Salam belas kasih,
Saudari dan saudara yang budiman, umat se-keuskupan Padang dan para pembaca Gema yang dikasihi Tuhan, “Kita dipanggil untuk bekerja demi pengembangan budaya kehidupan, dengan bersaksi bahwa setiap masa kehidupan adalah anugerah dari Tuhan dan memiliki keindahan dan kepentingannya sendiri, meskipun ditandai dengan kerapuhan.” Dengan kata-kata ini, Bapa Suci kita, Paus Fransiskus dalam audiensinya pada tanggal 16 Oktober 2016, menggambarkan kekayaan yang didefinisikan sebagai “usia ketiga”, kekayaan yang tidak diperhitungkan oleh dunia dengan “budaya sampah” atau “budaya membuang,” sehingga orang cenderung meminggirkan lansia sebagai yang tidak produktif. Untuk mencapai panggilan ini, Bapa Suci mengajak umat Kristiani untuk memerangi budaya membuang, yang menurutnya “berbahaya”, dan berkomitmen “untuk membangun masyarakat yang semakin ramah dan inklusif.”

Budaya Sampah
Dalam budaya sampah, para lansia dikesampingkan dan dibiarkan menderita. Faktanya, banyak sekali orang yang memanfaatkan usia lansia untuk menipu dan mengintimidasi mereka dengan berbagai cara.” Sikap terkait dengan budaya membuang ini adalah drama, yang sering diceritakan oleh media: tentang para lansia yang ditipu “untuk dapat mengambil alih tabungan mereka,” atau “ditinggalkan tanpa perlindungan dan tanpa perawatan,” atau “dihina sedemikian rupa dan diintimidasi hingga menyerahkan hak-hak mereka.

” Bahkan di dalam keluarga, Paus Fransiskus mengeluh, “kekejaman seperti itu terjadi”. Para lansia yang terbuang, ditinggalkan di panti jompo, tanpa anak-anak mereka yang mengunjungi mereka atau jika toh mereka berkunjung, mereka pergi sesekali saja dalam setahun. Orang lanjut usia ditempatkan tepat di sudut keberadaan. Dan hal seperti ini terjadi: hal ini terjadi saat ini, terjadi dalam keluarga, dan selalu terjadi. Kita perlu sungguh-sungguh merenungkan hal ini.

Oleh karena itu, seluruh masyarakat, menurut Paus, “harus bergegas merawat orang-orang lanjut usia, yang semakin banyak jumlahnya, dan seringkali bahkan semakin ditinggalkan.” Ketika kita mendengar tentang orang lanjut usia yang kehilangan otonominya, keamanannya, bahkan rumahnya, kita memahami bahwa ambivalensi masyarakat saat ini terhadap usia lanjut bukanlah masalah darurat yang terjadi sesekali, namun merupakan ciri dari budaya sampah yang meracuni masyarakat, dunia tempat kita tinggal.

Konsekuensi dari hal ini, lanjut Paus Fransiskus, “sangat fatal”. Usia tua kehilangan martabatnya, dan “bahkan ada yang ragu apakah usia lanjut layak untuk dipertahankan.” Oleh karena itu, “kita semua tergoda untuk menyembunyikan kerentanan kita, menyembunyikan penyakit kita, usia kita, usia tua kita, karena kita takut bahwa hal-hal tersebut adalah awal dari hilangnya martabat kita”. Mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah manusia yang menimbulkan perasaan ini? Mengapa peradaban modern, yang begitu maju dan efisien, begitu tidak nyaman dengan penyakit dan usia tua?

Tak Ada Masa Depan Tanpa Lansia
Berbicara kepada lebih dari tujuh ribu perwakilan Asosiasi Nasional Pekerja Lansia (ANLA) dalam pertemuan tersebut, Uskup Roma mengundang kita untuk melihat anak-anak, yang, dengan kepolosannya, mengajari kita pentingnya kakek-nenek. Anak-anak sebenarnya tidak “membuang” kakek-neneknya, tetapi sebaliknya, “mereka sangat dekat dengan kakek-neneknya dan memahami hal-hal yang hanya bisa dijelaskan oleh kakek-neneknya dengan kehidupannya, dengan sikapnya.” Kakek-nenek tidak hanya penting secara emosional, tetapi juga bagi masyarakat itu sendiri: mereka adalah kenangan masyarakat dan masyarakat tidak dapat memiliki masa depan tanpa kenangan.

Bapa Suci menegaskan: “Masa depan suatu bangsa membutuhkan pertemuan antara muda dan tua: generasi muda adalah vitalitas dari suatu bangsa yang bergerak dan para lansia memperkuat vitalitas tersebut dengan ingatan dan kebijaksanaan.” Gereja, pada gilirannya, harus memandang para lansia “dengan kasih sayang, rasa syukur dan rasa hormat yang besar.” Kaum lansia, pada kenyataannya, adalah “bagian penting” dari komunitas kristiani. Dalam kaitannya dengan masyarakat, Paus Fransiskus menjelaskan, para lansia mewariskan nilai-nilai, nilai-nilai yang benar, dan dalam kaitannya dengan Gereja, para lansia mewariskan iman.

Bapa Suci mengingatkan: “Di negara-negara yang mengalami penganiayaan agama yang serius, kakek-neneklah yang mewariskan iman kepada generasi baru yang memimpin anak-anak untuk menerima baptisan dalam suasana sembunyi-sembunyi (klandestin) yang menyakitkan” Kakek Nenek itu memberi kesaksian bahwa, bahkan “dalam pencobaan yang paling sulit sekalipun”, kita “tidak boleh kehilangan iman kepada Tuhan, kita tidak boleh takut kehilangan masa depan yang lebih baik.” Para lansia itu “ibarat pohon yang terus menghasilkan buah: bahkan di bawah beban berat bertahun-tahun, mereka dapat memberikan sumbangsihnya yang otentik kepada masyarakat yang kaya akan nilai-nilai dan penegasan budaya kehidupan.”

Kaum Lansia Mengajarkan Karunia Pemberian Diri
Dalam satu katekese untuk audiensi umum, Paus Fransiskus menggarisbawahi perlunya reformasi peradaban dan politik yang meminggirkan usia tua dan penyakit. Dari orang lanjut usia, kita belajar karunia untuk “memberikan diri kita demi mengurus orang lain, dimulai dari Tuhan sendiri.” Reformasi peradaban modern yang “tidak nyaman dengan penyakit dan usia tua” harus dimulai dari “pengajaran untuk menerima kerapuhan” yang dapat diberikan oleh orang-orang lanjut usia.
Sebuah reformasi yang kini sangat diperlukan karena “marginalisasi usia tua merusak seluruh masa kehidupan”.
Paus Fransiskus menggarisbawahi hal ini dalam katekese kedua belas yang didedikasikan untuk usia paling lanjut dari kehidupan, dengan menegaskan kembali bahwa dari orang lanjut usia kita harus belajar untuk “meninggalkan diri kita sendiri agar dapat merawat orang lain.” Keberanian ini adalah satu karunia.
Bapa Suci mengecam kebijakan politik yang “sangat sibuk untuk mendefinisikan batas-batas kelangsungan hidup yang bermartabat” itu justru “tidak peka terhadap martabat hidup penuh kasih sayang bersama dengan orang tua dan orang sakit”.
“Para lansia, karena kelemahan mereka, dapat mengajari mereka yang menjalani tahapan kehidupan lain bahwa kita semua perlu menyerahkan diri kita kepada Tuhan, untuk memohon pertolongan-Nya. Dalam hal ini, kita semua harus belajar dari usia tua: ya, ada anugerah dalam menjadi tua yang dipahami sebagai menyerahkan diri untuk mengurus orang lain, dimulai dari Tuhan sendiri.” Maka, Paus Fransiskus menyimpulkan, terdapat sebuah “magisterium kerapuhan”, yang tidak boleh disembunyikan, karena “hal-hal tersebut memang benar”, sebuah pengajaran yang dapat diingat dari kaum lansia yang mempunyai kredibilitas sepanjang masa hidup manusia”.

Bapa Suci mengecam kebijakan politik yang “sangat sibuk untuk mendefinisikan batas-batas kelangsungan hidup yang bermartabat” itu justru “tidak peka terhadap martabat hidup penuh kasih sayang bersama dengan orang tua dan orang sakit”.
“Para lansia, karena kelemahan mereka, dapat mengajari mereka yang menjalani tahapan kehidupan lain bahwa kita semua perlu menyerahkan diri kita kepada Tuhan, untuk memohon pertolongan-Nya. Dalam hal ini, kita semua harus belajar dari usia tua: ya, ada anugerah dalam menjadi tua yang dipahami sebagai menyerahkan diri untuk mengurus orang lain, dimulai dari Tuhan sendiri.” Maka, Paus Fransiskus menyimpulkan, terdapat sebuah “magisterium kerapuhan”, yang tidak boleh disembunyikan, karena “hal-hal tersebut memang benar”, sebuah pengajaran yang dapat diingat dari kaum lansia yang mempunyai kredibilitas sepanjang masa hidup manusia”.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *