Artikel/tulisan tentang kehamilan di luar nikah di kalangan anak dan remaja sudah banyak diulas, dibahas. Berbagai analisis pun menyertai dari kasus-kasus yang menyertai. Ada pendapat yang menyatakan hamil di luar nikah dipengaruhi oleh beberapa faktor; meliputi kurangnya pendidikan seks atau pengetahuan seputar kesehatan reproduksi, sikap permisif dalam lingkungan pergaulan, dampak negatif kemajuan teknologi, pengaruh teman dan pola asuh orang tua (Ismarwati & Utami, 2017).

Berikut cuplikan pemberitaan tentang hamil di luar nikah pada anak dan dispensasi pernikahan – yang sempat menghebohkan – merupakan ‘fenomena gunung es’. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur melansir data yang mencengangkan. Ada 15.212 permohonan dispensasi pernikahan dengan 80 di antaranya karena pemohon telah hamil. Pengadilan Tinggi Agama Semarang Jawa Tengah juga mencatat ada 11.392 kasus dispensasi nikah di Jawa Tengah selama tahun 2022. Sebagian besar disebabkan hamil di luar nikah. Data yang sama juga didapatkan di Lampung dengan 649 kasus dan kota Bima NTB 276 kasus.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati menyatakan prihatin dengan maraknya fenomena dispensasi pernikahan, karena hamil di luar nikah. Good Mention Institute yang dikutip dalam laporan estabillity tahun 2022 menyebut angka kehamilan yang tidak diinginkan di Indonesia antara tahun 2015 hingga 2019 mencapai 40 persen dari jumlah kehamilan.

Kurniasih menyebut jumlah tersebut cukup tinggi dengan hampir separuh angka kelahiran di Indonesia ternyata kehamilan yang tidak diinginkan. “Ini menjadi keprihatinan kita bersama di mana angka dispensasi pernikahan karena hamil di luar nikah sangat tinggi. Ada banyak yang menjadi korban, sebab mayoritas kehamilan yang tidak diinginkan bisa berujung aborsi. Sementara jika berlanjut ke jenjang pernikahan ada banyak ketidaksiapan di sana,” sebut Kurniasih dalam keterangannya, Kamis (2/2/2023).

Bagi pasangan yang belum siap menikah dan hamil, kehamilannya bisa mengakibatkan bayi stunting jika tidak ditangani dengan baik. Jika mentalnya belum siap juga akan bisa memicu konflik rumah tangga yang berujung pada angka perceraian. BKKBN seharusnya, ucap Kurniasih, bisa lebih menggencarkan gerakan Generasi Berencara (GenRe) sampai level desa. Sebab, tidak bisa dipungkiri saat ini kasus-kasus dispensasi pernikahan karena hamil di luar nikah banyak terjadi di pedesaan.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi angkat bicara terkait ratusan pelajar di Ponorogo, Jawa Timur yang hamil di luar nikah. Menurutnya, perkara ini harus menjadi perhatian bersama karena kehamilan usia remaja dapat berdampak buruk terhadap tumbuh kembang mereka.

“Menjadi perhatian kita bersama tentunya baik orang tua, dan sekolah serta tentunya alim ulama. Pernikahan dini tentunya akan berdampak terhadap kesiapanan remaja baik secara mental maupun fisik,” jelas Nadia kepada CNBC Indonesia, Minggu (15/1/2023).
Dari aspek fisik, jelas Nadia, mungkin saja tubuh mereka sudah siap mengandung, namun bagi remaja seusia itu, mereka dapat dipastikan belum siap secara mental. Oleh karena itu, menurutnya para ‘korban’ perlu mendapatkan bimbingan pranikah dan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan mereka baik-baik saja.

“Organ reproduksi sudah siap, tapi secara mental untuk kehamilan remaja SMP dan SMA belum siap. Oleh karena itu, tentunya bimbingan pra nikah dan pemeriksaan kesehatan perlu diikuti pada remaja yang menikah dan hamil di luar nikah,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Nadia mengatakan orangtua berperan penting untuk membantu anak dalam kondisi ini dengan tidak melekatkan stigma.

Orangtua perlu memastikan agar mereka mendapatkan akses layanan kesehatan termasuk antenatal care (ANC) sebanyak 6 kali, mengetahui cara merawat anak, memberikan nutrisi untuk diri dan anaknya, dan akses layanan keluarga berencana (KB).

Sebagaimana dilansir dari DetikNews, Minggu (15/1/2023), 266 remaja berstatus pelajar SMP dan SMA di Ponogoro, Jawa Timur mengajukan dispensasi nikah di Kantor Pengadilan Agama. Berdasarkan informasi Humas Pengadilan Agama Sukahata Wakano, dari ratusan perkara tersebut rata-rata jenis perkaranya adalah hamil di luar nikah (65%). “Dari sekian perkara ini rata-rata adalah hamil duluan. Usianya bervariasi, ada yang berusia 17 tahun, 18 tahun, bahkan juga ada 15 tahun,” ungkapnya.

Respon Orangtua
Kru GEMA mengadakan survei kecil-kecilan dengan mengajukan pertanyaan, “Apa yang dilakukan bilamana suatu waktu puteri kesayangan Anda yang masih SMP atau SMA mengaku telah berbadan dua/hamil?” Muncul beberapa tanggapan dari beberapa facebookers kru GEMA. “Sebagai orangtua, saya pasti marah, kesal! Saya marah karena sang anak sudah tidak berlaku baik kepada orangtuanya dan Tuhan. Juga, saya marah pada diri sendiri, karena merasa tidak mampu mendidik anak dengan baik dari pergaulan bebas. Dari kejadian semacam itu, juga menjadi pelajaran bagi saya selaku orangtua agar tidak salah mendidik anak,” tulis Jegus Sageileppak, warga Paroki St. Damian Saibi Samukop, Siberut Tengah, Mentawai.

Salah satu facebookers asal Paroki Payakumbuh – yang tidak bersedia dituliskan namanya – menuturkan, “Jujur, tidak ada satu pun orangtua yang menginginkan kejadian aib tersebut. Namun, bila hal itu terjadi, pertama-tama, saya lakukan adalah mengoreksi diri. Kenapa? Hal itu terjadi tidak lepas dari kelalaian orangtua mendidik dan mengawasi anak tersebut. Selanjutnya, bila memang bisa dipertanggungjawabkan oleh pasangannya, akan saya nikahkan anak tersebut. Bila tidak ada pertanggungjawaban, maka jalur hukum harus ditempuh! Putri saya dan calon bayinya akan kita rawat.”

Yustiman Siribere, salah satu umat Paroki Stella Maris Betaet, Siberut Barat, Mentawai menyatakan, “Sebagai orangtua, tentulah saya menginginkan anak selalu dalam keadaan baik. Kalau mengetahui ada hal buruk yang menimpa anak, kita pasti merasa kesal, kecewa, bahkan marah; apalagi kalau hal buruk tersebut disebabkanb oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab. Kalau itu terjadi, saya akan mencari pelakunya dan minta pertanggungjawabannya. Bahkan, bila tidak berhasil mendapati pelakunya, saya akan melaporkannya kepada pihak berwajib untuk diproses melalui jalur hukum. Saya ingin menemukan akar permasalahannya. Namun, itu pun tidak cukup karena tidak akan memecahkan persoalan, bahkan bisa justru memperkeruh keadaan.”

Yustiman menyambung, “Dari pada mencari penyebab masalah, lebih baik mencari solusi masalah, yakni: mendekati anak agar merasa aman dan terlindungi, memotivasi anak agar tidak merasa malu dan putus asa berkepanjangan. Juga, berbicara lemah lembut kepada anak dan mengajak berkomunikasi dari hati ke hati. Satu lagi, untuk sementara waktu, hindarkan anak-remaja dari kumpulan orang sampai dirinya cukup stabil kejiwaannya.”

No Abortion!
Respon orangtua pada umumnya sama. “Marah, kecewa, malu, dan merasa gagal mendidik anak,” ungkap Mikael Saibuma, salah satu warga asal Saliguma, Siberut Tengah, kepada kru GEMA. Seorang ibu rumah tangga asal Paroki Santo Paulus Pekanbaru, juga facebookers kru GEMA, Maria Stefani Emma Yunara menanggapi pertanyaan, “Pertama, sebagai seorang ibu, saya pastilah kaget luar biasa! Bagaimana tidak, anak perempuanku tersayang mengaku hamil. Ya, seperti disambar petir di siang bolong. Saya pasti akan menangis kuat dan bertanya ‘mengapa bisa terjadi begini, Nak? Siapa yang melakukannya pada dirimu?’”
Maria melanjutkan perkataannya, “Saya akan meminta puteriku untuk menceritakan kejadian yang dialaminya dengan sejujur-jujurnya. Tidak ada satu pun yang disembunyikan. Selanjutnya, bersama dengan keluarga besar, saya membahas persoalan ini, bersama dengan keluarga pihak pria. Yang pasti, saya tidak meminta puteriku menggugurkan kandungannya dan segera mengambil jalan terbaik untuk menikahkan mereka secara Katolik, walau terbatas di kalangan intern keluarga besar kami dan pria.”
Memang, sambung Maria, untuk sementara waktu puterinya keluar dari sekolah hingga bayinya lahir. “Setelah itu, barulah ambil Paket B (untuk tingkat SMP) atau Paket C (untuk tingkat SMA). Sambil puteriku belajar mengurus buah hatinya yang tidak berdosa. Saya berupaya menasihati secara keibuan agar tidak terjadi yang tidak diinginkan; misalnya upaya coba bunuh diri. Intinya, yang sudah terjadi, tidak mungkin tidak diselesaikan. Dilakukan dengan kepala dingin dan jiwa besar. Saya juga mengingatkan saudaranya yang lain agar tetap menyayangi adik atau kakaknya yang telah melakukan kesalahan fatal. Saya berusaha tetap mendampingi puteriku walau sangat berat karena persoalan ini,” ungkap Maria.
Facebookers lainnya dari Bukittinggi, Mesriana Nainggolan mengatakan, “Seandainya puteri kesayangan saya mengaku telah berbadan dua/hamil, jujur, saya sebagai seorang ibu merasa sangat terpukul dan kecewa berat dengan kejadian ini. Seolah-olah, saya tidak dapat menjaga puteri-puterinya sehingga terjebak dalam pergaulan bebas. Jika, kenyataan yang mesti dihadapi demikian, saya akan ‘berdamai’ dengan keadaan terlebih dulu. Selanjutnya, yang pasti, saya meminta pertanggungjawaban pihak laki-laki untuk menikahi puteri saya. Yang terpenting, ‘no abortion’, tidak boleh ada pemikiran untuk menggugurkan kandungan!” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *