SETIA DALAM BERJAGA-JAGA
HARI MINGGU BIASA XXXII (12 November 2023)
Keb. 6:13 -17; Mzm. 63:2, 3-4, 5-6, 7-8;
1 Tes. 4:13-18 (panjang) atau 1Tes. 4:13-14 (singkat)
Mat. 25:1-13

KETIKA akan melakukan perjalanan jauh, apalagi sampai berhari-hari, umumnya kaum perempuan lebih sibuk melakukan persiapan dibandingkan kaum lelaki. Persiapan umumnya sekitar persiapan keperluan pribadi menyangkut mandi, cuci, kakus (MCK), busana, dan bekal makanan dan minuman. Aneka persiapan itu dilakukan semata-mata agar perjalanan dan semua acara atau kegiatan lancar,  tanpa kendala.

Injil hari Minggu ini, dalam perumpamaan Yesus tentang kerajaan surga, diceritakan ada 10 gadis yang sedang menanti-nantikan kedatangan mempelai pria, supaya mereka bisa mengiringkan mempelai pria pergi menjemput mempelai perempuan. Persiapan yang dilakukan gadis-gadis tersebut tidak sama. Lima gadis membawa pelita dengan ekstra botol minyaknya, sedangkan lima gadis yang lain hanya membawa pelita saja tanpa botol minyak cadangannya. Kelima gadis tanpa botol minyak tersebut, tampaknya tidak mengantisipasi kemungkinan keterlambatan atau ketertundaan kedatangannya mempelai pria. Mereka mungkin berharap mempelai pria segera datang, namun ternyata tidak. Saat mempelai datang, pelita mereka tidak bisa menyala karena kehabisan minyak. Lima gadis yang bijaksana mengantisipasi keterlambatan/penundaan kedatangan mempelai pria dengan membawa bekal minyak.

Apa yang membedakan mereka? Kesetiaan berjaga-jaga dalam proses penantian tersebut. Gadis-gadis yang bijaksana dalam berjaga-jaga memiliki kepekaan dan kesetiaan yang lebih baik daripada gadis-gadis yang bodoh. Penundaan atau keterlambatan kedatangan mempelai pria tidak akan mempengaruhi kondisi mereka. Kapan pun mempelai pria datang, mereka tetap bisa siap setiap saat. Mereka stand by menyambut kedatangan mempelai pria, kapan pun waktunya.

Apa yang ingin disampaikan Yesus melalui perumamaan ini? Siapapun yang ingin masuk ke Surga Kerajaan dan menyambut-Nya, harus menyatakan setia dan kesiapansediaannya.
Kesetiaan dan kesediaannya ini tidak bisa dititipkan begitu saja. Harus dinyatakan secara pribadi.
Keengganan gadis-gadis bijaksana untuk berbagi minyak kepada gadis-gadis bodoh, bukan untuk mengambarkan, misalnya, kepelitan dan pementingan diri sendiri gadis-gadis bijaksana ini.
Perumpamaan ini memang sengaja diceritakan begitu oleh Yesus, justru untuk menekankan aspek tanggung jawab pribadi dan kesetiaan pribadi dalam berjaga-jaga menyambut Kerajaan Surga ataupun karya penyelamatan Allah yang melimpahkan kepada manusia.

Keselamatan diri bergantung pada diri kita sendiri, tidak bergantung atau mengikut saja orang lain. Orang Jawa memiliki ungkapan yang dekat dengan hal ini, yaitu: “swargo nunut, neraka katut” (ke surga menumpang, ke neraka terbawa). Ungkapan ini ditujukan untuk menggambarkan posisi isteri terhadap suaminya. Keselamatan istri bergantung pada suaminya. Hal demikian tentu saja tidak sesuai dengan pesan Injil  hari ini. Untuk masuk Kerajaan Sorga setiap pribadi manusia memiliki dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Tanggung jawab ini tidak bisa diserahkan atau dipindahtangankan kepada orang lain. Dengan kata lain, surga atau nerakanya seseorang bergantung pada dirinya sendiri. Orang yang setia, bijaksana,  dan bertanggung jawab akan mendapatkan ganjaran keselamatan yang dijanjikan Allah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *