HARI MINGGU BIASA XXIII

MINGGU BULAN KITAB SUCI NASIONAL

Pekan Biasa (06 September 2020)

Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9;

Rm. 13:8-10;

 

DALAM BACAAN pertama hari Minggu ini, Allah menekankan kembali bahwa Yehezkiel harus menjadi nabi yang setia kepada bangsa Israel. Yehezkiel harus memperingatkan mereka untuk berbalik dari dosa dan menerima keselamatan Allah. Ada dua pesan yang ingin disampaikan oleh Tuhan melalui Yehezkiel. Pertama, Tuhan memberikan kesempatan pemulihan kepada bangsa Israel yang berada di Yerusalem bila mereka bertobat. Namun kenyataannya mereka menolak tawaran itu dan tetap berkeras hati, bahkan menyalahkan Tuhan. Mereka sombong karena menganggap akan memiliki tanah Yerusalem selama-lamanya, padahal telah melakukan kekejian yang dahsyat.

Kedua, suatu peralihan kesempatan. Tuhan memberikan hak pemulihan,  bukan kepada mereka yang berada di Yerusalem, tetapi kepada mereka yang berada di pembuangan. Hanya orang-orang yang bertobat dan kembali pada Tuhan yang mendapatkan pemulihan. Tuhan tidak menyukai orang yang menganggap remeh firman-Nya. Pertobatan sejati tidak cukup mendengar firman Allah, tetapi menuntut perubahan sikap dan hidup.

Pada bacaan kedua, Santo Paulus mengajarkan arti kasih dan kekudusan. Hukum Taurat diberikan bukan untuk membatasi kebebasan manusia. Hakikat Hukum Taurat adalah kasih, bukan membatasi kehidupan manusia. Iman Kristiani tidak memisahkan kasih dan kekudusan. Kasih sangat penting sehingga orang Kristen selalu berhutang kepada Allah sehingga dituntut menunjukkan kasih kepada sesama. Demikian juga dengan kekudusan, sehingga Santo Paulus menasihati  jemaat di Roma untuk segera melaksanakannya.

Untuk mencapai kekudusan atas dasar  kasih, Santo Paulus menegaskan bahwa hidup itu selalu ada dua kemungkinan, seperti malam dan siang, kegelapan dan terang. Perilaku malam (gelap, tidak baik) yang harus ditanggalkan antara lain: kemabukan, pesta pora, dosa seksual, perselisihan, iri hati, dan keinginan dagingan lainnya. Kita harus mengenakan Yesus (hidup dalam terang), yaitu hidup sopan dan kudus. Kata “menanggalkan” dan “mengenakan” menunjukkan bahwa orang Kristen tidak dapat hidup di dalam daerah yang abu-abu. Orang Kristen harus menanggalkan kegelapan dan hidup dalam terang. Kasih dalam iman Kristen tidak membawa manusia kompromi dengan dosa. Kasih sejati berjalan bersama kekudusan.

Injil hari ini mengajak kita untuk memahami dan mendengar gema peng­ampunan di tengah dendam. Pelampiasan dendam semakin sering mewarnai pemberitaan di surat kabar, media sosial, dan televisi. Nada ketidakpuasan, iri hati, kekecewaan, sakit hati, dan kehilangan, bagai api menyulut bensin mendasari pelampiasan dendam tersebut. Masyarakat kadang yang mudah digiring untuk melakukan aksi balas dendam.

Di tengah kondisi yang diliputi rasa balas dendam ini masihkah semangat pengampunan bisa diperdengarkan? Gema dan semangat pengampunan harus terus diperdengarkan, karena tidak akan luntur ditelan zaman. Kondisi zaman kini menjadi tantangan tersendiri untuk menggemakan semangat pengampunan.  Masih banyak jiwa yang tersesat yang harus dibawa-Nya pulang atau diselamatkan. Jiwa tersesat itu seperti perumpamaan Yesus tentang seekor domba yang hilang. Semangat peng­ampunan itu tidak mengabaikan hal-hal yang kecil. Satu ekor domba saja dianggap penting dan berharga, maka mesti dicari dan diselamatkan. Ini membuktikan bahwa misi penyelamatan itu tidak pernah pudar, karena satu jiwa pun sangat berharga di mata-Nya.

Tuhan tidak meremehkan atau mendiskriminasi seorang manusia pun, karena setiap jiwa yang tersesat akan dicari dan dibawanya kembali pulang. Dalam hal mengampuni kesalahan sesama, tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkannya, karena segala kesalahan kita sudah diampuni oleh Allah. Jika Allah telah menganugerahkan pengampunan kepada kita; maka kita tidak berhak menahan pengampunan bagi sesama yang bersalah pada kita.  Peng­ampunan antarsesama, bukan berdasarkan kebaikan, kemurahan hati, kesabaran, dan belas kasih kita kepada orang lain, tetapi karena anugerah pengampunan-Nya telah dinyatakan terlebih dahulu kepada kita. Hutang kita telah dilunaskan, masihkah kita menuntut orang yang telah memohon pelunasan hutangnya? Adakah kita lebih besar dan lebih berkuasa dari Tuhan? ***