(Disampaikan pada Misa Hari Minggu Biasa XXVI, 1 Oktober 2023)

“TANPA DOA TIDAK SINODE”

Para Ibu dan Bapak, saudari dan saudara yang budiman,
Para Pastor, Suster, Bruder, Frater, kaum muda, remaja dan anak-anak,
seluruh umat Keuskupan Padang yang terkasih dalam Kristus

1. Umat Allah telah mulai melangkah bersama, sejak pada tanggal 10 Oktober 2021 Paus Fransiskus mengundang seluruh Gereja untuk melaksanakan Sinode (Instrumentum Laboris, 1). Dalam kenangan penuh rasa syukur, pada hari Minggu itu juga, kita merayakan bersama Misa Pontifical Uskup Padang yang baru. Ajakan Paus telah menjadi titik berangkat yang baik sekali untuk memulai program pastoral Gereja Keuskupan Padang yang mau ikut serta dalam gerak sinodal Gereja Semesta. Sekarang kita sampai pada langkah fundamental lain dari proses yang telah dimulai dengan berkonsultasi pada umat Allah. Beberapa hari lagi, pada tanggal 4 Oktober, Bapa Suci akan membuka sessi pertama Sidang Umum Biasa yang ke-16 dari Sinode para Uskup yang bertema “Menyongsong Gereja yang sinodal. Persekutuan, Partisipasi, dan Perutusan.” Mengambil inspirasi dengan menerjemahkan Surat Sekretaris Umum untuk Sinode, Kardinal Mario Grech, kepada para Uskup, saya menyapa Anda sekalian dengan Surat Gembala ini.

2. “Tanpa doa tidak akan ada Sinode” (Paus Fransiskus, Ujud Doa untuk bulan Oktober 2022). Sinode pertama-tama adalah saat berdoa dan mendengar yang tidak hanya melibatkan para anggota Sidang Sinodal, tetapi juga seluruh orang yang dibaptis di setiap Gereja Lokal. Kita, semuanya, dipanggil pada saat ini untuk bersatu dalam persekutuan doa dan dalam permohonan terus menerus untuk kedatangan Roh Kudus agar menuntun kita dalam penegasan arah ke mana Tuhan menghendaki Gereja-Nya untuk pergi dewasa ini. Sebagai “asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gereja setempat” (LG 23) dan sebagai animator doa umat Allah yang dipercayakan kepada saya, saya mengajak semua umat Keuskupan Padang untuk “dengan tekun” berdoa (Kis. 12:5) bagi Bapa Suci, Paus Fransiskus dan bagi seluruh anggota Sidang Sinodal. Doa adalah satu bentuk partisipasi setiap uskup pada karya kolegial dan tanda kepedulian yang nyata terhadap Gereja universal (bdk. Apostolorum successores, 13).

3. Doa terungkap dalam berbagai bentuk. Di dalamnya berbagai dimensi kehidupan Gereja sinodal diungkapkan dengan cara yang khas. Pertama-tama, berdoa adalah mendengar. Dengan membuka proses sinodal, Bapa Suci telah menyatakan: “Sinode menawarkan kepada kita kesempatan untuk menjadi Gereja yang mendengar: untuk beristirahat sejenak dari kesibukan kita, untuk mengurangi kegelisahan pastoral kita dan berhenti untuk mendengarkan” (Roma, 9 Oktober 2021). Langkah pertama dalam doa adalah mendengar Sabda Allah, mendengarkan Roh Kudus. Sumbangan pertama setiap umat yang dibaptis bagi kelangsungan Sinode adalah itu, mendengarkan Sabda Allah dan Roh Kudus dalam kesadaran bahwa suara Roh itu mutlak (sine qua non) perlu bagi tubuh gerejawi.

4. Aspek kedua dari doa adalah adorasi. Bapa Suci menyatakan: “betapa rindunya kita akan doa adorasi dewasa ini! Banyak orang kehilangan bukan hanya kebiasaan, tetapi juga pemahaman akan apa artinya menyembah” (Roma, 9 Oktober 2021). Sesudah mendengarkan, ada keheningan yang mengundang adorasi karena terpesona akan apa yang Allah katakan pada Gereja-Nya dan apa yang Roh Kudus dewasa ini bangkitkan di dalamnya. Proses sinodal sampai sekarang ini membawa kita kepada kekaguman, pada pertobatan dari cara memandang kita yang penuh kesedihan dan kemarahan (bdk. Luk. 24:17) menjadi perutusan yang gembira dari mereka yang menemukan kehadiran Kristus yang bangkit dalam diri mereka (bdk. Luk. 24:33).

5. Aspek ketiga dari doa adalah perantaraan. Kita harus percaya akan betapa manjurnya doa untuk yang lain. Itu tidak berarti memaksakan kehendak kita sendiri kepada Allah, melainkan berarti memohon kepada Tuhan untuk menerangi hati kita dengan kekuatan Roh Kehidupan-Nya, agar kita bisa mengenali dan melaksanakan kehendak-Nya. “Menjadi perantara” berarti mengambil alih, menyatakan partisipasi kita di hadapan Allah, keterlibatan kita untuk ikut menjunjung beban. Menjadi perantara juga berarti: “Saya tertarik, saya ikut…. itu tugas saya!” Berdoa untuk Sidang sinodal, berdoa untuk semua anggotanya, pertama-tama Bapa Suci yang sering meminta kita untuk berdoa baginya, berarti melaksanakan tindakan partisipasi yang tertinggi.

6. Akhirnya, saudara-saudari yang terkasih, doa adalah ucapan syukur dengan mengakui tindakan Allah dan rahmat-Nya yang mendahului semua usaha kita dalam hidup komunitas kristiani. Bapa Suci menyatakan: “doa syukur selalu mulai dari sini: pengakuan akan rahmat yang selalu lebih dahulu. Kita sudah direncanakan sebelum kita belajar berpikir; kita sudah dicintai sebelum kita belajar mencintai; kita sudah dirindukan sebelum keinginan muncul di hati kita” (Audiensi Umum, 30 Desember 2020). Doa syukur adalah satu sebuah “terapi” nyata untuk membuat kita beralih dari sikap menarik diri ke dalam diri kita sendiri menuju keterbukaan terhadap penemuan tentang apa yang terus Tuhan kerjakan dalam Gereja-Nya.

7. Saudara-saudari yang terkasih, dengan doa yang mendengar, doa adorasi, doa perantaraan, dan doa syukur, seluruh komunitas gerejawi akan hadir dalam kekuatan Roh, pada Sidang sinodal sebagai peristiwa yang menyangkut semua orang yang dibaptis. Pada tanggal 1 Oktober ini, pesta St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, pada Hari Minggu Biasa XXVI (tahun A) ini, saya mengundang Anda semua untuk berdoa bagi para bapak uskup dan semua anggota Sidang sinodal yang berkumpul di Roma, dengan mendoakan rumusan Doa Umat dan Berkat Akhir Perayaan Ekaristi seperti yang telah disiapkan dalam lampiran. Semoga Roh Kudus menerang kita dan senantiasa menuntun kita di jalan kehendak-Nya, karena Sabda-Nya sajalah yang membuat kita hidup (bdk. Mzm. 119:50) dan hanya di dalamnya kita menemukan sukacita kita.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *