“Hal apa sajakah yang membahagiakan para orang tua di masa tua? Pertama, kalau anaknya bertumbuh dengan baik, baik aspek fisik, mental, maupun rohani spiritual. Hal lain, contohnya prestasi, karir, nama besar adalah ‘pelengkap atau penambah’ kebahagiaan orangtua. Kedua, bila bisa mengantar anaknya dan menyaksikan penerimaan sakramen-sakramen, termasuk pernikahan anaknya atau hadir saat tahbisan imamat anak lelakinya maupun kaul kekal anak perempuannya,” ungkap Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Padang, P. Pardomuan Benedictus Manullang, Pr. kepada GEMA, Kamis (12/10).

Ketua Pengurus Yayasan Prayoga Padang dan Ekonom Keuskupan Padang ini menambahkan, “Kalau mau ‘menciptakan’ kebahagiaan, mestilah terus berkesinambungan menyerukan pada keluarga tentang kebahagiaan, berkat yang bisa diperoleh dari rahmat Sakramen Perkawinan. Hidup berkeluarga. Kebahagiaan bukan karena punya banyak materi saja,” Petikan wawancara selengkapnya.

Apa pengamatan umum pastor terhadap kehidupan para manusia usia lanjut/manula masa kini?
Untuk mengetahui tentang kondisi orang tua atau kakek-nenek dan bagaimana perlakuan keluarganya; saya bisa berkunjung ke panti lansia, panti jompo. Dari sini, saya mendapat informasi perihal manula atau orang lanjut usia (lansia) yang merasa seakan ‘dihindari’ oleh anak dan cucu mereka. Anak dan cucu cenderung takut merawat orangtuanya. Tidak mau repot, sehingga menempatkan mereka di tempat yang dianggap bisa merawat dan memberi perhatian kepada orangtua mereka. Itu tampak dari wawancara yang saya lakukan dan bertanya, “Kapan terakhir opa/oma/kakek/nenek dikunjungi oleh anggota keluarga (anak-cucu)?”
“Sudah lama saya tidak dikunjungi, Pastor!” Bahkan, ada di antaranya bertahun-tahun tidak dikunjungi anak cucunya. Itu satu indikasi/pertanda bahwa keluarga, terutama anak, tidak mau direpotkan dengan kondisi orangtuanya yang mulai terbatas dalam segala aspek. Keterbatasan fisik maupun pemikiran – sering lupa serta sering marah-marah. Di panti jompo, mereka tidak dikunjungi secara konsisten oleh anak cucunya.
Tetapi, saya juga menemukan/mendapati situasi kondisi anak yang tetap merawat orangtuanya di rumah, meski mulai muncul sikap kerap marah pada anaknya sendiri. Terucap pengakuan yang bersangkutan, “Kadang, kesal juga, Pastor!” Ya, tentu saja ada kekesalan tersendiri dialami. Walau begitu, anak bersangkutan tetap merasa senang bisa mengurus orangtua di masa tuanya.
Mereka, para lansia, umumnya cerewet, mudah marah dan tersinggung, bikin pusing kepala anaknya. Lama-kelamaan hal tersebut dapat diterima oleh anaknya, serta tetap taat dan telaten mengurusi orangtuanya.

Apa penyebab dari kondisi tersebut, Pastor?
Di satu sisi, anak dari para lansia juga telah mempunyai keluarga (istri/suami serta anak). Berarti, dia harus memperhatikan dan merawat keluarganya! Di sisi lain, saya dapati, mereka yang tetap bisa merawat orangtuanya karena tidak menikah walau telah berumur 50 tahun. Hal ini memungkinkannya bisa merawat orangtuanya, punya kesempatan ‘berbakti’ atau membalas budi, serta mengurusi orangtuanya – yang telah membesarkan dan merawatnya selama ini hingga mampu mandiri.

Saya menemukan, ada orang tua yang mapan secara ekonomi, seorang dokter berpengalaman yang mempunyai apotek, namun punya anak yang terpencar domisilinya, bahkan ada yang di luar negeri. Kesempatan ngumpul bersama orangtua hanya pada waktu tertentu saja. Bahkan, kini, telah mencapai usia 80 tahun dan tidak lagi buka praktik karena mulai tremor di tangannya. Ia merasa ada ‘wilayah kosong’ tatkala anak-anaknya terpencar-pencar domisilinya. Tatkala saya berkunjung untuk memberikan Komuni Kudus atau merayakan ulang tahun perkawinan, saya merasa seakan dianggap seperti anaknya sendiri. Boleh dikatakan, dalam situasi seperti itu, orang tua atau lansia tersebut tidak butuh uang lagi.

Mereka butuh dialog/percakapan maupun rekreasi bersama dengan anak cucu. Waktu bersama dengan anak dan cucu sungguh merupakan kerinduan kakek dan nenek. Hanya saja, waktu bersama anggota keluarga ini semakin tergusur dari waktu ke waktu akibat kesibukan masing-masing. Boleh dikata, semakin sedikit kita dapati keluarga bisa berkumpul tiga hingga empat generasi bersama-sama.

Dalam salah satu bagian pesan pada Hari Kakek Nenek dan Lanjut Usia III 2023, Bapa Suci menulis, “Tuhan menghendaki kita untuk tidak meninggalkan para lanjut usia atau menyingkirkan mereka ke pinggiran hidup kita, seperti tragedi yang sering terjadi dalam zaman kita.”. Apa tanggapan Pastor!
Hal itu terjadi karena anak-cucu atau anggota keluarga tidak mau direpotkan untuk mengurusi orang tua, dan memilih untuk memasukkan mereka ke panti jompo. Anak tidak mempermasalahkan biaya/pendanaan untuk penanganan orangtuanya di panti jompo.
Tentu saja beda penanganan lansia oleh anak-cucu sendiri dengan para petugas professional di panti jompo – yang menerima gaji/upah. Kalau lansia ‘diurus’ anak-cucu sendiri, ada dimensi relasi emosional dan perawatan sepenuh hati. Tatkala kita berkunjung ke panti jompo, pastilah bakal ditemukan suasana yang tidak sedap, atmosfer dan suasana para lansia yang sedang sakit.

Orangtua melahirkan, membesarkan, mendidik anaknya agar ‘menjadi orang’ kelak. Semuanya itu dilakukan orangtua tanpa main hitung-hitungan matematis. Tibalah waktunya anak-anak membalas budi orangtuanya dengan memperlakukan apa yang dilakukan orangtua kepada anak-anaknya. Ada benar juga ungkapan ‘satu ibu bisa mengurus sepuluh anaknya, namun sepuluh anak belum tentu bisa mengurus seorang ibunya’. Memang, ada pula juga seorang anak bisa mengurusi ayah ibunya yang telah uzur. Mungkin, itu adalah satu dari seribu kasus. Ini bisa jadi pembelajaran bagi anak-anak tentang hal yang selayaknya dilakukan kepada orang tua (ayah ibu).

Pada bagian lain pesan Bapa Suci ditulis tentang persahabatan dengan orang yang lebih tua dapat membantu orang muda untuk melihat kehidupan tidak hanya dari sudut pandang masa kini. Pendapat pastor?
Terkait ‘sejarah’ keberadaan kita selaku anak-cucu dapat diketahui lewat orangtua. Tentang kondisi ekonomi keluarga saat seseorang dilahirkan misalnya. Pergaulan dengan orang yang lebih tua, tidak sebatas dengan orangtua kandung – ayah ibu – melainkan dengan orang lain yang lebih tua usianya, dipastikan akan sungguh memperkaya pemahaman seseorang menghadapi keadaan atau situasi yang berat dan menantang pada masa kini dan mendatang.

Bergaul dengan orang tua merupakan suatu pelajaran tentang kebijaksanaan hidup, melalui proses pertumbuhan dan pendewasaan, dalam dialog, dan relasi dengan orang lain.
Belajar dari orang Yahudi – menurunkan tradisi nilai-nilai dalam keluarga saat makan bersama serta kesempatan kebersamaan – seperti terdapat dalam Perjanjian Lama Kitab Ulangan Bab 6. Upaya pewarisan nilai-nilai pun dapat dilakukan dalam keluarga kita masa kini; misalnya dalam doa bersama, membaca Kitab Suci, Doa Rosario, dan sebagainya. Di waktu lampau, dalam keluarga saya pun dipraktikkan orangtua. Sepulang kerja dan sekolah, ada waktu kebersamaan kami untuk ‘transfer’ pewarisan nilai-nilai antargenerasi. Persekutuan dan komunitas basis yang pertama ada dalam keluarga. Sebab itu, bagaimana mau membangun persekutuan dengan keluarga lainnya, sementara dalam keluarga sendiri belum terbangun persekutuan?!

Saya sependapat dengan bagian pesan Bapa Suci, yakni agar orang tua tidak terus bernostalgia dengan berkurangnya kekuatan fisik serta menyesali kesempatan yang telah berlalu. Hal alamiah kalau kekuatan fisik semakin berkurang dan tidak sekuat dulu. Jangan terus ‘melihat ke belakang’, masa silam. Tataplah masa depan, waktu mendatang. Tentu hal ini juga berguna bagi orang muda masa kini untuk tidak menyia-nyiakan dan membuang waktu yang bermanfaat ini. Kalau tidak, waktu berlalu begitu saja dan tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang muda. Manfaatkan kesempatan seluas-luasnya! Jangan seperti kami, orang tua, yang terlambat menyadarinya. Ini jadi suatu pembelajaran kepada orang muda.

Apa gerakan nyata yang melibatkan kakek-nenek dan para lanjut usia?
Pengalaman di depan mata saya, yakni menyaksikan tiga generasi (3G) bisa kompak bersama beribadah ke gereja, sebagaimana saya alami dan lihat di Pekanbaru: pergi bersama-sama ke gereja. Terlihat kakek-nenek, anak dan cucunya. Terlihat beberapa keluarga secara konsisten melakukannya.
Temuan dan ‘pemandangan’ semacam itulah yang menjadi inspirasi saya untuk mengangkatnya sebagai bahan pembukaan Tahun Keluarga (2022). Tiga Generasi tersebut menjadi contoh untuk memotivasi keluarga-keluarga yang masih bisa ‘mempertahankan’ tiga generasi tersebut guna memberi ‘warna’ bagi keluarga-keluarga yang lain. Tetap bersatu dan akrab, serta bisa dilihat dan dicontohi oleh keluarga lainnya.
Di lain sisi, bersifat kontras, yang pernah saya tangani, pemberkatan pasangan yang melangsungkan pernikahan. Orangtua dari salah satu pasangan ini belum dapat menerima kehadiran dari pasangan anaknya. Sehingga tidak terbentuk 3G, walaupun pasutri tersebut telah dikaruniai anak. Saya berusaha dekati dan damping, serta memberikan saran: berupaya memaafkan dan ampuni kekurangan atas perbuatan atau perkataan yang tidak tepat di hati. Ajakan untuk berdamai antara mertua dan menantu, membangun relasi yang baru dan baik. Bukan maksud anak menyingkirkan mertua, tetapi tak luput dari perlakuan mertua terhadap anak dan cucunya.

Dalam hal ini, saya mesti berimbang saat memberikan nasihat, memberikan pertimbangan rohani dan moral kepada keluarga tersebut. Kepada pihak anak tidak boleh menyingkirkan orangtuanya. Sebaliknya, orangtua pun tidak boleh membatasi diri berelasi dengan anak cucunya. Marilah berkumpul sebagai keluarga besar. Itu yang harus kita serukan terus-menerus kepada keluarga-keluarga. Untuk mencapai kebahagiaan perlu upaya dua pihak, yakni anak-cucu dan orangtua. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *