MEMPERTANGGUNGJAWABKAN TITIPAN TUHAN
HARI MINGGU BIASA XXXIII (19 November 2023)
Ams. 31:10-13, 19-20, 30-31; Mzm. 128:1-2, 3, 4-5;
1Tes. 5:1-6; Mat. 25:14-30 (panjang) atau Mat. 25:14-15. 18-21 (singkat)

SEORANG perempuan mengisahkan dirinya saat bercermin. Aku memperhatikan tanda-tanda penuaan yang tidak terelakkan. Bagiku ini sulit diterima dalam budaya yang dibombardir oleh iklan produk perawatan kulit yang mahal yang menjanjikan akan “awet muda” jika menggunakannya.
Para selebritas ada menghabiskan uang dan waktu dalam jumlah besar agar terlihat lebih muda ditawarkan sebagai gambaran kecantikan yang ideal. Tidak heran banyak orang yang merasa buruk tentang penampilan dirinya. Namun adalah fakta, tidak ada orang yang benar-benar awet muda. Faktanya, semua orang akan binasa suatu hari nanti.

Bacaan pertama dari Kitab Amsal hari ini menggambarkan istri dan ibu yang ideal bukanlah yang mengutamakan penampilan luar atau lahiriahnya saja. Akan tetapi, seluruh hidupnya berpusat pada ketakutan yang menghormat kepada Allah, menaruh belas kasihan bagi mereka yang mengalami kekurangan, memiliki kesetiaan dan kasih kepada keluarga mereka. Semua cita-cita mungkin tidak akan digenapi dalam seorang istri atau ibu, tetapi setiap istri bisa berusaha untuk melayani Allah, keluarga, dan sesamanya dengan kemampuan dan sumber-sumber daya yang diberikan Allah kepadanya.

Dalam Injil-Nya, Tuhan Yesus menyapa kita masih tentang kedatangan-Nya kembali ke dunia ini. Pada perikop sebelumnya, Tuhan Yesus mengumpamakan tentang gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh. Pesan dari perikop ini adalah tentang kesiapan dalam menantikan kedatangan-Nya. Kemudian dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan bahwa saatnya akan tiba manusia diperhadapkan di penghakiman-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala yang Tuhan percayakan pada umat-Nya di dunia ini.
Kedatangan Yesus kembali ke dunia ini diumpamakan seperti seorang tuan yang bepergian ke luar negeri dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Ada yang diberikan lima talenta, ada yang dua talenta dan ada yang satu talenta. Masing-masing diberi tanggungjawab sesuai dengan kesanggupannya.
Setelah lama berselang, tuan itu pulang dan melakukan perhitungan atas talenta yang dipercayakan kepada hamba-hambanya itu. Prinsip tuan itu, tidak mau rugi karena kepergiannya ke luar negeri karena hartanya sudah dipercayakan kepada para hambanya. Yang dipercayakan lima memperoleh laba lima lagi, yang dua memperoleh laba dua, tetapi yang diberi satu tetap kembali satu, tidak mendapatkan keuntungan apa pun.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita mau diingatkan oleh bacaan ini bahwa manusia adalah hamba Tuhan yang mendapatkan kepercayaan dengan berbagai macam talenta. Semua orang memiliki talenta, namun memiliki kesempatan yang berbeda dan masing-masing menurut kesanggupannya.
Tuhan itu bukan pilih kasih! Mengapa dia begitu, saya begini! Mengapa orang sana berlebihan sementara saya berkekurangan. Hal yang harus dipahami adalah Tuhan tidak akan memberikan kepada umat-Nya sesuatu yang tidak dapat dipikulnya. Namun kata kunci yang penting dan utama adalah menjadi hamba yang setia. Setiap orang mesti mempertanggungjawabkan apapun yang telah Tuhan titipkan kepadanya.

Jika lebih dalam lagi mau pilah, ada banyak bentuk dari harta yang Tuhan titipkan kepada umat-Nya; hidup, keluarga, anak, harta atau kekayaan, bakat, kemampuan, waktu dan lain sebagainya. Namun apapun itu bentuknya, suatu saat Tuhan akan datang kembali ke dunia ini, dan akan memanggil setiap orang melakukan perhitungan atas apa yang telah dititipkan-Nya kepada setiap pribadi manusia. Apakah kita: “Hamba yang baik dan setia?” atau “Hamba yang jahat dan malas?”
Tuhan menitipkan “harta-Nya” kepada kita bukan hanya untuk dipendam untuk diri sendiri, karena itu bukanlah milik diri, tetapi milik Tuhan. Maka akan tiba saatnya setiap orang mempertanggungjawabkan dalam memperlakukan harta itu menjadi berguna bagi Tuhan dan sesama atau tidak. Tuhan tidak mau jika harta-Nya itu kembali begitu saja atau bahkan hilang, tetapi harus menghasilkan buah. Artinya segala pemberian Tuhan pada seseorang harus berguna untuk kemuliaan nama-Nya dan berguna bagi sesamanya. Yang menjadi ukurannya adalah kesetiaan. Jika kita setia dalam perkara kecil, maka akan setia juga dalam perkara besar. Jika setia pada Tuhan dalam dunia ini, Tuhan juga akan mempercayakan kehidupan yang kekal kepada umat-Nya itu.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *