Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman sebagai tenaga kesehatan di daerah Sagulubbeg (2016-2022) dan Toloulaggo (2022 hingga kini), terutama mengenai kehidupan para manusia usia lanjut (manula) dan penanganan kesehatan terhadap mereka. Dua daerah tersebut terletak di Kecamatan Siberut Barat Daya, Kepulauan Mentawai. Manula atau juga kerap disebut lansia adalah manusia yang telah berusia 65 tahun.

Di Kepulauan Mentawai, mereka dalam kategori lansia ini disebut teteu. Pengertian lain dari teteu adalah sebutan untuk cucu. Di Puskesmas Pembantu (Pustu) Sagulubbeg maupun Pondok Bersalin Desa (Polindes) Toloulaggo ada program kesehatan untuk para lansia. Berkaitan perhatian anak dan cucu kepada lansia, saya mengategorikannya pada dua sisi. Pertama, kondisi lanjut usia dan tidak bisa bekerja/produktif serta menetap pada keluarga inti. Seandainya teteu lelaki meninggal dunia, ada semacam dilema, karena teteu perempuan kembali ke sanak saudara atau keluarga asal maupun sukunya. Atau, lansia bersangkutan tetap ‘diasuh’ atau diurus oleh anak dan cucunya. Maka, hal ini tergantung sepenuhnya pada keputusan teteu perempuan tersebut.

Kedua, kalaulah terjadi perceraian maka semua harta/asset tidak bisa dibawa oleh pihak yang menjadi penyebab perceraian dan bakal terusir dari keluarganya, meskipun yang bersangkutan adalah pihak yang menghasilkan harta/asset tersebut. Situasi ini rentan tatkala individu bersangkutan menua. Dipastikan, tidak ada perhatian dari anak dan cucunya lagi, karena dianggap penyebab perceraian. Itu menjadi salah satu sebab tiadanya perhatian dari anak dan cucu terhadap ‘orangtuanya’ yang telah berusia lanjut.

Saya pernah mendapati satu hal unik di daerah pedalaman Sagulubbeg dalam Uma Sakuddei. Saya berjumpa dengan seorang perempuan lansia, berumur sekitar 70 tahun, yang tidak menikah. Hingga usia tergolong lansia tersebut, dia terlihat masih mampu mandiri, punya peternakan babi. Ia bersedia menjual babinya agar bisa membantu keponakannya yang memerlukan pertolongan. Singkat kata, terdapat banyak ragam, corak kehidupan, dan persoalan yang dialami para lansia

Di Toloulaggo, sejumlah lansia setempat masih tetap mendapat perhatian dan dipedulikan sanak saudaranya, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Terdapat 7 lansia perempuan yang tidak lagi memiliki suami karena telah meninggal dunia. Menyandang status janda. Lansia perempuan tersebut masih diperhatikan oleh kerabat saudaranya (kerabat sukunya sendiri maupun kerabat suami). Namun, harus diakui pula, ada pula sejumlah lansia yang tidak mendapat perhatian sama sekali dari pihak kerabat suaminya. Biasanya, perhatian para lansia oleh anak dan cucu berupa pemenuhan bahan makanan (beras).

Bagi teteu yang masih kuat secara fisik akan masih berupaya untuk mencari bahan makanan sendiri. Lansia ini ingin tetap mandiri meski telah berusia lanjut. Selagi masih kuat dan bisa, lansia tidak mau merepotkan orang lain. Tapi, tidak dipungkiri, ada pula lansia yang terlantar! Tatkala suaminya telah meninggal dunia dan lansia perempuan masih tetap tinggal di rumahnya; ada di antara anaknya yang menganggap ibunya, seorang janda, tidak sah menjadi anggota keluarga. Lantas disuruh kembali ke sukunya. Ada temuan saya dan bertanya pada lansia perempuan tersebut yang menceritakan kondisi yang dialaminya. Saya kasihan juga melihat kondisinya yang tidak mempunyai sumber mata pencarian atau penghidupan. Kalaulah teteu perempuan tersebut diusir dan disuruh kembali ke suku (uma)-nya, tentu saja dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi di usia yang telah uzur. Sungguh miris! Jujur, dalam situasi seperti itu, saya bertanya dalam hati, “Di mana hati nurani kita sebagai anak yang tega mengusir ibunya sendiri?!”
Bagaimana orang Mentawai memperlakukan para orang tua atau lanjut usia? Apakah setelah berusia lanjut, seakan tidak berguna, tidak berdaya akan ‘dicampakkan’ begitu saja? Sebenarnya tidak demikian! Dari pengalaman keluarga saya, kalaupun ayah telah tiada, ibu tetap tinggal bersama kami, atau setidaknya diurus salah satu anak. Mungkin di keluarga lain, beda lagi kondisinya. Ada pandangan lain di tengah masyarakat tertentu bahwa teteu berstatus janda tidak mempunyai hak lagi untuk tinggal bersama keluarga besar uma suaminya.

Ternyata, hal ini terkait dengan besaran mas kawin, mahar (alak toga) di daerah tersebut yang besar jumlahnya dan mahal.
Sebelum pindah dinas ke Toloulaggo, sebagai salah satu anggota Badan Perwakilan Desa/BPD setempat, saya sempat menyuarakan kritik atas peraturan mahar yang mahal ini. Padahal, kita menginginkan adanya kelanggengan perkawinan dan keluarga yang terbentuk. Saya gembira karena usulan revisi berupa pengurangan jumlah mahar dapat diterima, ditanggapi positif. Selama ini, yang terjadi, kalau sang suami meninggal dunia, isterinya bakalan terusir dari keluarga besar uma suaminya. Ada revisi/perbaikan dalam Peraturan Desa (Perdes) yang baru tentang mahar pada tahun 2018.

Aspirasi Lansia
Tentang orang lanjut usia (lansia) yang dianggap atau dipandang sebagai angkatan atau kelompok usia yang tidak ada gunanya lagi, sehingga akhirnya disingkirkan dan tersingkir? Mungkin istilah ‘disingkirkan’ terlalu kasar, vulgar, dan keras kesannya. Namun, bisa jadi, akan ada yang ‘tersingkir’, tidak lagi mendapat perhatian. Kemarin, ada program bantuan gizi yang menurut pengamatan saya kurang tepat sasaran. Karena untuk kategori penerima bantuan terlalu lebar rentang usianya, mulai dari usia 45 tahun. Akibatnya, penerima yang sebenarnya membutuhkan bantuan, karena latar belakang ekonomi sulit, mendapat porsi bantuan yang kecil. Menurut saya, yang tepat sasaran adalah bantuan untuk lansia yang tidak punya suami atau isteri lagi, ekonomi susah, kondisi rumahnya yang memprihatinkan. Bantuan pemberian gizi.

Di sisi lain, para lansia dianggap telah banyak mengecap pahit manis, asam manis kehidupan. Banyak pengalaman hidup dilalui. Bisa menjadi tempat bertanya, meminta nasihat dan pertimbangan tertentu karena dianggap punya kebijaksanaan hidup. Pengamatan saya selama ini, memang ada beberapa orang tua (lelaki dan perempuan) yang dipandang produktif, termasuk pemberi semangat kepada kita yang masih muda. Saat ada persoalan di kampung, merekalah sebagai tempat bertanya dan meminta nasihat. Secara fisik mungkin kemampuan mereka semakin berkurang, namun kebijaksanaan hidup menjadi bahan pelajaran bagi generasi yang lebih muda. Kondisi fisik tidak memungkinkan lagi bekerja keras. Bahkan, ada pula yang sakit. Di Toloulaggo, ada seorang teteu perempuan berusia 80 tahunan dan punya anak yang bekerja di pulau. Hingga kini, teteu tersebut masih mampu berjalan kaki meski terbatas ruang geraknya, namun masih bisa diajak ngobrol dan bersikap kooperatif. Tetapi, tidak sanggup lagi mencari nafkah/penghidupan karena penurunan kekuatan fisik.

Dari pengalaman selama ini, sebagai petugas kesehatan, masalah kesehatan yang kerap dialami oleh para lansia berupa infeksi saluran kemih (ISK), yakni terganggunya sistim pembuangan urine. Kesulitan buang air kecil (BAK). Cukup banyak keluhan dari lansia berupa rematik, pengurangan massa tulang sehingga rapuh dan mudah patah tulang (osteoporosis). Ada pula beberapa lansia mengalami kesulitan dengan sistim pencernaan yaitu BAK dan buang air besar (BAB). Penanganan manula di bidang kesehatan yang mengalami keterbatasan fisik dan diserang berbagai penyakit di kampung berupa pemeriksaan fisik secara rutin, misalnya pengukuran tinggi dan berat badan, tensi/tekanan darah, dsb. Bila ditemukan kasus rematik misalnya, obatnya pun terbatas di puskesmas/pustu/polindes; maka manula diminta dapat melakukan terapi mandiri. Para lansia berjalan di atas kerikil di pagi hari. Itu dapat melatih sistim peredaran darah lansia bersangkutan. Dapat mengurangi rasa nyeri pada rematik. Kalau ada obat, kita berikan yang semampu kita berikan, karena keterbatasan stok/persediaan. Kalau memungkinkan, pihak desa bisa membantu para lansia ini lewat pengadaan obat, memogramkan kedatangan dokter spesialis ke sini pada momen tertentu.

Kepedulian paroki?
Paroki/wilayah/stasi memberikan perhatian terhadap para lansia. Minggu kemarin (1/10), saya berkoordinasi dengan Pastor Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Siberut, Antonius Wahyudianto, SX untuk mendata jumlah lansia di daerah layanan. Pastor menyatakan bakal ada dua kegiatan: (1) misa lansia, (2) bantuan sosial/bansos untuk para lansia. Ada perhatian terhadap mereka yang telah berusia lanjut.
Lewat perjumpaan dengan para lansia (teteu) tersebut, baik di Sagulubbeg maupun Toloulaggo, saya mengumpulkan sejumlah aspirasi mereka. Keinginan mereka sederhana saja: mendapatkan obat yang mujarab atau ampuh atas penyakit yang mereka alami. “Kalau ada obat, berikanlah kepada kami! Kalau ada makanan, bagikanlah kepada kami! Kami sudah tidak kuat lagi bekerja keras seperti sewaktu masa lalu, saat masih muda.” Rata-rata ujaran seperti itulah yang kerap saya terima. Dalam hal pengobatan, mereka tidak bisa membeli obat di apotek – sebagaimana layaknya di kota besar atau setidaknya di ibu kecamatan. Kalau memungkinkan, mereka ingin diperiksa lagi kesehatannya. Memang, selama ini, para lansia yang mengalami kesulitan mendatangi pustu atau polindes, tenaga kesehatanlah yang mengunjungi mereka yang berada di rumah. Hal yang sama juga untuk pelayanan rohani para lansia. Pastor atau petugas pastoral yang ditunjuk mendatangi mereka untuk pemberian Komuni Kudus.

(Leonardus Tatebburuk, A.Md.Kep.
Tenaga Kesehatan Pondok Bersalin Desa/Polindes Toloulaggo sejak awal 2022.
Sebelumnya tenaga kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat/Puskesmas Pembantu Sagulubbeg sejak Februari 2016)/diolah dari wawancara/hrd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *