Berkaitan Tata Perayaan Liturgi Inkulturasi di Paroki St. Maria Auxilium Christianorum Sikabaluan, Siberut Utara, Mentawai, biasanya memakai Bahasa Mentawai pada minggu pertama dan ketiga setiap bulan. Pastor memakai buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) berbahasa Mentawai. Pada minggu kedua dan keempat, Misa Kudus dalam Bahasa Indonesia. Misa dalam dua bahasa ini dilakukan di pusat paroki dan stasi-stasi. Pada kesempatan tertentu, dalam dalam pesta Gereja Katolik selalu ada inkulturasi dari nilai budaya setempat.

Sementara itu, di gereja pusat paroki dan stasi, petugas liturgi biasanya mengadakan latihan sebelum Perayaan Ekaristi maupun Perayaan Sabda. Tujuannya, agar umat yang hadir bisa memahami pesan Kitab Suci. Begitu juga dengan lagu-lagu yang dibawakan. Tata liturgi bernuansa Mentawai digunakan pada perayaan besar; misalnya saat prosesi tahbisan imamat, pemberkatan gereja, Misa Paskah dan Natal. Nuansa Mentawai terlihat saat tari turuk laggai dipakai pada penyambutan tamu, serta dengan pengalungan kalung manik-manik khas Mentawai. Hanya saja, umat mengalami kesulitan ketika bernyanyi, tidak sesuai nada lagu atau notasi not yang dinyanyikan. Ada juga umat tidak mau bernyanyi bersama. Sejauh ini, petugas liturgi di Paroki Sikabaluan mengalami kendala karena partisipasi umat kurang. Belum semua umat memahami tata liturgi baru dalam Perayaan Ekaristi.

Hal itu juga dialami sebelumnya tatkala saya bertugas pastoral di Paroki Stella Maris Betaet. Selama empat tahun di paroki tersebut, belum ada pembekalan atau pendampingan umat berkaitan dengan Misa Inkulturasi. Kondisinya tidak jauh beda di Paroki Sikabaluan. Padahal, Misa Inkulturasi merupakan kekayaan budaya setempat yang begitu unik dan bisa digali banyak nilai yang baik. Umat sangat membutuhkan adanya pembekalan tata liturgi Inkulturasi ini agar tahu Misa Inkulturasi diterapkan.

Pengalaman suka-duka saya lalui selama setahun di Paroki Sikabaluan ini. Saya melihat para petugas liturgi dan umat belum fokus menghayati Perayaan Sabda dan Perayaan Ekaristi. Dalam Misa Kudus, umat kurang terlibat dalam jawaban-jawaban dari pernyataan imam. Selaku petugas pastoral, termasuk pastor, di paroki, kami sudah berusaha mengarahkan umat dan berkatekese mengenai tata liturgi, termasuk yang baru. Namun, umat kurang menerima tata liturgi yang baru, masih mempertahankan dan berpedoman pada tata liturgi lama. Petugas pastoral paroki berharap kesadaran umat berpartisipasi aktif dalam Perayaan Ekaristi maupun Perayaan Sabda, sadar, dan penuh semangat. Umat juga menyadari dan mau menerima perubahan-perubahan Tata Liturgi yang baru.

(Sr.Imel Gori ALMA
Koordinator Liturgi Paroki St. Maria Auxilium Christianorum
Muara Sikabaluan, Siberut Utara, Kepulauan Mentawai) olahan wawancara/ben.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *