Orangtua mana pun tentulah sangat menginginkan, mendambakan anak dan remajanya bisa bertumbuh kembang dengan baik. Maka, perlu usaha maksimal agar keinginan dan dambaan tersebut tercapai, terutama dalam kerangka pembentukan karakter dan pola pikir anak-remaja. Salah satunya adalah memberikan pendidikan (edukasi) mengenai seks sejak masa kecil kepada anak. Tujuannya, tentu saja bukan untuk memicu anak dan remaja mengarah pada hal-hal negatif; namun sebagai upaya pencegahan (preventif) agar terhindar dari seks bebas dan beragam kejahatan seksual.

Hanya saja, selama ini, masih banyak di kalangan orangtua yang menganggap tabu untuk membicarakan seks dengan anak. Mereka takut dan merasa topik tersebut tidak etis untuk dibicarakan. Padahal, dengan memberikan pendidikan tentang seks, justru akan melindungi mereka dari fenomena pergaulan bebas yang saat ini sedang marak.
Pendidikan seks (sex education) mempelajari beragam aspek, tidak hanya terkait sisi biologi dan sosial, tetapi juga mengajarkan aspek moral, budaya, hukum, dan psikologis. Tujuan utama pendidikan seks, menurut Halstead & Reiss, adalah menumbuhkan perilaku positif, membentuk sikap dan refleksi kritis dalam pengalaman hidup. Tujuan ini menjadi efektif, tercapai, jika dibarengi dengan lingkungan dan pola pikir (mindset) orangtua yang mendukung.

Dalam menyampaikan perihal seks kepada anak, terlebih pada siswa sekolah dasar (SD), diperlukan cara yang khusus agar tepat sasaran. Daya pemahaman mereka tentu sangat berbeda dengan siswa SMP dan SMA; bahkan orang dewasa. Orangtua maupun guru dituntut kreatif dalam memberikan edukasi/pendidikan seks.
Terdapat tiga cakupan penting yang terkandung dalam pendidikan seks. Pertama, penyuluhan atau sex information. Cakupan ini memberikan penjelasan aktivitas seks secara benar dengan memperhatikan tingkatan usia. Ada keterangan mengenai aspek biologis dari fungsi reproduksi yang meliputi anatomi dan fisiologi. Kedua, pengajaran atau instruction yang memuat tentang contoh-contoh serta himbauan yang perlu diterapkan pada anak berkenaan dengan seksualitas. Ketiga adalah pendidikan atau education in sexuality yang meliputi aspek agama, moral, sosial, etika serta pengetahuan lain yang berkaitan.

Mesti Diterapkan!
Tatkala dihubungi, Kepala SD Negeri 02 Matotonan, Siberut Selatan, Mentawai, Aloysius Samonganuot berpendapat bahwa pendidikan seks bagi murid sekolah dasar (SD) mesti diterapkan! “Agar sedari dini, anak didik mendapat pengetahuan dan pemahaman yang memadai. Inilah bekal bagi anak menuju alam kedewasaan kelak. Penerapannya di lingkungan sekolah lewat sosialisasi bagi warga belajar, sehingga mereka tahu bahaya maupun kerugian yang ditimbulkan akibat dari perbuatan atau perilaku seks yang tidak semestinya. Mampu menjaga dirinya sendiri dengan baik,” ucap Aloy.

Tidak hanya bagi warga belajar, sambung Aloy, sosialisasi juga dapat diberikan kepada warga masyarakat. “Agar masyarakat mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anak mereka. Upaya ini mendapat dukungan sepenuhnya dari warga masyarakat. Dalam pemikiran masyarakat, anak tidak selalu bersama orangtuanya setiap saat, sehingga perlu dibekali sosialisasi. Dengan demikian, anak bisa memahami dan menjaga dirinya di masa mendatang. Anak pun bisa mewujudkan cita-citanya,” ungkap Aloy lagi.

Dihubungi terpisah, Kepala SD Tirtonadi Padang, Theresia, S.Pd. berpendapat, “Pendidikan seks sangat penting, karena anak-anak harus tahu masa mendatang yang akan mereka jalani. Dengan demikian, setelah masa anak-anak, mereka siap memasuki masa remaja yang penuh dengan hal-hal positif dan negatif. Selain itu, mereka tahu batasan susila dan asusila! Selain itu, yang pasti, mereka juga tahu menjaga dirinya dari hal-hal negatif maupun godaan yang bisa membuat hidup mereka jadi tidak berguna. Manfaat lainnya, supaya tahu merawat diri di masa remaja. Mereka pun sadar kalau mereka diingatkan orangtua maupun guru mengenai pendidikan seks, itu berarti tanda sayang orangtua dan guru,” ucap Theresia.

Akar Permasalahan
Bila ada di antara warga belajar yang mendapat pelecehan seksual, menjadi korban, Theresia menambahkan, penanganannya dengan cara mendekati anak tersebut secara persuasif. “Untuk menemukan akar permasalahannya, membantu anak bersangkutan keluar dari trauma yang dialami. Kami menghubungi orangtua dan instansi tertentu untuk mendapatkan solusi. Agar warga belajar bersangkutan mampu keluar dari masalah pelecehan,” tukas Theresia lagi.

Masih berandai-andai, tentang penanganan yang dilakukan bila ditemukan ada di antara warga belajar yang melakukan pelecehan seksual, Theresia mengungkap pihaknya bakal menganalisa perilaku warga belajar tersebut di sekolah selama ini, serta melihat latar belakang keluarganya. “Untuk mencari tahu dan akar masalah warga belajar bersangkutan melakukannya. Yang pasti, kami akan memanggil warga belajar bersangkutan untuk ditanyai. Dengan demikian, kami dapat menganalisa bentuk pelecehan yang dilakukan.

Kalau memang fatal, kami akan memanggil orangtua bersangkutan. Pada warga belajar tersebut juga akan dilakukan pendampingan dan pembinaan. Bahkan, kalau perlu berupa penanganan khusus, dicarikan solusi serta penanganan jalan keluar akibat perbuatannya,” tandas Theresia

Perlu dan pentingnya pendidikan bagi warga belajar SD juga disampaikan Wakil Pelaksana Kegiatan Yayasan Pendidikan Murni Padang, Paula Lindawati, S.Pd. “Sebenarnya, pendidikan anak dimulai dari dalam keluarga. Di sekolah pun, pendidikan seks bisa disampaikan kepada anak, bahkan sedari taman kanak-kanak (TK). Kepada anak diajar tentang lawan jenis, hal-hal tabu atau terlarang serta tidak boleh dilakukan. Anak tahu bagian tubuhnya sendiri yang tidak boleh dilihat, dipegang/diraba orang lain. Tentu saja, muatan pembelajaran SD lebih meningkat ketimbang TK. Penyampaian pun dengan bahasa yang dimengerti warga belajar,” kata Paula.

Setelah belajar perbedaan lelaki dan perempuan, sambung Paula, warga belajar SD mengenal perubahan-perubahan fisik yang dialami anak, misalnya menstruasi yang dialami anak perempuan. Kepala TK Murni Padang ini juga tidak menampik bila adanya ketertarikan warga belajar SD terhadap lawan jenis. “Saya pikir dan anggap masih dalam batas normal. Diakui, anak masa kini cepat sekali memahami sesuatu yang baru, apalagi dengan situasi perkembangan teknologi komunikasi yang canggih. Tayangan film yang menampakkan anak berpacaran turut mendorong penontonnya pun meniru, walau sebenarnya belum begitu memahami arti pacaran. Yang pasti ada adalah soal ketertarikan pada lawan jenis. Tak heran muncul ujaran ‘dia adalah pacar saya’. Padahal yang sebenarnya adalah persahabatan dan sekedar tertarik pada lawan jenisnya. Mirip dengan tontonan,” ungkap Paula.

Orangtua Mesti Adaptif
Paula tidak memungkiri adanya keterkejutan tersendiri di kalangan orangtua yang mendapat ‘pengakuan polos’ anak SD-nya yang sudah pacaran. Ada juga orangtua yang berpandangan ‘kolot’ meski sedang berada di zaman now. “Orangtua zaman kini pun mesti adaptif, mengikuti perkembangan zaman. Sehingga, di rumah pun, orangtua perlu mengingatkan anaknya tatkala berhadapan dan bergaul dengan lawan jenis. Itulah, bagaimana pun juga, pendidikan paling dasar bermula dari keluarga!” tandasnya.

Paula mengaku sekolah memang memberikan pengajaran, terutama dalam konteks pergaulan, namun tidak bisa melarang anak bergaul dengan siapa saja. “Maka, kalau ada ketertarikan pada lawan jenis, dianggap biasa saja di masa kini. Di kalangan anak SD mungkin muncul ujaran ‘cie … cie …!’ Boleh dikatakan sebatas ‘cinta monyet’. Malah, akan berbahaya bila ada warga belajar yang suka pada sesama jenis. Tentu saja, guru mesti selalu mengingatkan anak yang mulai mengalami perkembangan fisik menuju masa pubertas. Maka, saya kira, pendidikan seks bukan lagi menjadi hal tabu. Karena kalau tidak dari kita sebagai orangtua dan guru, dari siapa lagi sumber pengetahuan dan pemahaman mereka?! Salah satu upaya antisipasi pelecehan seks di kalangan warga belajar SD adalah dukungan orangtua untuk tidak lalai menjemput anaknya pulang sekolah, selain itu di berbagai sudut lingkungan sekolah terpasang sejumlah kamera CCTV,” ucap Paula bersemangat.

Guru senior di lingkungan TK Yos Sudarso dan SD Yos Sudarso Padang, Mariella Naningsih menyatakan pendidikan seks bagi warga belajar tingkat SD harus dibicarakan! “Lebih berbahaya kalau anak tahu dari pihak atau orang lain yang belum tentu terarah. Kiranya hal ini mesti juga disadari orangtua yang masih menganggap tabu membicarakan topik pendidikan seks bagi pelajar SD. Lebih baik anak tahu dari orangtua dan gurunya ketimbang teman-temannya sendiri. Memang, belum semua orangtua mempunyai alur pemikiran sama dengan saya ini. Bahkan, boleh dikatakan, seiring waktu dan perkembangan zaman, pendidikan seks bagi peserta didik usia SD menjadi satu keharusan.

Mantan guru di TK Kuntum Mekar dan SD Fransiskus Bukittinggi ini memberikan contoh konkrit tentang pendidikan seks di lingkungan sekolah adalah pemisahan kamar kecil (WC – Water Closet) berdasarkan jenis kelamin: WC Pria dan WC Wanita. Seingat Bu Ningsih saat pertama kali mengajar di SD Fransiskus Bukittinggi (1987), pendidikan seks untuk murid perempuan diberikan pengarahan oleh suster. 

Untuk murid lelaki oleh guru lelaki. “Saat itu, terpisah antara murid kelas IV-VI perempuan dengan murid kelas IV-VI lelaki. Menurut saya pribadi, di masa kini pun, cara yang digunakan di masa silam dapat digunakan pada langkah pertama. Untuk langkah selanjutnya bisa bergabung saat mata pelajaran disampaikan guru,” ucapnya.

Guru TK Yos Sudarso Padang ini menganggap pemahaman dan pendidikan seks tidak hanya berfokus saat anak di tingkat kelas IV-VI SD, melainkan bisa dimulai tatkala taman kanak-kanak (TK) hingga kelas III SD, dinamakan kelas rendah. Lewat materi “Diriku” di TK dan SD kelas rendah, memuat hal pengenalan diri yang bisa dibawakan dengan cara bernyanyi, cara yang sederhana namun mengena. Anak memahami bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain misalnya. “Mudah-mudahan lewat upaya yang dilakukan, warga belajar tingkat SD terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya tidak menjadi korban maupun pelaku pelecehan seks. Perlu kerja sama orangtua dan guru. Di rumah, dalam pertemuan keluarga atau perjumpaan antaranggota keluarga, serta percakapan santai, dari hati ke hati, bisa menjadi kesempatan pembelajaran bagi anak. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *