TELUK KUANTAN – Dekrit Uskup, Wali Gereja Katolik Keuskupan Padang Sumatera Barat dan Riau Daratan Nomor 174/Skep/KP/D.12.3.14./IX/2023 tanggal 30 September 2023 (selengkapnya lihat box!) menyatakan “Pendirian Secara Kanonis Paroki Santo Antonius Padua Teluk Kuantan”. Terhitung 1 Oktober 2023, Teluk Kuantan ‘naik status’ menjadi paroki. Sebelumnya, selama tujuh tahun berstatus sebagai kuasi paroki.
Pembacaan Akta Pendirian Paroki oleh Pastor Paroki Teluk Kuantan , P. Sergius Wijaya, OFMCap dalam Perayaan Ekaristi yang dipersembahkan selebran utama, Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin, Minggu (1/10).

Sejumlah imam ikut dalam Perayaan Ekaristi monumental ini, diantaranya P. Selestinus Ivan Manalu, OFMCap. (Minister Provinsial Ordo Kapusin Provinsi Medan), P. Conrad Situmorang, OFMCap. (Gardian Komunitas Kapusin Airmolek), P. Sergius Wijaya, OFMCap. Sekitar seribu lima ratusan umat mengikuti Perayaan Ekaristi yang berlangsung di bawah tenda yang panas akibat terik matahari dan musim kemarau yang berkepanjangan.

Disebut Perayaan Ekaristi yang monumental, karena selain pendirian resmi paroki, juga berlangsung tiga peristiwa penting, yakni: (1) pendirian resmi Komunitas Kapusin Teluk Kuantan oleh Minister Provinsial Ordo Kapusin Provinsi Medan, (2) penerimaan Sakramen Krisma/Penguatan bagi 41 orang, (3) pelantikan Dewan Keuangan Paroki.

Dalam homili, Bapa Uskup menyatakan bahwa Santo Antonius Padua adalah orang kudus yang kerap dimintai bantuannya untuk menemukan sesuatu yang hilang, termasuk orang yang hilang. “Saya percaya, kelak atau nanti, di paroki ini akan terus berbenah dan membangun, masih belum mencapai kerinduannya – seperti umat yang kehilangan gereja. Kelak, umat akan menemukan gerejanya. Marilah kita berdoa dan berharap, Santo Antonius Padua akan mendoakan kita, menjadi penyemangat bahwa suatu ketika umat yang berkumpul di tenda akan menemukan Tuhan,” ucap Uskup Vitus.

Pada bagian lain homilinya, Bapa Uskup mengungkap bahwa dengan adanya Komunitas Kapusin di Teluk Kuantan, maka umat dijamin selalu mendapat pelayanan pastoral. “Itulah komitmen dari para pastor Ordo Kapusin Provinsi Medan. Dengan adanya komunitas, selalu ada, minimal tiga orang imam Kapusin. Diharapkan, kelak, bakal viral panggilan dikalangan orang muda untuk menjadi Kapusin.

Tentu saja, diharapkan, ada juga panggilan anak muda di paroki ini untuk menjadi imam diosesan Keuskupan Padang. Kita mohonkan rahmat Roh Kudus untuk memberkati keluarga-keluarga dengan kesehatan, rezeki, serta anggota keluarga yang mungkin ada yang terpanggil menjadi gembala umat. Supaya ada pastor-pastor dan suster-biarawati yang akan meneruskan karya pelayanan Kerajaan Allah di masa mendatang,” tandas Bapa Uskup.

Terkait pendirian Komunitas Kapusin Teluk Kuantan, Minister Provinsial Ordo Kapusin Provinsial Medan – P. Selestinus Ivan Manalu, OFMCap. – menyatakan, “Semua saudara Kapusin yang bertugas di Paroki Santo Antonius Teluk Kuantan, secara hukum, tidak lagi menjadi anggota persaudaraan setempat Airmolek yang selama ini menjadi komunitas yuridis para Saudara yang berkarya di wilayah Paroki Taluk Kuantan. Para saudara Kapusin di Taluk Kuantan menjalankan hak dan kewajiban sebagai saudara Kapusin, sesuai dengan Konstitusi Dina Kapusin dan Statuta Ordo Kapusin Provinsi Medan, serta peraturan lain yang berlaku dalam Persaudaraan Ordo Kapusin Provinsi Medan.”

Minister Provinsial P. Selestinus I. Manalu menambahkan, “Sejak pendirian komunitas Kapusin ini, maka secara hukum dan faktual, para Saudara yang tinggal di Komunitas Kapusin Teluk Kuantan diutus untuk menjalankan tugas reksa pastoral di Paroki Santo Antonius Padua Teluk Kuantan, seturut penugasan Uskup Keuskupan Padang dan sejalan kesepakatan kerjasama antara Ordo Kapusin Provinsi Medan dengan Keuskupan Padang. Persaudaraan setempat Santo Antonius Padua Teluk Kuantan terhitung sebagai anggota baru dalam Regio Kapusin Riau yang mempunyai hak dan kewajiban seperti Persaudaraan Kapusin di tempat lain di regio-regio Kapusin Provinsi Medan.”

Di penghujung Perayaan Ekaristi, saat pengumuman, berlangsung serangkaian kegiatan, yakni: (a) penyerahan buku sejarah dan kolase kepada Bapa Uskup, Provinsial, Pembimas Katolik Provinsi Riau, dan Perwakilan Gardian Komunitas Airmolek oleh pastor paroki. Pastor Sergius menyampaikan permohonan maafnya atas segala ketidaksempurnaan buku terbitan edisi perdana ini. “Semoga buku ini dibaca yang menjadi bagian catatan sejarah Paroki Teluk Kuantan yang terdiri dari kata-kata dan gambar berkaitan perjalanan sejarah paroki. Penghargaan kepada para tokoh dan kelompok kategorial yang pernah ambil bagian dalam sejarah paroki ini sedari awal. Saya berterima kasih kepada pihak penyusun buku ini,” ucapnya.

Tak Ada Tetesan Air Mata
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, dalam sambutannya, selain menyampaikan ucapan selamat atas peresmian paroki, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Riau, Alimasa Gea mengatakan momen ini dapat menjadi ajang kegembiraan karena kehadiran kita di tengah bangsa dan negara ini. “Kita perlu menunjukkan identitas kepercayaan kita, yaitu Katolik. UUD 1945 pasal (1) dan (2) mengamanatkan pemerintah untuk dapat menjamin setiap penduduk untuk menganut agama dan kepercayaan, serta menjalankan ibadah atas agama dan kepercayaannya. Sebab itu, kita tidak ragu-ragu menjalankan peribadatan kita, baik pada hari Minggu, hari-hari tertentu, apalagi pada hari raya!” ungkap Gea.

Ditambahkannya, “Dalam judul besar ‘moderasi beragama’ – awalnya digagas Kemenag RI tahun 2017 – sekarang diambil oleh pemerintah secara keseluruhan dengan terbitnya Perpres No. 58 Tahun 2023. Bagaimana semua instansi pemerintah menjalankan moderasi beragama! Moderasi beragama bukan berarti memoderatkan agama, melainkan pola pikir (mindset) atau cara pandang dan bersikap kita untuk memahami totalitas mengenai apa yang kita imani. Sebagai umat Katolik, kita melaksanakan amanat 100% Katolik dan 100% Pancasila.”

Di kesempatan yang sama, tatkala perwakilan Gardian Komunitas Airmolek, P. Conrad Situmorang, OFMCap menyampaikan sambutannya, “Biasanya saat perpisahan, orang yang saling mengasihi akan meneteskan air mata. Tetapi tidak untuk hari ini. Komunitas Airmolek ‘mekar’ menjadi dua. Tetapi ada tetesan air mata, sebaliknya senyum dan kegembiraan. Kita bersyukur pada Tuhan atas peresmian kuasi paroki jadi paroki – oleh Bapa Uskup – serta pendirian Komunitas Persaudaraan Kapusin di Teluk Kuantan – oleh Minister Provinsial. Terima kasih kepada Bapa Uskup yang mengabulkan permintaan umat untuk pendirian paroki, serta provinsial yang mendengarkan rengekan kami di lapangan. Semuanya bertujuan agar pelayanan pastoral semakin optimal dan semakin dekat dengan umat.”

Masih pada kesempatan yang sama, Minister Provinsial Ordo Kapusin Provinsi Medan, P. Selestinus Ivan Manalu, OFMCap menegaskan bahwa Ordo Kapusin hadir di Keuskupan Padang untuk melayani! “Maka, di hadapan Bapa Uskup, bagi para Saudara Kapusin di Keuskupan Padang, saya mau mengatakan – sebagaimana juga disampaikan kepada Saudara Kapusin di tempat lain, seperti tugas perutusan yang diterima, bahwa “carilah dulu Kerajaan Allah, maka yang lain akan ditambahkan kepadamu!” Kita sangat percaya dengan hal demikian,” ucap P. Selestinus.

Melanjutkan sambutannya, P. Selestinus mengatakan, “Bila benar kita mencari Kerajaan Allah di sini, pada waktu yang tepat juga, gereja sebagai gedung yang kita rindukan akan kita peroleh. Terima kasih atas kerjasama, terutama atas kepercayaan yang besar dari Keuskupan Padang kepada Kapusin Provinsi Medan untuk ambil bagian dalam pewartaan Kerajaan Allah di wilayah ini. Tanpa butuh waktu lama setelah mendengar usul dan pendapat bahkan ‘rengekan’, kami memutuskannya sebab Teluk Kuantan ini secara kekapusinan sesuai bagi kami yang dilayani. Satu penghayatan yang diberikan kepada kami: bilamana di suatu daerah orang tidak suka atau tidak mau melayani; maka Kapusinlah yang pertama ke sana. Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa Teluk Kuantan tidak diterima oleh tarekat atau diosesan, tetapi dari kekapusinan banyak hal yang sesuai dengan keputusan kami untuk mendirikan komunitas Kapusin di sini, terutama dari segi geografis dan dinamika umat yang sangat beragam.” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *