Salah satu tugas yang saya jalani sebagai Seksi Liturgi Wilayah Pusat adalah menyiapkan daftar petugas liturgi wilayah. Giliran tugas berdasarkan lingkungan. Di Wilayah Pusat terdapat 11 lingkungan. Satu hari sebelum Perayaan Ekaristi (Minggu) berlangsung persiapan umum (general repetisi/GR). Ini menjadi waktu persiapan bagi para petugas, antara lain pemazmur, lektor, misdinar, dirigen. Di Wilayah Pusat selalu ada pastor yang mempersembahkan Misa Kudus.

Bagaimana cara mendapat kesediaan umat sebagai petugas liturgi? Selama ini, kebutuhan tenaga yang disiapkan Seksi Liturgi Wilayah Pusat adalah dirigen, pemazmur, lektor, dan petugas doa umat. Dari setiap lingkungan di Wilayah Pusat, terdapat sebelas lingkungan, dimintakan daftar nama warga yang bersedia sebagai petugas liturgi. Tentu saja, perlu persiapan yang matang dan mantap agar para petugas yang telah ditentukan tersebut dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar pada hari “H”, pada waktu yang telah ditentukan. Tentu saja, pembagian tugas di antara para petugas liturgi tidak luput dari pilihan sendiri berdasarkan bakat, minat, dan ‘keahlian’ masing-masing.

Para ‘sukarelawan’ petugas liturgi juga mendapat pembekalan – yang juga menjadi program Dewan Pastoral Paroki/DPP dan Wilayah. Dari setiap seksi, termasuk Seksi Liturgi, berupa pembekalan atau pelatihan khusus liturgi, minimal sekali hingga dua kali setahun. Tergantung pada kebutuhan. Yang pasti, pembekalan/pelatihan dijalani, dialami oleh para (calon) petugas liturgi sebelum melaksanakan tugasnya. Tentu ada perkembangan yang dialami oleh petugas liturgi tersebut saat melaksanakan tugas atau tanggung jawabnya. Memang, tetap ada persiapan akhir jelang hari bertugas.

Memang, adakalanya, tidaklah semulus dan selancar yang dipikirkan. Juga terdapat kendala. Saat general repetisi (GR) misalnya, tidak semua petugas terkait bisa hadir berlatih tepat waktu. Biasanya, GR berlangsung pada Sabtu sekitar jam tiga sore. Alasannya, pada waktu tersebut, ada petugas yang masih berada di kebun sawitnya atau mengikuti undangan/pesta. Maka, sebagai seksi liturgi juga berlatih sabar menunggu kehadiran para petugas yang mendapat giliran bertugas.

Dari ‘evaluasi’ umat terhadap para petugas liturgi, muncul beragam penilaian. Ada yang menilai petugas tertentu sudah bagus melaksanakan tugasnya, namun ada pula yang masih perlu perbaikan. Walau telah dilatih, masih ada yang dipandang masih ada kekurangannya. Selain itu, ada pula yang menilai para petugas seakan sedang tampil (show) di pentas. Biasanya, penilaian ini lebih terarah pada kalangan perempuan. Adalah hal yang wajar bila kaum perempuan ingin tampil yang terbaik saat melaksanakan tugasnya, termasuk berhias diri. Memang, para petugas liturgi mengenakan perlengkapan/busana khusus penanda petugas liturgi. Namun, tetap tak terhindarkan adanya anggapan/komentar umat, seakan mereka sedang melaksanakan tugas show.

Para petugas liturgi diharapkan selalu memerhatikan kalender liturgi. Untuk lektor misalnya, dengan pedoman kalender liturgi, telah mengetahui kutipan Kitab Suci yang akan dibawakan. Ini berarti ada kesempatan untuk berlatih agar melaksanakan tugasnya dengan maksimal dan terbaik. Tentulah, umat pun akan tertolong meresapkan Firman Tuhan yang dibawakan dengan baik oleh sang lektor. Saya pun yakin dan percaya para petugas liturgi ingin memberikan yang terbaik saat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Tidak hanya harapan saya sebagai Seksi Liturgi Wilayah Pusat namun juga umat.

Idealnya, para petugas liturgi memberi hati dan perhatiannya pada tugas dan tanggung jawabnya. Pikiran pun fokus pada pelaksanaan tugasnya. Mereka menyadari sedang melaksanakan tugas mulia, antara lain mengantarkan Firman Tuhan kepada umat. Lektor tidak semata-mata membaca perikop Kitab Suci namun juga agar kutipan Kitab Suci tersebut sunggguh dapat diterima dan diresapkan umat. Untuk tujuan yang sama juga berlaku bagi pemazmur, dirigen, misdinar, kelompok paduan suara. Saya dan kita mempunyai harapan bahwa ada sesuatu yang ‘dibawa pulang’ selepas Perayaan Ekaristi maupun Perayaan Sabda – yang berguna untuk menjalani kehidupan selanjutnya.

Yang pasti, para petugas liturgi bukanlah asal comot dan tidak sembarangan. Bahkan, boleh saya katakan orang-orang terpilih. Selain itu, sebagai Seksi Liturgi, saya berharap umat pun bisa berpartisipasi secara penuh dalam liturgi Gereja. Semuanya ikut ambil andil atau terlibat.

(Gabriel Sidabutar – Seksi Liturgi Wilayah
Pusat Paroki St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus Kandis sejak tahun 2018.
Seksi Katekese DPP. Prodiakon).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *