Setiap minggu pertemuan dan berdinamika di dalamnya. Inilah hal menarik yang didapatkan Yunus Permana Hasiholan Simarmata (26), biasa disapa Yunus, saat aktif dalam kegiatan OMK. “Jujur saja, saya sangat suka berdinamika dalam organisasi dan harapan saya setiap OMK harus berdinamika supaya perubahan nyata dalam dirinya sungguh aktual. Organisasi yang mempunyai nilai (value) adalah organisasi yang telah melewati banyak dinamika di dalamnya,” ucapnya.

Yunus merupakan warga OMK Lingkungan St. Theresia Paroki Santa Maria Ratu Rosario Baganbatu-Riau. Pemuda kelahiran Medan 9 Juli 1997 ini merupakan anak tunggal dari pasangan Ir. Dame RG Simarmata dengan Hotma Rospita Haselina Siahaan. Yunus hobi berkebun dan travelling. Ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha.

Saat ini, alumni Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara (USU) ini menjabat Ketua OMK Paroki dan Ketua OMK Wilayah Pusat Parokinya periode 2023-2026. Yunus bersedia sebagai Ketua OMK karena dirinya terpanggil untuk beroganisasi Katolik di paroki tempat tinggalnya. Yunus sempat vakum berorganisasi selama tiga tahun karena kesibukannya membantu sang ayah mengelola kebun kelapa sawit.

Menurutnya pertemuan OMK Keuskupan Padang di Paroki Air Molek merupakan pengalaman yang berkesan. Dirinya bisa bertukar pengalaman antarketua OMK perihal cara mengatasi hambatan dan rintangan yang pasti terjadi dalam sebuah organisasi. “Saya sadar sebagai domba yang hilang dan hijrah ke OMK, karena merasa sangat tertantang berbagi pengalaman berorganisasi saat di kampus,” ucapnya.

Yunus telah aktif berorganisasi dan kepanitiaan saat kuliah, seperti terlibat dalam kepengurusan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) St. Ignatius de Loyola Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU dan Keluarga Besar Mahasiswa Katolik (KBMK) St. Yohanes Pembaptis. Selama masa pendidikan di Medan, menurutnya hal yang sangat berkesan adalah persaudaraan yang sungguh kuat, militansi Katolik yang begitu hebat, ditambah lagi struktural organisasi yang sangat rapi. “Bisa dibilang, organisasi kampus bukan tanggungjawab keuskupan, namun Komisi Kepemudaan sangat ramah dan mendukung kami, misalnya pemakaian Aula Gedung Catholic Center (CC). Hanya bayar uang listrik saja ketika ada misa bulanan orang muda. Pastor Komisi Kepemudaan pun sangat aktif memberikan pelayanan misa bagi kami,” ujarnya. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *