawan jenis. Individu bersangkutan mem-bully karena merasa lebih pantas daripada orang lain,. Yang bersangkutan merasa lebih pas untuk mendapat ketertarikan dari lawan jenis.

Apa saja yang kerap menjadi bahan bully-an? Apa pun atau obyek yang dapat diperbandingkan menjadi bahan perundungan; misalnya: tinggi badan, nilai ulangan/ujian, kondisi ekonomi, atau penampilan yang kurang, prestasi (olah raga), nama yang dianggap lucu, dan sebagainya.

Dari aspek psikologis, remaja yang mengalami perundungan (bullying) berarti mengalami penyerangan terhadap eksistensi/keberadaan diri dan penghargaan dirinya. Korban merasa dirinya kurang berharga, kurang berarti. Selanjutnya, individu bersangkutan ‘melabelkan dirinya’ tidak bisa ini atau tidak bisa itu! Hal ini bisa menghalangi seseorang untuk mencoba suatu hal yang baru untuk pengembangan dirinya. Dampak lainnya, bisa muncul depresi, perasaan terpuruk bagi korban perundungan, baik fisik maupun non fisik. Seseorang bisa merasa takut dan sulit bangkit kembali. Juga memunculkan trauma karena ‘dibegitukan’ oleh kawan di sekolah misalnya. Korban menolak untuk bertemu dengan teman-teman yang membully-nya.

Dampak lain perundungan berupa kemungkinan terjadinya reaksi perlawanan atau agresi yang berlebih, cenderung berbahaya, dan bersifat represif. Mungkin, korban tidak bisa ‘membalas’nya sekarang pada teman-teman yang membully-nya, namun nanti/kelak akan dibalas pada anak-anak temannya. Atau, dibalas di lain waktu, pada waktu kuliah; atau pada adik kelasnya yang lain. Perundungan (bullying) dapat membuat korban masuk dalam ‘lingkaran setan pembullyan’. Karena korban akan terus di-bully dan menjadi sub-marjinal terus. Seseorang atau individu menjadi ‘langganan’ yang terus di-bully; misalnya saat SD, SMP, SMA, dan seterusnya.

Bagi remaja yang pernah di-bully, berikut tips sederhana yang kiranya berguna. Pertama, bersikap asertif! Tatkala dirundung, remaja bersangkutan bisa langsung mengatakan atau membilang bahwa dirinya tidak seperti dikatakan. “Kamu tidak pantas bicara seperti itu!” merupakan kalimat asertif tatkala bullying terjadi. Kalau cara tersebut belum mempan/efektif, ‘korban’ bisa menghubungi pihak-pihak yang mempunyai wewenang/otoritas di tempat tersebut; misalnya guru, kepala sekolah.

Tips lainnya: hindari saja orang-orang yang suka mem-bully tersebut dan jangan bereaksi! Kalau di-bully misalnya, individu tersebut tidak perlu berteriak-teriak ataupun menangis sejadi-jadinya. Mengapa? Sebab, kalau hal tersebut dilakukan korban, maka pelaku perundungan cenderung akan mengulangi bullyan-nya. Hal sebaliknya, kalau ‘korban’ tidak memberikan reaksi apa pun, pelaku perundungan merasa tidak dihiraukan, tidak mendapat tanggapan yang diinginkannya. Kalau sudah dalam keadaan begini, pelaku akan diam dengan sendirinya.

Apa yang dapat dilakukan agar remaja tidak mem-bully teman sebayanya? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya menganggap sebagai suatu hal yang kompleks, bagaikan rantai yang saling berkaitan; yakni (kondisi) pendidikan karakter remaja tersebut di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, apabila remaja kerap menyaksikan orangtuanya saling memaki di rumah, maka remaja tersebut juga akan dengan gampang atau mudahnya memaki temannya. Sebab itu, dari rumah, harus dipersiapkan pendidikan karakter: setiap orang punya kedudukan yang sama/setara. Atau, remaja menyadari dampak buruk bila mem-bully orang lain.

Selain itu, penting adanya pendidikan karakter di sekolah serta pembekalan rohani spiritual dan agama. Remaja menyadari bahwa setiap orang mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada alasan untuk mem-bully orang lain. Setiap orang spesial dan unik. Patut dicermati, apakah ada agen atau orang yang suka mem-bully dalam lingkungan (pergaulan) sehari-hari?! Hal ini penting, karena kalau ada, bisa berpotensi akan ditiru atau diimitasi oleh pihak lain. Sebab itu, berbagai dimensi ini harus mendapat perhatian agar tidak terjadi perundungan pada sesama. Bahkan, penghargaan pada sesama merupakan hasil integrasi semua hal yang telah berlangsung sejak anak usia dini. (***)

Diasuh oleh: Theresia Indriani Santoso, S.Psi., M.Si
(Psikolog, Pendiri SMART PSY Consulting Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *