Kita kerap mendengar istilah manula (manusia usia lanjut). Dalam ilmu psikologi, manula adalah fase dewasa akhir, di atas usia 60 tahun. Dalam fase ini, terjadi degradasi dan perubahan fisik. Juga muncul penyakit di usia tua. Rambut manula mulai memutih, daya tahan tubuh mulai menurun, muncul keriput-keriput di kulit. Begitupun suasana hati (mood) banyak pengaruhnya, terutama dari sisi psikologis.

Beberapa manula mungkin merasa tenang, karena sudah melewati beberapa masa atau fase kehidupan dengan baik, sehingga bisa menikmati masa tua dengan perasaan lebih senang, hati tenteram. Tetapi, di sisi lain, juga ada kekhawatiran yakni mengenai adanya kematian. Mulailah orang dewasa akhir tersebut mempertanyakan eksistensinya, antara lain: “Apa yang dapat saya lakukan di dunia ini? Apakah saya sungguh bermakna bagi orang lain? Hingga kini, di usia lanjut ini, adakah saya sudah berarti apa bagi orang lain?”

Hal lain yang menarik perhatian terhadap individu manula, bukan soal kelakuan seperti anak kecil melainkan tentang Post Power Syndrome (PPS). Memang, di setiap fase kehidupan manusia, ada pencapaian-pencapaian tertentu. Setiap tahapan kehidupan tersebut selalu diiringi dengan generasi dan lingkungan yang berubah. Tatkala kita beranjak remaja, dewasa, hingga dewasa akhir, dan seterusnya membutuhkan satu adaptasi atau penyesuaian.

Terkait PPS, adalah saat di mana seseorang – menuju dewasa akhir – kurang berhasil beradaptasi dengan lingkungannya. Mungkin, banyak teknologi masa kini yang tidak bisa lagi diikuti individu bersangkutan. Atau, ‘manula’ tersebut mempertanyakan pencapaian-pencapaian yang dialaminya; misal: apa yang telah dilakukan? Apa artinya untuk orang lain? Sehingga individu dengan PPS cenderung suka mengagung-agungkan dan mengungkit-ungkit kejayaannya di masa lampau – yang bisa jadi tidak relevan lagi untuk dunia masa kini. Dalam ilmu psikologi, studi penanganan manula bernama gerontologi.

PPS ditandai dengan individu yang kurang bisa beradaptasi, mudah tersinggung, mudah marah, suka membangga-banggakan diri di masa silam, tidak mau menerima pendapat orang lain, merasa diri paling benar. Bahkan, bersikap destruktif; misalnya kalau orang lain berbicara, individu bersangkutan suka memotong pembicaraan orang lain, sebab yang bersangkutan merasa dirinya lebih penting karena telah mengarungi hidup lebih lama daripada orang lain.

Terkait seksualitas, manula mengalami ‘puber kedua’. Hal ini tidak lepas dari eksistensi dirinya. Tidak heran, bila para manula yang pernah saya temukan kasusnya, cenderung lebih agresif secara seksual. Bahkan, ‘penghuni’ penjara – untuk kasus seksual yang saya tangani – kebanyakan gerontologi. Artinya, kasusnya kasus orang tua. Seolah-olah, yang bersangkutan ingin membuktikan eksistensinya, merasa mampu untuk mendapatkan gadis muda – contohnya, apakah dirinya mampu melakukan hubungan seksual, atau apakah masih mampu ‘menghasilkan keturunan’ pada usia di atas 60 tahun?

Kaum dewasa akhir ini, terutama kalangan lelaki, saya amati di penjara atas sejumlah kasus seksual yang menjerat mereka, terlihat membutuhkan validitas. Mereka mempertanyakan eksistensi diri sendiri dan validitasnya, bahwa mereka masih bisa, layak untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Seakan-akan, mereka ‘menolak tua’ lewat pembuktian-pembuktian tersebut. Bisa juga ada kaitannya dengan penurunan atau degradasi aspek kognitif mereka – kurang bisa membatasi/kontrol diri, sehingga memunculkan sikap dan perilaku agresif dalam hal ketertarikan seksual.

Apa tips untuk anggota keluarga yang telah masuk fase manula? Dalam kehidupan manusia, ada fase kritis. Pertama, tatkala berusia sekitar 25 tahun. Kedua, tatkala berusia di atas 60 tahun. Pada usia 50 tahun hingga 60 tahun, mulai terlihat aneka masalah psikologis gerontologi. Mereka tidak kembali layaknya seperti anak kecil, melainkan pada dasarnya mereka ingin terus terlibat. Karena mereka ingin dianggap ada dalam masyarakat. Ingin menjadi individu yang mesti dipertimbangkan, bahkan diperhitungkan. Sebab itu, anggota keluarga lainnya berusaha memberikan perhatian dan kepedulian pada anggota yang masuk fase dewasa akhir ini. Ajaklah mereka terlibat! Mintalah saran dari mereka. Walau mungkin kita anggap tidak ada kaitan atau relevansinya, meski demikian ada sikap untuk menghargai, menghormati mereka.

Tips lainnya, rangkullah mereka! Kita berikan sentuhan humor agar mereka merasa senang dan bahagia. Jangan lupa, untuk memberi kegiatan rutin harian pada mereka; misalnya olah raga ringan, membaca buku – kita sediakan buku-buku kesukaannya. Atau, ajak mereka untuk berdiskusi mengenai peristiwa aktual atau terbaru. Mereka memang sudah mengalami sejumlah tahapan/fase kehidupan, tetapi tetap sebagai seorang manusia atau individu yang hidup. Walaupun mereka ‘sudah tidak berdaya’ untuk masyarakat, kita harus tetap menghargai mereka dan menganggap mereka bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Bila tidak, mungkin mereka (manusia dewasa akhir) akan mengalami Alzheimer (penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir dan berbicara), Dementia (sekelompok kondisi yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak, seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai. Gejala termasuk mudah lupa, keterampilan sosial yang terbatas, dan kemampuan berpikir sangat terganggu sehingga mengganggu fungsi sehari-hari). Ataupun, emosi yang meluap-luap. Kalau memang terjadi seperti itu, berarti ada sesuatu yang terjadi pada masa hidupnya. Misalnya, ada masalah pekerjaan, keluarga pada masa dewasa (usia 30-50 tahun) yang memunculkan masalah psikologis dan menjadi signifikan/mengganggu kehidupan sehari-harinya. (***)

Diasuh oleh: Theresia Indriani Santoso, S.Psi., M.Si
(Psikolog, Pendiri SMART PSY Consulting Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *