Marcus Salamanang (70) merupakan suami dari Laurensia Endar Kuswati (alm) dan telah dikaruniai 4 orang anak, namun anak pertamanya sudah meninggal. Marcus memiliki 3 cucu. Marcus tinggal bersama temannya yang memiliki usaha Empek-empek di daerah Jalan Jati No. 82 A Senapelan. Rutinitasnya dihabiskan dengan berkegiatan di rumah saja seperti bangun pagi hari untuk membantu usaha temannya.

Marcus adalah pensiunan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Padang. Dirinya terakhir kali bergabung di Komsos yaitu sekitar 13 tahun yang lalu. Selain rutinitasnya dalam membantu usaha temannya, Marcus juga membuka jasa sebagai terapis. Ia melayani pelanggannya secara langsung maupun terapi jarak jauh. Dirinya telah bergabung dalam kelompok terapis sejak 2006 yang pada saat itu bernama Reiki Tibetan. Awalnya, Markus ragu untuk menjalaninya. Namun, ketika muncul terapi Cahaya Hati Kudus Yesus barulah dirinya mulai menekuni dari tingkat 1 hingga tingkat master. Hal itu bisa digunakannya untuk membantu orang yang membutuhkan seperti sakit demam, sakit perut, sakit kepala dan syaraf kejepit. Marcus mulai aktif di terapi ini pada tahun 2017.

Sebagai lansia yang memiliki 3 anak, Marcus jarang bertemu dengan anak-anaknya. “Kegiataan bersama anak hanya dilakukan sekali-sekali saja karena situasi anak yang berada di Pekanbaru. Anaknya yang nomor dua dan tiga di pekanbaru dan si bungsu di Batam. Saya saat ini, tinggal bersama kawan dan tidak tinggal bersama anak sehingga merasa bahagia saat Perayaan Natal ada kegiatan makan bersama dan kumpul bersama anak-anak terutama ketemu bersama cucu,” ucap Marcus.

Meski waktunya banyak dihabiskan tidak bersama sang anak namun Marcus tidak merasa kesepian karena dirinya menjaga pergaulannya di Pekanbaru. Selain itu dirinya juga serta ikut serta dalam hidup menggereja. Ia menyadari bahwa hal inilah yang membuatnya tidak merasa kesepian, walaupun ditinggal mendiang sang istri 8 tahun yang lalu.
Marcus menghabiskan masa lansianya untuk menolong sesama dengan cara berhubungan sosial dan menjaga relasi dengan menjadikan orang-orang sekitar saudara seiman. Marcus kerap merasa bahagia saat menerapi pasien. “Saya puas jika pelanggan saya mendapatkan kesembuhan. Orang-orang datang kepada saya lalu menyampaikan keluhan-keluhannya seperti kebas-kebas atau gejala struk. Mereka datang untuk diterapi 7 sampai 9 kali. Setelah diterapi secara berkelanjutan kemudian sembuh dari beberapa penyakit lainnya,” kata Marcus.
Dengan pengalaman ini, ia merasa bahwa dirinya berarti dan bermanfaat ketika bisa membantu orang lain.”Bisa memanfaatkan suatu keterampilan yang bisa membantu orang lain dan merasa berguna bagi sesama.

(Marcus Salamanang
Umat Paroki St. Maria A Fatima-Pekanbaru)/olahan wawancara TimGema/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *