Ada kalanya hidup ini diwarnai dengan kesedihan, tak melulu kebahagiaan dan tawa. Perasaan sedih ini muncul karena ada reaksi emosional terhadap suatu hal yang tidak berjalan semestinya atau tidak sesuai dengan harapan. Dalam kehidupan ini, seseorang mendambakan hidup bahagia dan penuh kegembiraan. Hanya saja, kehidupan tidaklah selalu manis. Adakalanya, kepahitan, kegetiran hidup melanda manusia yang berujung pada kesedihan dan duka cita.

Perasaan sedih muncul sebagai reaksi normal ketika seseorang mengalami stres, misalnya ketika ada kerabat atau keluarga yang meninggal, kehilangan sosok yang dicintai, baru saja bercerai, tidak mencapai target, merasa putus asa, atau baru diberhentikan dari pekerjaan. Setelah masa sulit tersebut usai, biasanya perasaan sedih akan hilang dengan sendirinya. Sebenarnya, rasa sedih juga memiliki dampak positif, meskipun tidak pernah kita sadari. Kesedihan membuat kita lebih menghargai kehidupan dan memupuk rasa peduli terhadap orang lain.

Menurut Wikipedia, kesedihan adalah suatu emosi yang ditandai perasaan tidak beruntung, kehilangan, dan ketidakberdayaan. Saat sedih, manusia sering menjadi lebih diam, kurang bersemangat, dan menarik diri. Kesedihan dapat juga dipandang sebagai penurunan suasana hati. Menangis adalah salah satu indikasi dari kesedihan. Kesedihan adalah lawan dari kebahagiaan atau kegembiraan dan serupa dengan dukacita atau kesengsaraan. Kesedihan juga merupakan salah satu dari “enam emosi dasar” yang dijelaskan oleh Paul Ekman, bersama dengan kebahagiaan, kemarahan, kejutan, ketakutan, dan jijik. Kesedihan juga bisa di artikan sebuah rasa atau perasaan dimana ketidak sanggupan menghadapi permasalahan yang ada dan permasalahan yang dialami.

Terdapat pandangan keliru seakan ada ‘kesamaan’ antara perasaan sedih dengan depresi. Berbeda dengan rasa sedih, depresi berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini merupakan gangguan mental serius yang dapat mengancam kesehatan psikis dan fisik. Jika depresi tidak diobati, sangat kecil kemungkinannya untuk bisa sembuh dengan sendirinya.

Apa saja penyebab kesedihan? Sejumlah facebookers menanggapi survei kecil-kecilan yang diadakan kru GEMA. Lewat chatt messenger, facebookers Asterius Situmorang dari Pekanbaru mengungkap dua hal, yakni rasa kehilangan tatkala ibunda tercinta meninggal dunia pada 12 Januari 2019. “Kesedihan juga melanda setiap kali anak saya sakit,” tulis Asterius.

Hampir senada disampaikan Ambrosius Forlin dari Sagulubek, Siberut Barat Daya, Mentawai. “Perasaan sedih saya saat kepergian seorang ayah tercinta!” tulisnya. Veronika The, seorang guru di Payakumbuh menyatakan kesedihan teramat dirasakannya bila ada anggota keluarga yang sakit. “Kesedihan luar biasa di kala munculnya penyesalan akibat pernah menyedihkan hati orangtua yang kini telah tiada, dipanggil Tuhan Yang Mahakuasa. Makanya, dalam setiap doa, intensi untuk mama dan papa selalu selalu disebut. Semoga Tuhan Yesus membahagiakan mereka di Surga,” ungkap Veronika di chatt messenger pribadinya.

Lain lagi ungkapan tertulis Leonardus lewat chatt messenger kepada kru GEMA. “Saya sedih ketika saya tidak sanggup membantu sesama yang berkekurangan. Saat itu, saya sungguh merasa tidak berdaya. Selain itu, saya sedih tatkala kurang mensyukuri rahmat Tuhan yang selalu dirasakan setiap waktu,” ungkap Leonardus yang bekerja di Puskesmas Peipei Pasakiat Taileleu, Siberut Barat Daya.
Apa faktor pemicu munculnya kesedihan? Sedih biasanya dipicu oleh kesulitan hidup, sakit hati, atau suatu peristiwa yang tidak menyenangkan (misalnya kematian orang terdekat, perceraian). Manusia cenderung merasa sedih karena ada peristiwa atau faktor pencetus/penyebabnya yang jelas. Berbeda dengan depresi, yang tidak selalu muncul saat terjadi peristiwa atau situasi tertentu. Bahkan, depresi kerap terjadi tanpa ada faktor pemicu yang jelas. Orang depresi cenderung merasa sedih atau hampa setiap waktu meski tidak ada peristiwa yang menimpanya.

Atasi Kesedihan
Perasaan sedih biasanya bersifat sementara dan akan menghilang dengan sendirinya, seiring waktu ketika peristiwa sulit telah berlalu. Memang, ketika sedih, seseorang cenderung meluapkannya dengan menangis atau menyadari sementara waktu hingga perasaan sedih tersebut tiada. Saat hidup terasa sulit dan perasaan sedih melanda, beberapa upaya/cara dapat dilakukan untuk meringankan perasaan. Memang, cara untuk mengatasi kesedihan setiap orang tidak sama, berbeda-beda.

Berikut upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesedihan: (a) memanjakan diri dengan melakukan perawatan kecantikan di salon kecantikan atau spa, mengonsumsi makanan enak yang disukai, menonton film atau serial komedi, mendengarkan lagu penyemangat, atau pergi berlibur atau jalan-jalan untuk beberapa hari; (b) rutin berolahraga dan istirahat yang cukup; (c) melakukan meditasi atau mandi air hangat sebelum tidur, jika rasa sedih menyebabkan sulit tidur; (d) curhat atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat, atau bermain dengan binatang peliharaan.

Upaya lain: (e) jangan pernah menyembunyikan kesedihan yang dialami. Ekspresikan perasaan dan luapkan saja apa saja yang ada dalam hati. Menangislah agar lebih lega, (f) selalu mengingat orang terkasih dapat menjadi terapi untuk menghilangkan kesedihan, (g) mengisi waktu dengan hal positif yang disenangi bakal membuat suasana hati lebih sehat, termasuk aktivitas hobi, (h) perluaslah jaringan pertemanan, (i) lakukanlah aktivitas sosial, (j) berganti suasana lewat kegiatan traveling dapat membuang kesedihan jauh-jauh, karena dapat melihat alam dan suasana baru, maupun orang-orang baru, (k) bergabunglah dalam komunitas atau bergabung dalam grup penyokong (support group) – termasuk terlibat dalam kelompok kategorial kegerejaan.. Dekati Sang Mahakasih: berdoa dan bersyukur dalam sedih maupun bahagia. Singkat kata, jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan! Jangan pernah merasa kesepian ketika sedang bersedih. Anda tidak sendiri, karena ada anggota keluarga maupun kelompok/komunitas.(hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *