BANGKINANG – Empat puluh lima krismawan-krismawati dari Wilayah III dan Wilayah IV Paroki Santo Paulus Pekanbaru menerima Sakramen Krisma. Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin menerimakan Sakramen Krisma di Gereja Katolik Santo Yosef Stasi Salo – Bangkinang, Selasa (29/8) siang.

Pada salah satu cuplikan homili, Bapa Uskup mengatakan, “Gereja kita tetap hidup dan berkembang, karena kehadiran orang-orang muda. Memang benar, Krisma juga diberikan kepada orang dewasa, bahkan sudah tua usianya. Bersama dengan orang muda, mereka yang telah lanjut usia pun menjadi bersemangat muda. Gereja kita tidak hanya sebatas pada perayaan-perayaan besar seperti pada kesempatan kali ini.”

Sementara itu, pada bagian lain homilinya, Bapa Uskup menyatakan, “Roh Kudus yang diterima dapat memberi semangat pada orang, menyentuh manusia lewat kata dan kalimat bukan untuk menyakiti orang ataupun menyebarkan kebencian. Melainkan untuk memberi penghiburan, kabar suka cita, damai. Roh Kudus yang diterima memberi kemampuan penerima Krisma untuk berkata-kata. Di mana pun berada, entah di tempat kerja, sekolah, kita menjadi Saksi Kristus. Kelak, suatu ketika, setiap kita mesti mampu menampilkan diri sebagai Saksi Kristus, menjadi orang Katolik yang sungguh-sungguh dewasa. Bangga menjadi umat Katolik serta menjadi orang Katolik yang sejati!”

Usai Perayaan Ekaristi yang khidmat dan disemarakkan dengan paduan suara stasi setempat, berlangsung acara ramah-tamah di halaman depan gereja. Bapa Uskup, Parokus, dan dua diakon yang bakal ditahbiskan sebagai imam Xaverian (Diakon Kampianus Ordin Jemanu dan Diakon Yohanes Morgany) manortor bersama umat setempat. Umat terlihat antusias mengikutinya. Pengurus stasi setempat pun melakukan penggalangan dana untuk rencana pembangunan sisi kiri-kanan bangunan gereja. Anak-anak yang tergabung dalam kelompok Bina Iman Anak (BIA) Sekami serta OMK setempat ikut mengisi acara hiburan berupa sumbangan acara tarian.

Pada kesempatan ramah-tamah ini, sembari mengucapkan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kedatangan Bapa Uskup, Ketua Wilayah III, E. Sinaga mengungkapkan ‘kondisi’ wilayah yang dipimpinnya. “Di Wilayah III terdapat lima stasi; yakni Stasi Salo, Siabu, Danau Koto Panjang, PT. Johan, dan Bukit Payung. Wilayah IV terdiri dari tiga stasi, yakni Stasi Tambusai, Pancuran Gading, dan Sari Galuh. Penerimaan Sakramen Krisma dipusatkan di Stasi Salo. Kita doakan saudara-saudari yang baru saja menerima Sakramen Krisma agar diberi kekuatan dan keteguhan, serta menjadi Saksi Kristus untuk diri sendiri dan di tengah masyarakat.

Sementara itu, dalam sambutannya, Pastor Paroki, P. Yulius Tangke Bandaso, SX mengatakan, “Dalam rangka mengisi Tahun Komunitas Basis Gerejawi Keuskupan Padang, maka penting tumbuhnya semangat kebersamaan, pertemuan, paguyuban di antara umat. Semoga kebersamaan umat di tingkat kring, stasi, wilayah, dan paroki semakin meningkat dan berkembang. Hal itu mungkin terjadi kalau ada kesatuan, kekompakan, dan kebersamaan kita. Sebab itu, saya mengajak umat untuk memupuk kebersamaan dan paguyuban kita. Hal itu mungkin terlaksana bila daya Sakramen Inisiasi yang kita terima sungguh-sungguh tinggal, berkarya, dan bekerja dalam diri setiap umat.”

Pada bagian akhir rangkaian sambutan dalam acara ramah-tamah, Bapa Uskup mendukung upaya umat menggalang dana dalam rangka rencana pembangunan ‘sayap kanan dan kiri’ bangunan gereja Stasi Salo. Uskup Vitus juga memberikan apresiasi kepada umat di Wilayah IV yang juga sedang berjuang untuk juga dapat mempunyai gereja permanen. Bapa Uskup memuji kekompakan umat tatkala berkunjung ke Stasi St. Agustinus Pancuran Gading. “Kita tidak bisa meninggalkan umat di stasi tersebut walau belum mempunyai gereja permanen. Maka, kita pun akan sangat mendukung niat dari umat stasi setempat untuk mempunyai gereja yang lebih baik, lebih luas dan besar dibandingkan sekarang,” ucap Bapa Uskup.

Terkait Komunitas Basis Gerejawi (KBG), dalam percakapan sebelumnya (28/8), tambah Bapa Uskup, diwujudkan dengan cara saling membantu. “Stasi-stasi saling bantu, sebagaimana yang dilakukan di sini. Berjalan bersama, mengumpulkan uang bersama. Hal tersebut menunjukkan kemurahan hati dari antara kita. Inilah kemandirian Gereja. Dari sana, keuskupan melalui paroki ikut serta mendukung. Untuk keperluan pembangunan gereja dan perkembangan umat, tentulah kita memberikan dukungan sepenuhnya,” kata Uskup Vitus.

GEMA yang berada di lokasi tertarik dengan ujaran yang muncul dalam sambutan Bapa Uskup, terkait dengan ‘wacana’ pemekaran Paroki Santo Paulus Pekanbaru di Wilayah III dan IV yang disampaikan Ketua Wilayah III. “Jangan berhenti sebatas wacana di sini! Kita akan terus maju. Namun, sejumlah hal sebagai persiapan mesti dilakukan; semisal gereja, pastoran – sebagai tempat tinggal pastor. Sebelum menjadi paroki definitif, terlebih dahulu berstatus kuasi paroki yang terus berkembang dalam waktu satu hingga tiga tahun. Tentu saja, stasi-stasi yang ada akan diperhitungkan masuk dalam wilayah pemekaran paroki tersebut. Maka, kita akan lihat untuk beberapa waktu ke depan: apakah di Wilayah III ini ‘berpotensi’ menjadi pusat pemekaran paroki baru?!” tandas Bapa Uskup.

Hal lain yang menarik perhatian GEMA di lokasi berkaitan dengan ketersediaan tenaga pastoral apabila pemekaran paroki benar-benar berlangsung. “Dari tenaga (pastoral), tidak bisa banyak diharapkan dari Xaverian. Besok (30/8), saya akan menahbiskan dua imam baru Xaverian. Namun, ternyata bukan untuk Keuskupan Padang. Kita bisa berupaya minta pada provinsial Xaverian Indonesia untuk penempatan tenaga pastoral di wilayah tertentu. Tentu, selain diharapkan bertambahnya imam Keuskupan Padang, kita juga berharap semakin bertambah imam Xaverian, sehingga bisa membantu Keuskupan Padang juga. Semoga impian kita ini dapat terealisir suatu waktu kelak,” ungkap Uskup Vitus mengakhiri sambutannya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *