“Dengan berkarya puisi , saya ingin memperkenalkan bahwa Tuhan itu baik, tidak peduli kamu seorang pendosa atau bukan,” ucap Markus Tiopan Manogari (29). Pemuda yang akrab disapa Markus atau Manogar ini merupakan seorang penyair asal Stasi St.Stevanus Zamrud, Paroki St. Yohanes Pembaptis Perawang.

Markus merupakan anak pertama dari 7 orang bersaudara dari pasangan Sabam Siburian dengan Rosmauli br. Pasaribu. Alumni SMAN 2 Dayun ini mengaku sudah tertarik dan mulai menulis puisi sejak kelas II SMA. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang penulis dan telah menerbitkan beberapa buku. Buku pertamanya berjudul Catatan Dalam (April 2023) dicetak sebanyak 10 eksemplar dan buku keduanya berjudul Pujangga Tak Menemukan Pulang (Agustus 2023) dicetak sebanyak 100 eksemplar. Pada buku keduanya, Markus telah mendistribusikannya ke biara-biara, biarawan-biarawati dan teman-teman terdekatnya. Harga bukunya Rp 70.000,00 / buah.

Pujangga Tak Menemukan Pulang ini ditulisnya berdasarkan pemahamannya terhadap Kitab Kidung Agung. Ia berkesan dengan kitab ini karena isi seperti seseorang yang sedang dalam pencarian ketika membacanya dan akhirnya ditulisnya dalm bentuk puisi sehingga bisa diterima oleh pembaca yang beragama selain katolik. Menurutnya, pembaca berhak menafsirkan puisinya berdasarkan latar belakangnya masing-masing.
Setamat SMA (2012), Ia merantau ke Jambi selama 10 tahun guna bekerja. Saat itu Markus mengaku jika dirinya sempat kehilangan minat untuk menulis akibat kesibukan bekerja. Pada 2021, Markus mulai membangkitkan kembali minatnya dalam menulis puisi dengan cara memposting karya puisinya di akun facebook pribadinya (Markus Tiopan Manogari). Dari pengalam bermedia sosial ini akhirnya Markus terus berkaya dan mengembangkan bakatnya hingga saat ini. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *