PADANG – Tongkat Belang dibawa Uncup untuk berburu, Selamat datang Bapa Uskup di Paroki Padangbaru. Begitulah sebuah pantun sambutan oleh Yudi Saptoyo, selaku perwakilan Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Fransiskus Assisi Padangbaru saat Mgr. Vitus Rubianto Solichin berkunjung ke Paroki St. Fransiskus Assisi Padangbaru, Minggu (24/9).

Kedatangan Bapa Uskup disambut umat dengan pengalungan bunga oleh perwakilan pengurus rayon kepada Mgr. Vitus dan tarian tor-tor khas Suku Batak. Dalam agenda kunjungan pastoralnya ini, Bapa Uskup memberkati Patung Pieta yang terletak di sebelah Gua Maria Nirmala dan Gedung Pastoral Paroki yang terletak di samping gedung pastoran. Selain itu, Mgr. Vitus juga menerimakan sakramen krisma kepada 107 orang.

Usai memberkati Patung Pieta, Bapak Uskup memimpin perayaan ekaristi secara konselebrasi bersama para imam lainnya. Dalam homilinya, mengatakan bahwa momen ini merupakan suatu kesempatan istimewa karena perayaan krisma disatukan di pusat paroki. Selain itu, perayaan ini dibuat bersama karena kita mau merasakan gereja yang berjalan bersama. “Suatu undangan bagi kita untuk terlibat dan menyadari perutusan dirinya bersama gereja particular (local) di Padang baru ini dengan gereja sedunia yang sedang berkumpul untuk sinode yang dimulai pada 4 Oktober 2023,” Kata Bapa Uskup.

Terkait Sakramen Krisma yang diterima para peserta, Mgr. Vitus menjelaskan bahwa umat Paroki Padangbaru ini mendapatkan kesempatan khusus karena kita mohon Roh Kudus turun ke atas diri para penerima sakramen krisma sehingga mereka menjadi orang-orang Katolik yang lengkap.
Bapa Uskup juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Gereja itu bukan hanya pastor, suster, Bapa Uskup melainkan kita semua. Mgr. Vitus berpesan agar kita umat berpikir untuk mengambil tanggung jawab. “Kalian adalah Gereja. Kita semua adalah Gereja Umat Allah. Tidak ada yang belakangan dan dahulu, tidak ada senior dan junior. Memang terdapat perbedaan usia dan generasi, namun mereka memiliki semangat yang sama, yaitu semangat misioner. Gereja yang bersinode, gereja yang berjalan bersama, gereja yang bersekutu dan Bersatu, terlibat dan bertanggungjawab, merasa memiliki dan gereja yang bermisi,” kata Mgr. Vitus.

Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah Bapa Uskup bersama para penerima Sakramen Krisma dan tamu undangan. Dalam ramah tamah ini para peserta krisma menampilkan kegiatan hiburan berupa vocal grup, gerak lagu, dan juga membacakan puisi.

Dalam kata sambutannya, Albert Krisdiarto, Ketua Pelaksana Kegiatan ini menjelaskan bahwa 107 penerima Sakramen Krisma ini berasal dari Wilayah 1 dan 2 (28 orang), Stasi St. Ambrosius (31 orang), Stasi Kristus Bangkit (26 orang), kategori umat dewasa (15 orang), dan Seminari Maria Nirmala sebanyak 7 orang. Peserta Krisma sudah mengalami proses pembekalan selama 3 bulan oleh para pengajar di wilayah masing-masing. Selain itu, mereka juga mengikuti rekoleksi dan menerima sakramen tobat sehingga dianggap layak untuk menerima sakramen krisma. “Semoga dengan menerima sakramen krisma, mereka semakin dikuatkan. Untuk para seminari, semakin dikuatkan hati serta imannya agar dapat menerimakan sakramen imamat dan menjadi seorang Pastor,” kata Albert.

Terkait dengan Gedung Pastoral Paroki yang telah diberkati Bapa Uskup, Albert menjelaskan bahwa ruangan tersebut akan digunakan sebagai tempat umat berkumpul. Jadi setelah misa selesai umat tidak langsung pulang melainkan bisa berkumpul dan berbagi cerita satu dengan yang lain di tempat ini sehingga iman dapat berkembang dan semakin kuat. Ada ruangan untuk seksi Komsos, PSE, dan PSKP St. Yusuf cabang Padangbaru di Gedung Pastoral ini
Menambahkan itu, saat kata sambutannya, Pastor Kepala Paroki St. Fransiskus Assisi Padangbaru, Pastor Petrus Hardiyanto, SX. Nantinya di gedung itu akan ada dapur misi. Fungsi dapur misi ini adalah untuk sarana umat berkumpul. Umat bisa berbagi kopi dan minuman lainnya dan bercengkrama bersama di ruangan itu. Ketika hujan, umat bisa beteduh di ruangan itu. Yang memiliki kopi atau teh bisa membawanya ke dapur misi itu sehingga umat bisa duduk bersama dengan santai sambil menikmati minuman itu. Menurutnya, ide-ide cemerlang itu datang bukan dari ruang rapat melainkan dari pembicaraan-pembicaraan kecil seperti itu.
Terkait Patung Pieta yang juga diberkati Bapa Uskup, Pastor Petrus menjelaskan bahwa dengan kehadiran Patung Pieta diharapkan umat mempunyai tempat untuk berdoa. Saya merasakan bahwa di paroki kita terlebih seorang ibu yang anaknya sakit itu banyak sekali terjadi. Jika kita duduk dan merenung di situ dan menyatukan penderitaan yang dialami bersama dengan Bunda Maria, itu akan sangat membantu. Pada Gapura Patung Pieta nantinya akan ditulis “Keheningan yang Berbicara.” “Harapannya ketika berada di tempat itu dapat dirasakan suasana keheningan dan di dalam keheningan itu kita bisa mendengarkan Allah yang berbicara,” Kata Pastor Petrus.
Kepada peserta penerima Sakramen Krisma, Pastor Petrus mengharapkan keterlibatan peserta krisma dalam kegiatan Gereja setelah menerima Sakramen Krisma. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *